My Poor Secretary

My Poor Secretary
Part 32


__ADS_3

“Langsung ke ruanganku saja, di sana juga ada toiletnya. Bahkan lebih nyaman dibandingkan khusus karyawan,” ajak Danzel. Mana mungkin dia membiarkan wanita yang sudah ditargetkan menjadi calon istrinya untuk memakai tempat yang biasa saja.


Danzel akan berbagi, untuk sekarang mungkin toilet. Tapi kalau mau berbagi ranjang juga dia tak akan menolak.


“Tidak, Tuan. Tunjukkan toilet karyawan saja, tak enak dengan yang lainnya jika memakai milik CEO,” tolak Gwen.


“Mama ... sudah keluar,” rengek Aldrich lagi saat merasakan kotorannya sudah lolos. Untung saja memakai dalaman, sehingga tak akan berceceran.


“Lurus saja ke sana, nanti ada di sebelah kiri.” Danzel akhirnya menunjukkan arah tempat toilet karyawan. Harus sabar mendekati Gwen karena tak sama seperti wanita lain yang mudah sekali dia dapatkan hanya dengan pesonanya atau uangnya.


Danzel hanya bisa menatap punggung Gwen yang kian menjauh. Dalam hatinya dia berdoa agar segala jalannya untuk mendapatkan hati seorang Gwen Eisten dapat dipermudah dan lancar.


Pria itu memilih untuk menuju ruangannya, menunggu Gwen di depan ruang kerjanya. Sepanjang langkahnya, Danzel bersiul gembira dengan wajah yang berbinar.


“Tuan, kenapa Anda membatalkan rencana untuk membuka lowongan pekerjaan?” tanya Steve saat atasannya berdiri di dekatnya. “Apa Anda sudah tak membutuhkan sekretaris lagi?”

__ADS_1


“Aku sudah mendapatkan pengganti yang sangat cocok,” jawab Danzel seraya menyandarkan tubuhnya di meja kerja Steve.


“Siapa?” Steve terlihat sangat penasaran.


“Gwen Eisten,” balas Danzel disertai senyum yang menghias dan alisnya yang naik turun. “Sekali daki, dua gunung ku dapat.”


“Sekali dayung, dua pulau ku lewati, Tuan,” ralat Steve meluruskan kesalahan pengucapan peribahasa yang disebutkan atasannya.


“Dua gunung!” Danzel tetap kukuh dengan pendiriannya.


“Sejak saat ini, jika aku mendapatkannya maka akan ku dapatkan dua gunungnya juga,” kelakar Danzel, dan dia senyum-senyum sendirian membayangkan kalau bermesraan dengan Gwen.


Steve menggelengkan kepalanya. “Ck, ck, ck, ternyata otak bosku bisa mesum juga,” ejeknya.


Danzel mengedikkan bahunya. “Namanya juga lelaki, wajar saja jika menginginkan itu.”

__ADS_1


“Ya, ya, terserah Tuan sajalah.” Steve tak mau menghancurkan mood atasannya yang sedang bagus. “Bagimana bisa Anda merekrut Nona Gwen menjadi sekretaris? Memangnya dia memiliki keahlian itu?” tanyanya penasaran.


“Itu tidak penting, kecakapannya bisa aku asah dengan mengajarinya langsung. Yang terpenting aku bisa semakin dekat dengannya.”


“Tapi Anda harus menjaga hati, jangan sampai terlalu menaruh rasa dengannya. Siapa tahu persepsimu jika dia janda itu tak benar,” pinta Steve.


“Jangan menasehatiku, Steve! Aku tahu apa yang ku lakukan. Kau sebagai asistenku tinggal mendukungku saja,” tegur Danzel.


Memang susah jika sudah cinta, membuat Danzel menutup mata untuk menggali lebih dalam tentang orang yang dia sukai. Cukup melihat permukaannya saja sudah membuatnya menaruh kepercayaan yang tinggi. Karena yang terpenting baginya adalah kesan pertama.


“Maaf, Tuan. Aku hanya takut kau patah hati untuk yang kedua kalinya,” balas Steve. Dia juga yang susah jika atasannya kembali galau karena menjadi lebih sensitif.


“Tenang, kali ini ku pastikan tak akan patah hati lagi. Aku tak akan membiarkan pria manapun menikung wanitaku yang sekarang,” tekad Danzel. Tangannya menepuk pundak Steve untuk menunjukkan seberapa besar keyakinannya.


Steve membalas dengan anggukan kepala. Dalam hatinya sedang mengumpati atasannya yang tak percaya dengan hasil selidikannya tentang keluarga Eisten. Lagi pula pernikahan keluarga itu sungguh sulit sekali didapatkan, mungkin memang tak pernah diekspose di televisi ataupun berita di media mana pun karena keluarga Eisten masih tergolong pengusaha tak terlalu besar di Finlandia.

__ADS_1


Hal itu membuat Steve tak memiliki bukti akurat agar Tuan Danzel mau percaya dengannya. Tak ada yang bisa dia lakukan jika atasannya hanya percaya dengan yang dilihat saja secara langsung.


__ADS_2