
Danzel mengangguk tanpa rasa berdosa. “Boleh aku memberimu satu nasihat?”
“Apa?”
“Jangan terlalu baik dengan orang lain, kau akan dimanfaatkan oleh mereka, dan kau sendiri yang akan rugi nantinya.”
“Orang baik tak akan pernah memiliki alasan untuk berhenti melakukan kebajikan, sekalipun kepada orang yang sudah jahat dengannya,” tutur Gwen begitu lembut. “Jika joker mengatakan, orang jahat adalah orang baik yang disakiti. Bagiku tidak. Dia hanya menutupi sisi jahatnya dan menggunakan rasa sakit hatinya sebagai alasan menunjukkan sikap buruknya. Setiap orang memiliki sifat baik dan buruk, aku pun tak seistimewa yang kau pikirkan,” jelas Gwen panjang lebar agar Danzel tak menghakiminya.
Danzel tak bisa berkata apa-apa lagi. Penjelasan Gwen memang cukup menohok dan ada benarnya juga. Bagaimana dia tak semakin menaruh rasa pada Gwen jika seperti itu.
__ADS_1
Rasanya Danzel ingin memeluk wanita yang dia cintai, membisikkan kalimat manis dan berakhir di ranjang panas. Tapi ia sadar diri jika belum memiliki ikatan dan hati Gwen juga belum miliknya. Sehingga hanya ulasan senyumlah sebagai pujian darinya untuk seorang Gwen Eisten.
“Aku semakin kagum denganmu, Gwen,” jujur Danzel dengan matanya yang terlihat jelas penuh cinta. Ia kian mengikis jarak dengan sekretarisnya itu. Mengelus rambut yang halus dengan perlahan. “Bisakah suatu saat nanti kau menjadi milikku? Istri idamanku semuanya ada dalam dirimu,” gumamnya. Menatap lekat manik abu-abu gelap di hadapannya.
Gwen menggeleng lemah, sejujurnya dia ingin mengangguk, tapi dia masih memiliki suami. “Aku sudah memiliki anak. Lebih baik carilah wanita lajang yang bisa memberimu kenyamanan.” Ia mengelus lengan Danzel sangat lembut. “Masih banyak orang baik di luar sana yang cocok menjadi istrimu.” Kakinya mengayun menuju pintu ke dalam apartemen, perlahan dia menjauh dari Danzel.
“Apakah artinya aku ditolak?” tanya Danzel. Ia memutar tubuh untuk melihat punggung Gwen yang kian meninggalkannya. “Aku bisa menerima semua kekuranganmu, bahkan dua anakmu akan aku anggap seperti darah dagingku sendiri,” tuturnya. Dia bicara dengan nada biasa saja, karena jaraknya tak terlalu jauh.
“Pantas tidaknya, bukan kau yang menentukan, Gwen.” Sorot mata Danzel mengunci manik indah wanita yang dia cintai, namun kakinya perlahan maju. Meraih tangan mulus yang halus untuk dia genggam. “Kita coba jalani hubungan ini sampai kau bisa membalas perasaanku,” pintanya.
__ADS_1
“Kenapa kau keras kepala sekali?”
“Aku pernah terluka satu kali. Dahulu aku memiliki kekasih, tapi direbut oleh seorang pria, aku dijebak olehnya agar kekasihku membenciku. Banyak wanita yang setiap hari dikenalkan padaku, tapi hatiku justru bergetar saat bersamamu.” Danzel sedikit menceritakan masa lalunya, berharap Gwen bisa memahami perasaannya. “Bantu aku mengubur rasa sakitku,” pintanya. Tangannya memegang pipi yang dipoles dengan bedak tipis.
“Bagaimana jika kau terluka karena aku?”
“Maka selamanya aku akan menutup diri dari namanya cinta.” Danzel berusaha membujuk Gwen agar mau menerimanya.
Gwen menggelengkan kepalanya. “Jangan pertaruhkan masa depanmu demi aku.”
__ADS_1
“Bagiku kau yang paling pantas untuk menjadi ibu dari anak-anakku.” Danzel memberanikan diri untuk mengecup kening Gwen. “Tolong jangan tutup hatimu, biarkan aku masuk ke dalam dan membuktikan bahwa aku layak menjadi pengganti papa anak-anakmu.”
Jantung Gwen berdebar tak karuan. Danzel sungguh pandai sekali membuatnya tersentuh dengan perhatian, kelembutan, dan ketulusan yang diberikan. “Biarkan waktu yang menjawabnya.”