
Steve sudah dipersilahkan masuk. Ia kini duduk bersebelahan dengan Danzel yang tengah bermain dengan Aldrich dan Selena. Sedangkan Gwen saat ini izin ke balkon untuk menelepon seseorang.
Steve memberitahukan kepada Danzel jika Alcie Glee dibawa oleh polisi untuk diamankan karena wanita itu terlalu sulit diberi tahu dengan cara baik-baik.
Reaksi Danzel justru tertawa terbahak-bahak membuat dua bocah kecil yang belum paham dengan situasi tersebut pun menatap ke arahnya.
“Sorry, uncle terlalu bahagia,” ucap Danzel seraya mengelus rambut halus kedua anak Gwen. “Kalian main berdua dulu, ya. Uncle ada urusan sebentar dengan uncle Steve. Nanti kalau mama tanya, jawab saja sedang keluar sebentar, oke?” pamitnya pada Selena dan Aldrich.
“Oke, uncle.”
Danzel pun mengajak Steve untuk mengobrol di luar.
“Idemu ternyata gila juga, Steve,” puji Danzel seraya menepuk pundak asistennya. “Tapi baguslah, biar dia jera sudah mengganggu kenyamananku terus,” imbuhnya.
“Setelah ini aku akan membuat laporan ke kantor polisi, tapi tak bisa dipastikan berapa lama dia akan menjadi tahanan sementara di sana. Nona siluman itu tak melanggar hukum yang terlalu berat. Kemungkinan jika ada kerabatnya datang sebagai penjamin, dia bisa langsung bebas,” jelas Steve.
__ADS_1
“Siapa yang mau menjamin dia? Ku dengar orang tuanya tak tinggal di sini,” timpal Danzel yang ikut berpikir. Dia ingin Alcie berlama-lama di kantor polisi agar tak mengganggunya lagi.
Steve mengedikkan bahunya. “Mommy Anda, mungkin.”
“Bisa jadi.” Danzel memijat leher belakangnya. Ia berharap daddynya segera pulang dari Paris agar bisa mengendalikan sang mommy untuk tak mengatur wanita yang dia kencani lagi. “Kau pergilah, urus keperluanmu. Terima kasih sudah mau ku repotkan,” usirnya. “Tenang saja, gajimu ku naikkan sepuluh persen,” tambahnya membuat Steve lebih bersemangat lagi.
Steve pun pergi meninggalkan tuannya, sedangkan Danzel yang hendak masuk ke dalam pun menepuk jidatnya. “Kenapa tadi ku tutup total, sekarang aku tak bisa masuk,” desahnya merutuki kelalaiannya. Dan dia pun memencet bel. Selenalah yang membuka.
“Mamamu belum selesai menelepon?” tanya Danzel setelah masuk ke dalam lagi.
Danzel yang penasaran pun meninggalkan Selena dan Alrich. Ia diam-diam menguping dari balik pintu.
Sementara itu, Gwen saat ini sedang berbincang dengan mertuanya. Ia mengabarkan jika baru saja mengirimkan sejumlah uang untuk bulanan dan biaya sewa apartemen. “Tolong diirit, Ma. Cari uang susah,” pintanya.
“Dih, mulai perhitungan kau dengan aku?” omel Mama Esme.
__ADS_1
“Ingat, Ma. Kita ini bukan orang berada lagi, bergayalah sesuai kondisi ekonomi saat ini.” Gwen mencoba menasehati mertuanya agar sadar diri.
Mama Esme berdecak tiga kali. “Itu sudah kewajibanmu sebagai anak untuk menafkahi orang tuanya.”
“Tapi kau bukan orang tua kandungku, hanya mertuaku.”
“Sama saja! Jangan coba-coba menasehatiku!” bentak Mama Esme.
“Mulailah bekerja juga jika ingin mendapatkan uang lebih. Tak selamanya aku memberimu uang sebanyak itu, aku juga butuh untuk menghidupi diriku sendiri bersama anakku yang masih memerlukan biaya demi masa depannya!” Gwen sedikit menekankan ucapannya. Lama-lama dia lelah juga diperas seperti itu terus. Ia langsung mematikan panggilan tersebut dengan dadanya yang berdebar. “Apakah aku durhaka karena melawan mertuaku?” gumamnya.
Gwen tertegun saat ia berbalik badan dan sudah ada Danzel di hadapannya. “Apa kau mendengar semua percakapanku?”
...*****...
...Seperti biasa, aku malak kopi sama bunga wkwkwk...
__ADS_1