
“Chimera ...!” seru Danzel hingga otot di lehernya terlihat.
“Ya, Tuan.” Tapi orang yang diajak bicara justru terlihat masih tenang dan cenderung santai.
“Kau itu bagaimana! Bisa-bisanya membiarkan wanitaku membersihkan piring sendiri!” omel Danzel. Dia sudah seperti bapak-bapak yang memarahi teman anaknya saja.
“Aku sedang bermain dengan anaknya, bagaimana bisa ikut membantunya sedangkan tubuhku saja dikuasai oleh bocah cilik itu,” balas Chimera.
“Gajimu ku potong tujuh puluh lima persen karena kinerjamu tak bagus,” ancam Danzel. “Untuk apa aku mengucurkan uang banyak pada seseorang yang tak bisa bekerja sesuai keinginanku,” imbuhnya masih terus mengomel.
“Jangan, Tuan. Aku butuh uang itu untuk membayar hutang orang tuaku,” bujuk Chimera agar Danzel mengurungkan niat memotong gajinya.
__ADS_1
“Maka, bekerja dengan betul dan memuaskan. Kau harus mengambil alih apa pun yang dikerjakan oleh Gwen, jangan sampai dia kelelahan. Jangan lupa menjaganya juga!” tegas Danzel. Dia mengangkat sebelah sudut bibirnya.
“Baik, Tuan. Aku akan melakukan semuanya,” balas Chimera yang tak ingin kehilangan tiga puluh ribu euro perbulannya.
Danzel pun memutuskan panggilan telepon. Saking kesalnya, sampai lupa dengan tujuan awalnya yang ingin memberitahukan perihal makan malam besok.
Danzel justru menarik satu sudut bibirnya. “Memangnya enak sudah mengerjaiku meminta naik gaji? Jangan harap pekerjaan kalian akan tetap seperti biasanya,” gumamnya. Tentu saja dia harus memanfaatkan tenaga kerja yang seharga tiga puluh ribu euro itu. Jika dirupiahkan bisa mencapai lebih dari empat ratus delapan puluh juta. Lumayan menguras dananya, tapi tak masalah, toh uang setiap bulan yang dia dapat juga banyak.
Setelah sadar jika dirinya belum jadi mengajak Gwen makan malam, Danzel memilih untuk istirahat saja. Besok sekalian dia ajak ke butik untuk membeli gaun yang bagus.
“Nanti malam orang tuaku ingin mengajak kau dan anak-anakmu makan malam,” tutur Danzel saat kendaraan roda empat melaju menuju kantornya.
__ADS_1
Gwen melongo terkejut. Apa ini? Kenapa tiba-tiba keluarkan konglomerat itu ingin bertemu dengannya? Sial, pikirannya mendadak tak enak. Dia takut mendapatkan penolakan dari keluarga Pattinson. Saat ini Gwen hanya ingin menikmati romantisme bersama Danzel saja. Dia takut setelah bertemu tuan dan nyonya Pattinson, akan membuatnya jauh dari pria yang perlahan bisa masuk ke dalam hatinya itu.
Danzel menyentuh tangan Gwen yang terlihat tegang dan kaku. “Tenang, mereka baik,” ujarnya seraya memberikan elusan agar wanitanya tak berpikir yang buruk.
“Aku belum siap.” Gwen mencoba menjelaskan sedikit perasaannya. Matanya terlihat memohon agar Danzel membatalkan acara makan malam tersebut.
Ketika kendaraan roda empat itu berhenti di lampu merah, Danzel menengok ke belakang di mana Aldrich sedang duduk. Memastikan anak Gwen tak melihat ke arahnya.
Danzel kembali memenuhi korneanya dengan wajah Gwen. Mengelus lembut pipi wanitanya dan memberikan kecupan singkat di bibir yang begitu menggoda itu. “Ada aku, tenang saja. Aku akan melindungimu kalau mereka membuatmu tak nyaman.”
“Tapi—” Gwen hendak mengajukan penolakan lagi.
__ADS_1
Tapi Danzel sudah membungkam bibir wanitanya dengan ciuman agar tak mengeluarkan sebuah kalimat yang tak dia inginkan. Dia sudah memastikan jika Aldrich sedang asyik memakan cokelat yang tadi dia belikan.
“Bantu aku agar orang tuaku tak memintaku menikah dengan wanita pilihannya. Karena hanya kau yang aku cintai,” pinta Danzel dengan sorot matanya yang sangat memohon.