My Poor Secretary

My Poor Secretary
Part 7


__ADS_3

Danzel menarikkan satu kursi untuk Selena duduk. Bocah itu sedari tadi terlihat menundukkan kepala tak berani menatap Alcie.


“Kalian pesanlah makan dulu, aku akan ke toilet sebentar,” pamit Danzel yang sudah tak tahan menahan urine.


Tak perlu mendapatkan izin dari Alcie ataupun Selena, Danzel pun meninggalkan kedua orang itu.


Kepergian Danzel membuat Selena semakin menundukkan kepalanya. Dia takut dengan sorot mata Alcie yang seperti valak.


“Heh! Kenapa kau bisa datang ke sini dengan calon suamiku?” tanya Alcie dengan menendang kaki kursi yang diduduki Selena.


Wanita angkuh itu kenal betul dengan Selena. Tentu saja karena dia pernah memiliki hubungan dengan papa bocah itu.


Selena hanya menjawab dengan gelengan kepala tanpa mengeluarkan suara, dia enggan memberikan informasi. Dan membuat Alcie geram.


“Kau bisu, ya?!” sentak Alcie. Tangannya meraih dagu Selena dan mendongakkan wajah mungil yang imut itu agar menatap ke arahnya. “Kalau ditanya tuh jawab!” omelnya begitu galak.

__ADS_1


“A—aku hanya diajak oleh uncle Danzel ke sini,” jawab Selena dengan sedikit meringis karena pipinya saat ini tengah dicengkeram oleh Alcie.


“Kenapa kau bisa kenal dengannya?”


“Ta—tadi aku hampir ketabrak mobilnya, da—dan uncle Danzel mengajakku ke sini.”


“Pulang, sana! Kau itu mengganggu kencanku saja!” usir Alcie seraya melepas kasar tangannya hingga kepala Selena tersentak ke kiri.


Namanya anak kecil, tentu saja takut jika dimarahi dan diperlakukan kasar seperti itu. Selena menangis dalam diam, cukup air matanya sebagai bukti jika dirinya merasa sakit hati akan perlakuan Alcie padanya.


Selena menyeka air matanya dengan ujung pakaian berlengan panjang yang dia pakai.


“Ingat, jangan sampai kau mengganggu acara kencanku ini! Dan awas saja kalau sampai mulutmu itu membocorkan informasi tentangku!” Dari bawah meja, Alcie menendang kaki Selena hingga bocah itu meringis.


Kedua wanita beda generasi itu memang saling kenal. Tentu saja Sanchez—papa Selena yang memperkenalkan keduanya. Sanchez secara langsung menunjukkan pada keluarganya jika memiliki selingkuhan yang kala itu baru saja melahirkan putranya sebelum pria tersebut masuk penjara.

__ADS_1


“Apa kau menakutinya?” tanya Danzel saat sampai di mejanya dan melihat Selena yang menunduk layaknya padi yang berisi. Sorot matanya begitu tajam menatap Alcie. Kesan pertamanya pada wanita itu begitu buruk.


“Tidak, aku tak mengajaknya berbicara sedikit pun. Mungkin dia pemalu,” elak Alcie. “Coba kau tanya saja padanya jika tak percaya,” imbuhnya.


Dan Danzel pun sungguh bertanya pada Selena.


Reflek Selena langsung mengangguk, tapi sedetik kemudian dia tersadar karena keceplosan dan mencoba memberanikan diri menatap mata Alcie. Ia mendapatkan pelototan dari wanita medusa itu.


“Ti—tidak, dia tak menakutiku.” Selena menjawab pertanyaan Danzel dengan suara lirih dan terbata-bata.


Danzel tak langsung percaya begitu saja dengan ucapan Selena. Dia yang kini duduk menatap bocah itu pun melirik ke arah Alcie dengan ekor matanya. Kepalanya menggeleng merutuki wanita yang berdandan menor dan tebal tersebut.


“Maaf, sepertinya aku tak bisa melanjutkan makan malam denganmu.” Belum juga mereka memesan hidangan, Danzel sudah memutuskan untuk meninggalkan Alcie. Dia tak suka dengan wanita medusa itu yang terlihat tidak menyukai anak kecil.


Danzel bisa menilai hal tersebut dari gerak gerik Selena yang tak nyaman di sana. Biasanya, anak kecil akan senang dengan siapa pun jika orang itu memang penyayang anak.

__ADS_1


__ADS_2