My Poor Secretary

My Poor Secretary
Part 143


__ADS_3

“Kita jemput saja mereka,” cetus Mommy Megan. “Ayo aku bantu berkemas.” Dia langsung berdiri dan mengajak Gwen untuk segera membawa barang bawaan yang penting saja. Sisanya akan sibereskan oleh orang suruhannya nanti.


Mereka pun tak jadi memberikan kejutan pada Danzel di apartemen Gwen. Rencana dirubah total karena Mommy Megan yang bosan di sana. Balon-balon yang lumayan banyak jumlahnya pun ikut dibawa ke mansion Pattinson.


“Dasar wanita, senang sekali merepotkan diri sendiri,” gumam Daddy Marlin. Dia juga jadi korban membawa balon yang lumayan banyak.


“Dad, ini hari bahagia keluarga kita, kau tak boleh menggerutu,” tegur Mommy Megan. Dia juga sama, kedua tangannya penuh dengan semua perintilan pesta.


“Kenapa tak kau tinggalkan saja di apartemen, kita bisa membeli baru lagi,” protes Daddy Marlin seraya kakinya mengayun menuju mobilnya.


“Calon menantumu yang tak mau,” balas Mommy Megan seraya menunjuk Gwen dengan dagunya.


“Maaf, uncle. Aku hanya tak ingin menghamburkan uang. Sayang jika masih bisa dipakai tapi tak dimanfaatkan,” pungkas Gwen dengan sedikit memberikan anggukan kepala karena merasa tak enak.

__ADS_1


Daddy Marlin jadi tak berani menanggapi karena calon menantunya memiliki sifat mudah merasa sungkan. Dia pun mengulas senyumnya dan mengatakan bahwa tadi hanya bercanda daripada membuat Gwen seperti tak enak hati dengannya.


“Gwen, mulai sekarang jangan panggil aku dan suamiku dengan aunty dan uncle. Panggil aku mommy dan daddy seperti Danzel. Kau sudah ku anggap sebagai menantuku mulai sekarang,” pinta Mommy Megan setelah tangannya memasukkan balon ke dalam bagasi.


“Baik, au—” Gwen segera meralat panggilannya. “Mom.” Dia masih merasa sedikit canggung.


“Good. Ayo masuk.” Mommy Megan memegang lengan Gwen dan mengajak duduk di kursi belakang. Membiarkan sang suami menemani supir di depan.


“Lalu, aku duduk di mana?” tanya Chimera. Dia masih membawa koper.


“Bagaimana jika ada yang ingin mencelakai Nona Gwen? Aku bodyguardnya dan harus melindunginya,” protes Chimera.


Daddy Marlin berdecak, mendengar para wanita berdebat tentang hal sepele membuatnya lebih baik mengalah saja. Dia pun turun dan menengadahkan tangan ke hadapan Chimera. “Mana kunci mobilnya? Aku yang akan menyetir sendirian.”

__ADS_1


“Ini.” Chimera memberikan kunci mobil yang biasa dia kendarai dan beralih duduk di bmw milik keluarga Pattinson setelah memasukkan koper ke kendaraannya.


Dua mobil itu pun beriringan melaju di jalanan menuju taman bermain anak terlebih dahulu. Gwen turun sendirian dan menjemput Aldrich.


“Halo, Aldrich,” sapa Mommy Megan dengan ramah saat bocah kecil itu masuk ke dalam mobilnya bersama Gwen.


Aldrich menengok ke mamanya. “Mama, aku harus memanggil apa?” tanyanya karena baru pertama kali ini dia berinteraksi dengan orang tua Danzel, padahal sudah beberapa kali bertemu.


“Grandma. Aku nenekmu.” Mommy Megan yang menjawab seraya tangannya mengelus kepala Aldrich.


“Halo, grandma.” Aldrich balas menyapa Mommy Megan. Karena wanita yang sudah memiliki sedikit keriput itu nampak ramah dan baik padanya, dia mengangkat tangan mengajak hi-five. Dan telapak tangan keduanya pun saling bertemu.


“Kau lucu sekali, Aldrich.” Mommy Megan mencubit gemas pipi cucunya walaupun tak kandung. “Sini duduk dipangkuanku, aku akan memberi tahu banyak hal denganmu,” pintanya seraya menepuk paha.

__ADS_1


Aldrich merasa Mommy Megan bukanlah sebuah ancaman. Sehingga dia menurut dan hanya butuh waktu sebentar mereka bisa sedikit lebih dekat karena Nyonya Pattinson itu memang menyukai anak-anak dan menceritakan masa kecil Danzel yang sama menggemaskan seperti Aldrich. Ternyata kebaikan hati Danzel menurun dari orang tuanya.


__ADS_2