
Gwen ikut berdiri agar sopan saat berbicara dengan atasannya. Ia melepaskan tangan yang tadi mencekal Danzel agar tak menjauh, membuat pria itu mendesah kecewa.
“Maaf karena aku sudah lancang memegang tanganmu,” ujar Gwen sedikit menundukkan kepalanya untuk beberapa detik. Ia kembali meluruskan pandangan kepada Danzel.
“Tak masalah, justru aku senang kau berisiatif seperti itu. Jika mau pegang yang lain pun boleh.” Oh astaga ... Danzel, jatuh cinta ternyata bisa membuatnya menjadi pria konyol.
Gwen cukup membalas dengan ulasan senyum saja.
“Apa yang ingin kau tanyakan?” tanya Danzel.
“Boleh aku tahu, berapa gajiku selama satu bulan?”
“Kau mau berapa?” Alis Danzel terangkat saat menawari hal tersebut.
Gwen menggeleng tak bisa mematok ingin meminta banyaknya gaji. “Berapa pun yang perusahaan berikan, aku akan menerimanya.”
__ADS_1
“Dua puluh ribu euro, apakah cukup?”
Gwen membulatkan mata terkejut dengan nominal gajinya. “Apakah itu tidak terlalu banyak untuk ukuran sekretaris baru?” tanyanya. Jika dirupiahkan bisa mencapai lebih dari tiga ratus juta.
Danzel terkekeh lucu dengan ekspresi Gwen. Seperti baru pertama kali mendapatkan gaji sebanyak itu saja. “Tidak, kau butuh biaya untuk menggidupi dua anakmu dan juga dirimu sendiri. Sepertinya dua puluh ribu euro akan kurang. Bagaimana kalau ku naikkan menjadi lima puluh ribu euro?”
Gwen lagi-lagi melongo tapi secepat kilat dia menolak. “Dua puluh ribu saja sudah cukup. Kau bahkan belum melihat kinerjaku seperti apa.”
“Baiklah, kalau begitu gajimu dua puluh lima ribu euro.” Itu adalah gaji terbesar yang diberikan oleh Danzel pada karyawan spesialnya. Bahkan Steve saja yang sering dia repotkan ada di bawah itu.
Danzel mengangguk mengiyakan. “Ada lagi yang ingin kau tanyakan?” tanyanya karena melihat Gwen yang nampak memutar bola mata seolah tengah berpikir sesuatu.
“Aku minta maaf jika lancang,” tutur Gwen. Jemarinya saling bertautan di bawah sana karena gugup. Berbicara dengan orang baik ternyata lebih sulit dibandingkan berkomunikasi dengan orang yang tak tahu diri seperti Alcie Glee. Dia tak enak hati karena Danzel sudah banyak membantunya.
“Kenapa kau selalu meminta maaf, memangnya kau memiliki salah padaku?” tegur Danzel. ‘Kesalahanmu hanya satu, sulit sekali ku dapatkan hatimu,’ imbuhnya dalam hati.
__ADS_1
Gwen menyengir canggung. “Boleh aku meminta gajiku sekarang?” pintanya.
Danzel sedikit tertawa dengan tangannya yang mengacak-acak rambut Gwen. “Kau itu tegang sekali. Hanya ingin meminta gaji lebih awal harus berkali-kali minta maaf. Tentu saja boleh.”
Gwen bisa bernapas lega, beban pikirannya sedikit berkurang. “Terima kasih, kau bisa mengurangi gajiku untuk biaya transportasi anakku yang meminta antar jemput menggunakan mobilmu.”
“Tidak, aku sudah mengatakan pada Selena akan memberikan gratis,” tolak Danzel. “Nanti ku antarkan kau ke bagian keuangan untuk membuat rekening perusahaan. Semua karyawanku mendapatkan gaji dengan bank yang dibuat oleh perusahaan,” jelasnya.
Percakapan sepertinya sudah selesai, Danzel memutuskan untuk kembali melanjutkan langkahnya menuju kursi kerjanya. Bisa-bisa dia yang tak menyelesaikan pekerjaan karena terus ingin berdekatan dengan Gwen.
Namun langkahnya terhenti di tengah-tengah ruangan karena Gwen memanggilnya lagi. Ia berbalik dengan alisnya yang sedikit naik. “Apa?”
“Kenapa kau baik sekali denganku?” tanya Gwen yang begitu penasaran. “Padahal kita hanyalah orang asing yang baru saja kenal, tapi kebaikanmu melebihi keluarga dekat.”
“Karena aku menyukaimu,” jawab Danzel dengan lantang, jujur, dan berani. Matanya bahkan menatap Gwen dengan memperlihatkan keseriusannya.
__ADS_1