
...Dibawah 21 tahun harap undur diri, ini anget-anget tapi bukan konsumsi anak dibawah umur. Terima kasih...
...*****...
Danzel tak menunggu persetujuan Gwen. Dia harus kejar setoran sampai wanitanya hamil agar segera diberi restu oleh mommynya. Kalau daddynya sudah pasti menyetujui semua keputusannya.
Pria itu langsung berjalan menuju kamarnya dengan menggendong Gwen. Membiarkan pakaian mereka tergeletak di lantai dapur. Tapi Danzel tak lupa menutup pintu kulkas saat melewati pendingin tersebut.
Danzel merebahkan wanitanya di ranjang empuknya dengan hati-hati. Menatap lekat dari ujung kepala hingga kaki Gwen yang sedang memejamkan mata.
“Aku tak tidur, Danzel. Aku tahu kau memandangiku,” ujar Gwen seraya tangannya mencoba meraih selimut untuk menutupi tubuh polosnya.
Namun Danzel mencegah tangan Gwen. Dia masih ingin menikmati tubuh yang begitu indah dan menggairahkan. Dia kembali mengungkung sekretarisnya, mendekatkan bibirnya di telinga Gwen.
__ADS_1
“One more, baby,” pinta Danzel dengan suaranya yang terdengar mendambakan sebuah sentuhan panas lagi. Dia meninggalkan sebuah gigitan kecil di daun telinga Gwen, namun segera dikecup agar tak sakit.
“Aku lelah, Danzel. Kita istirahat dulu.” Gwen memiringkan tubuhnya agar tak dikungkung oleh sang pria. Belum ada sepuluh menit mereka bercinta, sudah diajak main lagi saja. Remuk badannya, setidaknya tidur sebentar walaupun hanya satu jam untuk mengembalikan staminanya.
“Baiklah, tengah malam kita lanjutkan lagi.” Danzel tak memaksa karena Gwen memang terlihat lelah. Dia menyelimuti tubuh polos wanitanya dan juga dirinya sendiri. Merebahkan badannya di balik sang wanita.
Danzel memeluk dari belakang dan tak memberikan jarak sampai kulit mereka saling bersentuhan. Aroma peluh setelah kenikmatan gairah yang membara ternyata sangat menyegarkan. CEO Patt Group itu berkali-kali menghirup dan mengecupi tengkuk sekretarisnya. Dan keduanya pun sama-sama tertidur.
Malam semakin larut, Danzel bangun dari tidurnya ketika pukul satu dini hari. “Gwen ...,” bisiknya.
“Ayo bermain lagi, Gwen. Aku masih ingin, Sayang,” ajak Danzel dengan suara sensualnya.
“Apa kau tak lelah? Aku sangat mengantuk.” Gwen mengelus tangan Danzel yang melingkar di perutnya.
__ADS_1
“Tidak, kau di bawah saja dan aku yang akan mendominasi,” bujuk Danzel. Maju tak gentar sekali dia.
Danzel sedikit menarik lengan Gwen hingga tubuh wanitanya terlentang menghadap ke langit-langit kamarnya. Bibirnya mendaratkan ciuman sedangkan tangannya mencoba membuka paha Gwen dan bermain di sana. Ia berusaha membangkitkan gairah lawan mainnya.
Gwen melenguh nikmat saat lidah Danzel menyesapnya seperti bayi dan beralih ke daerah bawahnya. Tidurnya sungguh tak bisa nyenyak jika seperti ini.
Bujang lapuk yang terlalu lama menjomblo itu sepertinya ketagihan bermain dengan wanita yang dikira sudah janda. Rasanya Danzel ingin mengurung Gwen terus di dalam kamar berdua bersamanya, menghentak wanita itu tanpa ampun namun tetap dengan kelembutan yang memabukkan.
Danzel mengarahkan geoducknya ke sarang yang tepat. Memaju mundurkan pinggulnya dengan hati-hati hingga suara erotis memenuhi kamar itu.
Danzel tak ingin mencoba gaya yang aneh-aneh. Dia sudah mengatakan ingin mendominasi karena tak mau wanitanya kelelahan walaupun seperti ini juga tetap membuat Gwen bercucuran peluh.
Kali ini permainan tak selama ketika di dapur, hanya empat puluh lima menit keduanya mencapai puncak. Pria itu semakin membenamkan geoducknya dan tak menggerakkan pinggul ketika bibit-bibit kehidupan darinya mulai keluar. Danzel sengaja menyemburkan di dalam dan tanpa pengaman.
__ADS_1
Gwen bisa merasakan ada sesuatu yang hangat memasuki rahimnya. Ia membelalakkan mata ketika sadar sudah dua kali Danzel menanam di dalam.