
Wanita bertato itu benar-benar dibuat geram oleh tingkah laku Alcie. Sedari medusa itu datang, dia sudah diam karena menunggu emosinya memuncak agar saat dilampiaskan bisa langsung total dan membuatnya lega. Dan sekaranglah saatnya dia memberikan balasan pada si pengganggu kenyamanannya.
“Kau pikir di dalam sel ini hanya ada kau sendiri, ha!” sentak wanita bertato itu. Matanya mendelik dan memegang lingkar leher bagian dress milik Alcie yang belum ganti selama tiga hari ini.
“Apa?! Berani kau denganku?!” Alcie tetap mencoba tak memperlihatkan rasa takut. Dia ikut mendelik dan membalas memegang kerah kemeja lawan duelnya.
“Memangnya kau siapa sampai membuatku tak berani denganmu?” Wanita bertato itu tersenyum sinis. Tangan kanannya mengepal kuat, mengumpulkan tenaga dan emosinya.
“Aku? Calon istri Danzel Pattinson!” jawab Alcie. Astaga ... wanita siluman ini benar-benar tak bisa sadar diri dan tak tahu malu. “Kau pasti kenal pengusaha sukses itu, kan?”
Wanita itu tertawa terbahak-bahak tanpa melepaskan cengkramannya. “Kau lebih cocok menjadi tahanan rumah sakit jiwa dibandingkan di sini!” hinanya. “Mana mungkin seorang calon istri pengusaha kaya mendekam di sini selama berhari-hari dan tak ada satu pun orang yang menjaminmu.” Tangannya menepuk pipi Alcie agar tersadar dari mimpi yang terlalu ketinggian.
Plak!
__ADS_1
Alcie yang tak terima karena dihina pun melayangkan tamparan di pipi wanita bertato itu. “Dia sedang sibuk! Namanya juga pengusaha kaya, mana ada waktu untuk bersantai-santai!” bentaknya mencari alasan agar tak terkesan dia berbohong.
Wajah wanita bertato itu tak bergerak sedikit pun walaupun sudah terkena serangan. Tapi pipinya memerah. Matanya mulai mendelik dan segenap kekuatan di tangannya yang tadi dikumpulkan pun mulai melayang di udara.
Bugh!
Alcie mendapatkan tinjuan di wajah yang sudah dioperasi plastik itu. Tubuhnya bahkan sampai terhuyung hingga jatuh ke lantai semen. “Kau bukan lawan sepadanku, tapi karena kau sudah berani denganku, maka jangan salahkan aku jika menghantarkanmu sampai ke liang lahat!” ucapnya begitu dingin.
Bugh!
Satu tendangan mengenai perut wanita medusa itu. Kaki wanita bertato itu bahkan terasa sangat kuat mencurahkan segala rasa kesalnya.
Seolah tak memiliki belas kasian, wanita bertato itu memang orang yang terbiasa hidup di jalanan dengan gaya urakan dan kehidupan bebasnya. Ia menghajar Alcie dengan membabi buta.
__ADS_1
“Ampun ... sudah, aku mengaku kalah.” Alcie mencoba memohon ampunan agar tak dipukuli lagi.
Dan wanita bertato tersebut menghentikan aksi brutalnya. Bahkan dia masa bodo jika menjadi tahanan di penjara untuk waktu lama. Toh hidupnya memang terbiasa tak ada yang mengurusi.
“Lain kali, kendalikan mulutmu yang berbisa itu jika tak ingin segera bertemu malaikat pencabut nyawa.” Wanita bertato itu berjalan dengan santai menuju ujung ruangan, dia kembali duduk di sana dan tak memikirkan apa pun lagi seperti biasa sampai masa tahanan sementaranya selesai.
Alcie mengusap hidungnya yang keluar darah. “Sial! Mimisan,” umpatnya. Sudah babak belur, masih saja tak mengontrol ucapannya.
“Tolong ... tolong ...,” teriak Alcie memanggil polisi agar membantunya menghilangkan darah di wajahnya.
Polisi yang memang hendak mengambil food tray di sana pun menatap datar dan tak terkejut jika Alcie babak belur. Ia justru mengalihkan pandangan pada wanita bertato. “Apa kau yang menghajarnya?”
“Ya,” jawab wanita bertato itu dengan santai.
__ADS_1