
“Kenapa kau terlihat tegang?” bisik Gwen yang belum sempat melihat orang yang memanggil Danzel. Suara wanita tadi juga tak begitu jelas akibat sahut-sahutan dengan karyawan yang sedang mengobrol sembari menunggu lift.
“Aku takut, tadi ku dengar ada suara siluman ular.” Danzel yang menggendong Aldrich pun memeluk tubuh Gwen dari samping dan mendaratkan kepalanya di pundak wanita yang dia cintai itu. Dia seolah menunjukkan ketakutan, padahal hanya modus saja.
“Ehem!” Tiga belas karyawan di dalam lift itu berdeham bersamaan. “Lift berasa milik CEO, dan yang lain hanya menumpang,” kelakar mereka yang menyaksikan kemesraan pimpinan Patt Group itu. Ternyata dibalik ketegasan seorang Danzel Pattinson ketika rapat, ada sisi manja jika dengan wanita yang dicintai.
“Memang ini lift milikku,” sahut Danzel menjulurkan lidahnya mengejek karyawannya.
“Oh, iya. Anda benar juga, Tuan. Kalau begitu, kami saja yang keluar karena tak ada yang bisa dipeluk juga,” seloroh salah satu karyawan.
Dan lift pun berhenti di lantai sepuluh di mana tempat tujuan Danzel. “Kalian di sini saja, aku yang keluar,” tukasnya agar yang lain tetap di dalam lift.
Danzel melingkarkan tangannya di pinggang Gwen, menuntun wanitanya untuk keluar.
“Tuan, lain kali undang kami jika menikah ...!” seru karyawan tadi bersamaan sebelum pintu stainless tertutup.
Danzel bergeleng kepala dengan kelakuan pegawainya. “Ramah-ramah bukan karyawanku?” ucapnya berbisik di telinga Gwen seraya berjalan menuju ruang divisi keuangan.
__ADS_1
“Iya.” Gwen menganggukkan kepalanya. “Ngomong-ngomong, apa silumannya mengikutimu sampai sini?”
Danzel menyempatkan dirinya untuk menengok ke belakang, melihat situasi. “Tidak.”
Gwen menengok ke samping untuk menatap atasannya. “Lalu, kenapa kau masih memeluk pinggangku?” tanyanya tanpa berhenti melangkah.
“Karena aku nyaman berjalan seperti ini, kita seperti pasangan suami istri sungguhan. Apa kau keberatan? Jika iya, katakan saja. Aku tak akan melakukannya lagi,” balas Danzel ikut mengisi kornea matanya dengan wajah Gwen.
“Bisa kita sedikit menjaga jarak saja?” pinta Gwen lirih.
“Kenapa?”
Danzel menarik dua sudut bibirnya. Tangannya naik lebih atas untuk menyentuh lengan Gwen. Mengelus lembut kulit yang terbalut kemeja. “Tidak ada yang menilaimu seperti itu. Di mataku, kau wanita luar biasa.”
Gwen tersenyum lembut, pria di sampingnya ini sungguh tahu betul bagaimana caranya memperlakukan seorang wanita dengan baik dan benar. ‘Lama-lama aku bisa jatuh cinta dengannya jika seperti ini terus,’ gumamnya dalam hati.
Danzel terus merangkul lengan Gwen walaupun sudah memasuki ruangan yang dituju. Dia langsung mengajak wanitanya untuk ke sebuah ruangan yang disekat tersendiri. Itu adalah tempat direktur keuangan.
__ADS_1
“Tolong kau bantu buatkan sekretaris baruku rekening untuk gajian,” titah Danzel pada direktur keuangan.
“Baik.”
Danzel membiarkan Gwen duduk di hadapan direktur tersebut. Tentu saja karena karyawannya itu seorang wanita, jika pria mana mungkin dia memperbolehkan. Bahkan menatap seujung kuku pun sepertinya dia tak mengizinkan.
Danzel hanya memandangi aktivitas mereka dari sofa. Mendudukkan Aldrich di sampingnya.
Getaran ponsel di saku membuat Danzel harus berhenti sejenak memperhatikan Gwen.
“Aldrich di sini dulu, ya? Tunggu mama selesai. Uncle keluar sebentar mau mengangkat telepon.”
“Baik, uncle.”
Danzel pun keluar dan menutup pintu perlahan. Dia mengangkat panggilan telepon yang sudah tiga kali masuk.
“Apa, Steve?”
__ADS_1
“Tuan, wanita siluman itu datang lagi.” Steve berbicara berbisik. “Apakah dia melihat Anda bersama Aldrich? Tadi wanita itu menanyakan siapa bocah kecil yang bersama Anda.”