
Danzel ingin menghapus noda sisa saus di sudut bibir Gwen menggunakan bibirnya. Tapi dia urungkan karena ingin memberikan ruang wanitanya untuk bernapas. Dia tahu betul jika ciumannya bisa membuat si cantik dan penyayang itu menegang. Sehingga dia hanya menyusut menggunakan jempolnya.
Danzel menjilat sisa noda berwarna merah di jempolnya. “Ada saus di bibirmu, aku hanya membantu untuk menghilangkan saja.” Dia memberikan alasan ketika mata Gwen membelalak terkejut.
Hanya disentuh menggunakan tangan saja sudah membuat wanita itu kaget, apa lagi menggunakan bibir. Bisa-bisa Gwen sulit tidur, seperti Danzel yang setiap harinya begadang untuk memikirkan cara menakhlukkan hati seorang wanita yang dia kira janda.
“Ah, terima kasih.” Gwen terlihat malu. Dia pikir Danzel akan menyentuh dan mengelus pipinya atau menciumnya seperti tadi. Tangannya pun mengambil tisu dan menempelkan kertas tipis berwarna putih tersebut ke bibirnya.
“Jangan mengucapkan kata ah di sembarang tempat, suaramu yang lembut itu terdengar sesual di telingaku. Aku takut tak tahan melawan cobaan terbesar ini,” bisik Danzel di telinga Gwen. Ingin sekali dia gigit leher wanita itu, tapi tahan, anak-anak Gwen sudah berjalan ke arah meja makan lagi.
Gwen dan Danzel kembali duduk seperti biasa, seolah tak pernah terjadi apa-apa. Padahal saat ini jantung keduanya tengah berdebar.
__ADS_1
Keempatnya melanjutkan makan dengan sunyi, Danzel tak pernah absen untuk mengulas senyumnya. Melihat suasana di meja makannya yang terasa sangat sempurna.
“Kita seperti keluarga lengkap yang bahagia, ya?” tutur Danzel setelah menandaskan makanannya.
“Memangnya uncle mau jadi Papa Selena?” tanya bocah sepuluh tahun itu. Baginya, sebuah keluarga adalah mama, papa, dirinya, dan adik-adiknya.
“Mau, jika kalian mau,” balas Danzel sangat jujur.
Bahkan sampai detik ini pun Selena juga belum paham dengan hubungan kedua orang tua kandungnya. Yang dia tahu hanya sekarang tak memiliki papa karena sudah tak pernah melihat dan bersama dengannya lagi.
“Selena ...,” tegur Gwen agar anaknya tak berbicara melantur. Hanya dengan memanggil nama dan suara lirih saja bocah sepuluh tahun itu sudah paham maksud sang mama.
__ADS_1
“Maafkan aku, uncle.” Selena menundukkan kepalanya.
Danzel mengelus punggung Gwen yang terbalut kaus berwarna biru langit. “Jangan seperti itu, Gwen. Lagi pula aku tak masalah jika memang Selena menginginkanku menjadi papanya. Justru kau yang seharusnya membuka hatimu untukku, anak-anakmu bahkan sudah menerimaku walaupun perkenalan kita baru sebentar.” Ia balas menegur wanitanya agar tak membatasi Selena yang memiliki sebuah keinginan berbuah menguntungkan untuknya.
Gwen menghela napasnya, bukannya dia tak mau membuka hati untuk Danzel. Tapi suaminya sulit untuk diajak bercerai. Sudah tiga kali dia mencoba membujuk Sanchez, tapi tetap tak mau. Dan situasinya sekarang sangat sulit. Anaknya memang membutuhkan sosok papa, dan dirinya juga wanita dewasa yang membutuhkan sebuah pelukan hangat dari seorang pria.
‘Kenapa hidup yang ku jalani harus serumit ini,’ gumam Gwen dalam hati. Ia memilih untuk menjalani hubungan bersama Danzel terlebih dahulu untuk saat ini. Biarkan semua mengalir seperti air.
Danzel mendekat ke arah Selena dan Aldrich. Merendahkan tubuhnya agar sejajar dengan kedua bocah itu. “Kalian boleh menganggapku seperti papa kalian. Tenang saja, nanti uncle urus mamamu agar memberikan izin,” bujuknya supaya anak-anak Gwen tak terlihat muram.
...*****...
__ADS_1
...Dahlah Danzel, kamu modus terus sampe aku sendiri lupa ngitung dah berapa kali kamu ngalusin si Gwen....