My Poor Secretary

My Poor Secretary
Part 23


__ADS_3

“Tinggal katakan di mana Danzel, apa susahnya!” sentak Alcie yang tak sabar menghadapi Steve.


Steve mengedikkan bahunya acuh. “Kau tanya sendiri saja pada calon suamimu. Teleponlah dia,” balasnya seraya menghempaskan pantat untuk duduk dan membalas pesan dari atasannya yang tengah bersembunyi.


“Ck! Ku adukan kau pada Aunty Megan!” ancam Alcie.


“Silahkan,” tantang Steve. Mana mungkin nyonya besar keluarga Pattinson akan membela wanita medusa itu.


Alcie meraih ponselnya di dalam tas, melakukan panggilan suara dengan calon mertuanya. Sorot matanya memancarkan peperangan pada Steve. “Awas kau!” Ia berkomat-kamit mengancam pria yang tetap terlihat acuh.


“Ada apa meneleponku, Alcie?” sapa Mommy Megan.


“Aunty, Danzel tak ada di kantor. Kira-kira dia pergi ke mana?” tanya Alcie basa-basi terlebih dahulu sebelum masuk ke intinya. Nada bicaranya berubah seratus delapan puluh derajat. Dia tak angkuh seperti saat berkomunikasi dengan Steve.

__ADS_1


“Hoek ....” Steve mengejek Alcie dengan berpura-pura muntah. Mual sekali melihat acting wanita itu.


Alcie yang melihat Steve mengejeknya pun mengepalkan tangan seperti hendak meninju pria itu.


“Ah, apa tadi? Aku kurang mendengarkan.” Alcie kembali ramah dengan Mommy Megan yang memanggilnya dari sambungan telepon tersebut.


“Aku tak tahu Danzel ada di mana. Kau tanya saja dengan asistennya, sekretarisnya, atau resepsionis di sana. Mereka yang lebih tahu kegiatan anakku,” terang Mommy Megan mengulangi ucapannya yang tadi sempat tak didengarkan oleh Alcie.


Alcie nampak memuramkan wajahnya, padahal tak dapat dilihat juga oleh orang yang dia ajak bicara. “Asistennya tak mau memberikan informasi padaku,” adunya dengan nada bicara dibuat seolah sedih.


“Berikan ponselmu padanya, aku akan tegur dia,” pinta Mommy Megan.


“Baik,” balas Alcie. Dia menyodorkan ponselnya ke hadapan Steve. “Nih, calon mertuaku mau berbicara denganmu,” tambahnya sangat lirih tapi penuh penekanan agar tak terdengar oleh Mommy Megan tapi masih bisa terlihat angkuh di mata Steve.

__ADS_1


Steve mengambil alih benda pipih yang canggih itu dengan malas. “Ya, Nyonya?”


“Katakan di mana Danzel pada Alcie. Kau itu jangan menutupi keberadaannya. Aku tahu, pasti anakku yang menyuruhmu, kan? Ini akal-akalannya untuk menghindari wanita pilihanku lagi, bukan?” omel Mommy Megan.


“Baik, aku akan katakan pada Nona Alcie.” Steve tak bisa mengelak lagi jika nyonya besar sudah berbicara. Sungguh wanita medusa itu bisa membuat seorang Mommy Megan memihak pada Alcie. Benar-benar wanita licik dan penuh tipu muslihat.


“Bagaimana, enak bukan dimarahi oleh calon mertuaku?” tanya Alcie. Tangannya menyambar ponselnya dengan kasar. “Jadi, di mana calon suamiku berada?”


“Rapat! Lebih baik kau pulang saja, karena Tuan Danzel pasti tak akan kembali lagi ke sini,” usir Steve.


“Aku harus percaya dengan dalihmu itu? Jika dia rapat, lalu kenapa kau masih berdiam di sini? Kenapa kau tak mengekorinya? Dan tadi aku juga melihat tas kerjanya masih ada di dalam ruangannya.” Alcie ternyata orangnya tak mudah dibohongi, mungkin karena dia pandai berkilah sehingga bisa tahu mana yang jujur dan tidak.


“Terserah!” pungkas Steve malas berdebat.

__ADS_1


“Aku akan tetap menunggunya sampai dia kembali ke kantor, katakan pada Danzel jika aku menanti kedatangannya,” ucap Alcie. Dia kembali ke dalam ruang CEO dan duduk manis di sofa seraya menyapu pandangan ke sekelilingnya.


__ADS_2