My Poor Secretary

My Poor Secretary
Part 151


__ADS_3

Danzel mematikan panggilan telepon. Dia tak ingin menanggapi ucapan terakhir Steve yang menyampaikan titipan pesan dari Gwen.


Danzel kembali meneguk champagne di depan tungku api. Setiap hari dia hanya melakukan hal itu untuk menghangatkan tubuh dari udara yang sangat menusuk.


“Aku juga merindukanmu Gwen,” gumam Danzel. Tangannya meletakkan botol ke atas meja dan menyandarkan tubuh ke kursi kayu. Menengadahkan kepala hingga korneanya terisi langit-langit rumah sederhana miliknya yang ada di belahan negara lain. “Aku sangat ingin menciummu, menghangatkan ranjangmu dengan penuh cinta, dan memelukmu seharian penuh. Tapi ternyata kau milik orang lain,” keluhnya.


Danzel mengusap wajahnya kasar dan berteriak sekeras mungkin. “Argh! Kenapa aku harus jatuh cinta dengan istri orang!” Dia mengumpati diri sendiri.


Hanya bisa menyalahkan diri sendiri karena sedari awal memang asistennya sudah memperingatkan agar tak banyak menaruh hati supaya tak kecewa dikemudian hari, tapi tak diindahkan olehnya.

__ADS_1


Dan sekarang Danzel baru merasakan sulitnya melepaskan wanita untuk kedua kalinya. Namun kali ini rasanya jauh berbeda dari saat merelakan kekasihnya menikah dengan pria lain. Saat itu belum merasakan bagaimana nikmatnya surga dunia, tapi bersama Gwen dia sudah mendapatkan semuanya bahkan kenangan bersama sekretarisnya jauh lebih banyak dan mengesankan daripada bersama mantan kekasihnya.


“Aku sangat merindukanmu Gwen. Aku merindukan istri orang!” teriak Danzel seraya memukul dadanya yang terasa sesak menahan perasaan yang sangat ingin dia salurkan.


CEO Patt Group itu masih bingung harus mengambil keputusan apa. Ingin meninggalkan Gwen tapi hatinya berkata sebaliknya. Jika terus berhubungan dengan wanitanya, maka dia merusak pernikahan orang lain. Hingga tak terasa pikirannya yang kacau mendorong dia untuk menghabiskan dua botol champagne.


Kepala Danzel sampai terasa berat karena dia sudah mabuk. Tapi tetap saja rasa rindunya tak terobati. Dan kakinya berjalan tapi yang dirasakan seperti melayang mencari ponsel. Tangannya langsung mencari kontak Gwen dan menelepon wanita yang sangat dia cintai itu.


Gwen tak tahu siapa yang menghubunginya. Nomor baru dan kode negaranya juga bukan di Finlandia. Sehingga dia memilih untuk menolak karena takut jika itu adalah ulah orang jahat atau iseng saja.

__ADS_1


Danzel menatap nanar layar ponselnya dengan mata yang tak fokus. “Kau menolak panggilanku Gwen? Katanya merindukanku tapi saat ku telepon tak diangkat!” ocehnya. Mengkonsumsi alkohol terlalu banyak membuatnya tak sadar sudah mengumpat dan hal itu bukanlah kebiasannya.


Danzel pun terus menerus menelepon Gwen. “Aku merindukanmu sayang, angkatlah,” gumamnya.


Gwen yang merasa terganggu dengan panggilan tersebut pun memilih untuk mengangkat karena penasaran dan supaya si penelepon puas juga tak mengusiknya lagi. Namun dia tak mengeluarkan suara sedikit pun, hanya ingin mendengarkan maksud orang tersebut meneleponnya banyak sekali di malam hari.


“Gwen, aku merindukanmu! Apa kau tahu itu? Rasanya sesak sekali menahan ini.” Danzel tak sadar jika teleponnya sudah diangkat oleh sang wanita.


“Danzel, kau kah itu?” Gwen langsung duduk saat mengenali suara kekasihnya, walaupun terdengar sedikit parau bercampur frustasi dan kesedihan.

__ADS_1


Tak ada sahutan lagi dari Danzel, membuat Gwen kembali memanggil. “Danzel, sayang, apa ini sungguh kau?”


__ADS_2