My Poor Secretary

My Poor Secretary
Part 77


__ADS_3

Danzel tersenyum lebar sampai menunjukkan rentetan giginya. Pria memang berbeda jika sudah menemukan wanita yang cocok. Dia biasanya datar dan cenderung tak suka jika orang lain banyak ingin tahu tentang kehidupannya. Tapi lain hal jika bersama Gwen. Dia akan merasa disayangi dan diperhatikan walau sekedar pertanyaan saja.


“Dia akan menjadi bodyguardmu,” jelas Danzel. Tangannya tak mau berhenti untuk mengelus permukaan kulit yang halus milik Gwen.


“What?” pekik Gwen, wajahnya melongo akibat sangat terkejut dengan informasi yang baru saja dia dengar. “Kenapa kau memberiku bodyguard?” tanyanya.


Danzel menatap lekat wajah wanitanya, berangsur meraih jemari lentik milik Gwen. Meninggalkan kecupan di sana dan kembali menghiasi korneanya dengan raut cantik sang sekretaris. “Aku ingin berjaga-jaga jika suatu saat nanti akan ada hama yang mengganggumu,” jelasnya.


“Hama?” tanya Gwen dengan raut wajahnya bingung. “Memangnya aku tumbuhan sampai ada hama yang menyerang?”


Danzel terkekeh lucu dengan kebingungan wanitanya. Mengusap lembut rambut panjang terurai berwarna cokelat yang halus dan indah. “Karena kau adalah orang yang aku cintai, sudah pasti akan ada saja orang yang tak suka padamu dan berniat buruk. Mencelakaimu, mungkin. Atau anak-anakmu,” tuturnya mencoba menjelaskan situasi yang akan sewaktu-waktu dialamni Gwen sebagai seseorang yang berharga dalam hidup CEO Patt Group.

__ADS_1


“Kalau begitu, jangan mencintaiku!” pinta Gwen. Dia tak mau berada dalam situasi sulit, hidupnya sudah cukup melelahkan. Kalau ditambah harus menghadapi masalah baru, bisa membuatnya pusing tujuh keliling.


Danzel tak senang mendengar ucapan Gwen. Bibirnya tanpa permisi langsung mengecup milik wanitanya yang begitu menggoda. Lidahnya mencoba meberobos masuk rongga mulut sekretarisnya. Dan memperdalam ciumannya agar Gwen tak mengeluarkan kata-kata yang menyakiti hatinya.


Sial! Gwen tak bisa menolak sensasi yang mengenakkan itu. Lama sekali dia tak merasakan ciuman panas seperti ini. Tangannya justru melingkar di leher Danzel dan membalas hingga keduanya merasa gerah.


Danzel seperti mendapatkan angin surga dunia saat aksinya dibalas, ia justru kian nakal. Tangannya mencoba membuka kancing kemeja yang membungkus dua buah kenyal, menantang, dan ingin sekali disesap.


Danzel buru-buru menjauhkan wajahnya dari Gwen, membalikkan kursi agar dua bocah kecil itu tak melihat belahan dua gunung milik wanitanya. “Tutup dulu kemejamu,” bisiknya.


Gwen buru-buru mengancing kemejanya yang sudah terlepas tiga di bagian atas.

__ADS_1


“Sepertinya aku harus mengungsikan anak-anak Gwen jika ingin bercinta dengan wanitaku,” gumam Danzel. Kakinya mengayun mendekati Selena dan Aldrich.


Danzel merendahkan tubuhnya, mengelus puncak kepala dua calon anak sambungnya. “Kalian ingin makan apa?” tanyanya.


“Apa saja, uncle. Yang penting cepat,” jawab dua bocah itu.


“Oke, kalian tunggu saja di kamar uncle, ya? Nanti akan diantar.” Danzel pun mengantarkan lagi Selena dan Aldrich ke kamar tempat istirahatnya. Menutup pintu rapat dan membiarkan keduanya menikmati televisi di dalam sana.


Danzel kembali menemui Gwen setelah menelepon bagian dapur untuk membawakan makan ke ruangannya.


“Kau itu tak tahu tempat sekali, untung mereka tak melihat kita sedang berbuat yang aneh-aneh,” protes Gwen mencubit lengan atasannya.

__ADS_1


“Itu adalah hukuman untukmu karena sudah sembarangan berbicara,” terang Danzel. Hukuman macam apa yang mengenakkan seperti itu. “Melarangku untuk mencintaimu adalah sesuatu yang tak mungkin terjadi,” imbuhnya.


__ADS_2