My Poor Secretary

My Poor Secretary
Part 149


__ADS_3

Setelah mengirim sebuah pesan pada Steve yang hanya diketahui oleh mereka berdua, Mommy Megan membawa Gwen ke dalam mobil. Untung saja salju di jalan sudah dibersihkan sehingga mereka bisa lewat tanpa gangguan. Tangan yang sudah keriput itu mengelus permukaan kulit menantunya saat melihat kekasih putranya nampak muram.


“Kau tak ingin mengecek kandunganmu ke dokter?” tawar Mommy Megan. Sejak memastikan menggunakan testpack, mereka belum pernah meyakinkan sekali lagi ke rumah sakit. Tapi sudah yakin kalau Gwen sungguh mengandung karena alat yang dia beli memiliki tingkat akurasi yang tinggi.


“Aku ingin menunggu Danzel pulang agar bisa mengecek bersama,” tolak Gwen secara halus.


“Kau bisa melakukannya dua kali ketika Danzel pulang. Sekarang aku ingin memastikan kondisi kalian baik-baik saja. Bagaimana?” Pada akhirnya Mommy Megan memaksa agar Gwen mau menerima tawarannya.


Keduanya pun tak jadi pulang ke mansion tapi berbelok sebentar ke dokter kandungan yang sama dengan saat program hamil. Dokter Mallory memeriksa kandungan Gwen menggunakan USG dan meminta pasiennya duduk lagi di kursi.


“Apakah selama kehamilan Anda ada keluhan?” tanya dokter Mallory memastikan karena kondisi zigot yang dia lihat seperti kurang berkembang dengan baik.

__ADS_1


“Aku beberapa kali merasakan kram,” jawab Gwen.


Dokter Mallory mengangguk mengerti. Dia menjelaskan pada pasien agar mengurangi aktivitas dan jangan terlalu banyak berpikir. “Usahakan terus bahagia, Nona, agar tak stres. Karena kondisi pikiran yang kurang baik bisa mempengaruhi janin Anda,” terangnya.


“Baik.”


Setelah menyelesaikan serangkaian pemeriksaan, Mommy Megan dan Gwen menebus vitamin. Dan keduanya baru pulang ke mansion.


Hal itu mampu membuat Gwen berhenti memikirkan Danzel. Tapi hanya ketika dia bersama Mommy Megan saja. Sebab, saat sudah sendiri pikirannya akan kembali merindukan sosok pria yang dahulu selalu mengisi hari-harinya tapi kini mendadak menghilang tanpa kabar.


Seperti saat ini, Gwen tak bisa tidur. Mendadak dia ingin dipeluk oleh Danzel seraya mengelus perutnya. Tapi hanya bisa dilakukan sendiri. “Anak-anak mama kangen papa, ya? Sabar, sebentar lagi pasti papa kalian akan pulang,” gumamnya. Padahal janinnya saja belum bernyawa.

__ADS_1


Mencoba berbagai posisi apa pun Gwen tetap tak bisa berselancar ke alam mimpi. Ditambah suara anaknya yang seperti menangis di depan pintu kamarnya membuat dia bangkit dari tempat tidur dan segera membuka kayu bercat putih tersebut agar Aldrich tak semakin mengeraskan suara tangisan.


“Ma, Aldrich mimpi buruk, jadi aku ajak ke sini saja,” ujar Selena saat orang tuanya berjongkok di hadapannya.


“Ayo masuk.” Gwen menggandeng kedua anaknya dan tidur bertiga di kasur empuk milik Danzel.


“Aldrich bermimpi apa?” tanya Gwen seraya menepuk pantat anak tirinya.


“Monster besar marah-marah, Adrij takut,” adu bocah itu. Dia masih menyisakan sesegukan akibat mimpi buruknya.


Gwen menghela napasnya lemah. Dia sudah diberi tahu oleh psikiater bahwa salah satu anaknya memiliki trauma dengan suatu kejadian yang pernah mengguncang mental bocah tersebut. Yakin betul jika hal itu didapat dari perlakuan Alcie. Tapi beruntung anak kandungnya baik-baik saja mentalnya, namun cenderung sering menyembunyikan sesuatu karena tak ingin membuatnya kepikiran.

__ADS_1


__ADS_2