
“Apa orang yang tadi berlari keluar gerbang saat aku datang?” tanya Danzel. Dia memang melihat seorang wanita yang terbirit-birit ketika tubuhnya semakin dekat.
“Mungkin, sepertinya dia malu bertemu denganmu,” ucap Gwen.
Danzel yang sampai di samping kursi besi itu mengelus kepala Aldrich. “Dia kenapa? Apakah mommynya membuat ketakutan lagi?”
Gwen mengangguk sebagai jawaban. “Sepertinya dia tertidur, sedari tadi bersandar di balik tubuhku dan tak bergerak. Tolong dicek.”
Danzel pun memalingkan wajah Aldrich dan terkekeh lucu melihat anak sambungnya. “Benar, dia sedang tidur. Aku akan menggendongnya ke dalam.”
Danzel dan Gwen pun masuk kembali ke dalam mansion. Menidurkan ketiga bayi dan juga Aldrich karena mereka sudah terlelap.
“Selena mau tidur juga?” tawar Gwen pada anaknya yang sedari tadi memandanginya.
“Tidak, aku ingin menjaga adik-adikku di sini saja,” jawab Selena.
“Baiklah.” Gwen mengelus puncak kepala putrinya dan membiarkan anak-anaknya berada di dalam kamar anak.
Gwen melingkarkan tangan di lengan suaminya. “Aku ingin berbicara sesuatu denganmu,” ucapnya seraya kaki mengayun ke kamarnya sendiri yang ada di sebelah ruangan anak-anak.
“Apa?”
Tangan Gwen menarik Danzel untuk duduk di atas ranjang dan saling berhadapan. “Jadi, wanita yang aku temui tadi adalah Alcie Glee, orang tua kandung Aldrich.”
“Tunggu.” Danzel mengeluarkan ponsel dan membuka pesan lama dari mommynya. “Apakah wanita ini?” Dia menunjukkan layar berisi foto Alcie Glee yang dikenalnya.
“Iya, itu mommynya Aldrich.”
__ADS_1
Danzel berdecak tak habis pikir dengan wanita satu itu. Masih saja berusaha mengganggunya dan lebih parahnya lagi ternyata dia baru tahu kalau Alcie Glee adalah selingkuhan mantan suami Gwen dan juga orang tua yang menelantarkan seorang anak. Penilaiannya terhadap wanita itu berarti tak salah. Beruntung dia tak terjerat oleh Alcie.
“Lebih baik kau jangan bertemu lagi dengannya,” nasihat Danzel. Dia tak mau istrinya bergaul dengan orang seperti Alcie Glee.
Gwen meraih tangan Danzel dan memberikan elusan lembut. “Dengarkan dulu ceritaku,” pintanya agar sang suami tak menyelanya saat berbicara.
Danzel menutup mulutnya dan mendengarkan istrinya bercerita.
Gwen menceritakan semua yang baru saja terjadi mulai dari awal hingga akhir tanpa ada yang ditutupi lagi. “Apakah kau mau memberinya pekerjaan?”
“Untuk apa kau tetap berbuat baik dengan orang yang sudah jahat denganmu?” tanya Danzel. Dia tak habis pikir dengan istrinya yang terlampau baik itu.
Gwen mengulas senyum dan mengelus rahang tegas suaminya. “Jika kejahatan dibalas dengan hal yang sama, maka hanya akan ada dendam yang tak ada ujungnya.” Dia mengungkap alasan dibalik sifatnya yang tetap berlaku baik pada siapa saja yang sudah melukainya.
Danzel rasanya ingin menarik tangan Gwen untuk dia dekap, bagaimana bisa memiliki seorang istri yang terlalu baik hati dan membuatnya benar-benar tak bisa melepas wanita itu. Tapi dia mengurungkan niat tersebut karena mengingat istrinya memiliki bekas jahitan setelah melahirkan secara caesar.
Apa lagi yang mereka berdua cari? Semuanya sudah terpenuhi. Pasangan yang sama-sama perhatian, lembut dalam bertutur kata, dan yang terpenting adalah saling mencintai. Hanya saja Danzel harus lebih mengontrol istrinya agar tak dimanfaatkan kebaikannya oleh orang lain.
Kehidupan keduanya begitu sempurna untuk saat ini dengan kehadiran tiga buah hati yang sangat menggemaskan. Ditambah Tuan dan Nyonya Pattinson yang bisa menerima kondisi Gwen beserta dua anak kecil yang sudah dianggap sebagai anggota keluarga Pattinson juga.
...-TAMAT-...
...*****...
...Jangan lupa dukung karyaku yang lain juga ya. Semua ceritaku yang di NovelToon saling berkaitan....
__ADS_1
My Rich Husband
Gabby, My Fierce Girl
Hidden Rich Man
I’m Not A Virgin
__ADS_1