
Danzel mencoba mengingat kenangan saat pulang dari makan malam bersama keluarganya. Dan jawabannya saat itu pun kembali berputar dalam kepalanya. Ternyata memang Gwen sudah pernah menyinggung masalah tersebut, hanya saja dirinya selalu menampik dan membuat asumsi sendiri. “Oh sekertarisku yang malang. Maaf, aku benar-benar tak tahu jika maksud kau bertanya saat itu sedang menyinggung status aslimu.”
Gwen menggelengkan kepala hinnga rambutnya menggesek dagu Danzel. “Kau tak salah apa pun, memang aku yang terlalu takut jika kau meninggalkanku sehingga memilih untuk mengurungkan niat mengungkap status asliku.”
Danzel bisa mengerti kenapa Gwen menyembunyikan semuanya. Ternyata berawal dari jawabannya pada saat itu yang membuat sang wanita takut kehilangan dirinya. “Bagaimana aku menjelaskan pada orang tuaku jika kau masih memiliki suami? Aku tak ingin membuat mereka kecewa karena sudah memiliki harapan besar padamu,” keluhnya.
Gwen sedikit melonggarkan pelukan, tangannya terulur mengelus rahang yang ditumbuhi rambut kasar. “Orang tuamu sudah mengetahui semuanya, bahkan sebelum dia memberikan restu pada hubungan kita,” ungkapnya.
Danzel memicingkan matanya. “Bagaimana mereka bisa tahu? Kau yang mengungkap?”
“Tidak, mereka mencari tahu sendiri.”
__ADS_1
Danzel bisa bernapas lega karena orang tuanya tetap bisa menerima bagaimanapun masa lalu Gwen. Tapi tetap saja hatinya masih sedikit merasa ganjal karena wanitanya masih istri orang dan Sanchez pun sudah memperingatkan tak akan pernah mau bercerai dengan Gwen.
Keduanya saat ini masih saling diam. Gwen memandangi Danzel yang terlihat melamun seperti memikirkan sesuatu dan dia juga bingung ingin menjelaskan apa lagi karena dirasa semua cerita masa lalunya sudah diungkapkan.
Disaat yang bersamaan perut Gwen pun terasa sedikit kram lagi. “Sht ....” Dia mendesis menahan sakit.
Danzel langsung berhenti melamun dan mengecek kondisi Gwen. “Kau sakit lagi?” Tangannya segera menggendong wanitanya dan dia rebahkan ke ranjang. Mengelus perut sekretarisnya itu. “Apa masih sering terasa kram?” Dia menyembunyikan perasaan panik, bagaimana bisa membawa Gwen ke rumah sakit saat malam hari dan di luar turun salju. Pasti perjalanan akan memakan waktu lama.
“Bukankah tadi kau kesakitan?” Danzel menaikkan sebelah alisnya bingung sendiri dengan Gwen yang sudah tak meringis lagi.
Gwen mengangguk. “Sekarang rasanya nyaman saat perutku di elus olehmu. Bisakah kau melakukan ini setiap hari?” pintanya dan dijawab anggukan kepala oleh Danzel.
__ADS_1
“Terima kasih, Danzel. Walaupun aku sudah membuatmu kecewa, tapi kau tetap perhatian denganku.” Gwen lagi-lagi mengelus rahang sang pria dengan rasa syukur. “Apa tadi yang membuatmu melamun? Apa yang mengusik pikiranmu?” tanyanya. Dia dilanda penasaran.
“Aku sedang memikirkan bagaimana caranya agar kau bisa bercerai dengan suamimu. Aku memang tak membenarkan sebuah perpisahan dalam suatu pernikahan, tapi untuk kasusmu ini pengecualian. Kau sudah cukup menderita ditambah aku yang pergi meninggalkanmu beberapa hari ini pasti menambah bebanmu,” ungkap Danzel. Dia berniat ingin mengangkat Gwen dari lingkaran hitam keluarga Eisten.
Gwen merubah posisinya menjadi duduk. “Aku dan mommymu sudah memikirkan itu. Tunggu sebentar.”
Gwen menurunkan kakinya dan ingin beranjak meninggalkan ranjang empuk milik sang pria. Namun tangan Danzel mencegah.
“Mau ke mana? Memangnya perutmu sudah sembuh?” tanya Danzel.
“Hanya sebentar, aku ingin mengambil sesuatu di dalam tas.” Gwen menyingkirkan tangan sang pria.
__ADS_1