My Poor Secretary

My Poor Secretary
Part 33


__ADS_3

“Lihatlah, cantik bukan orangnya? Penyayang pula.” Danzel menepuk pundak Steve agar asistennya melihat ke arah kedatangan Gwen yang menggendong seorang anak dan menenteng tas lumayan besar berisi perlengkapan Aldrich dan sedikit barang wanita itu. Ia begitu bangga memuji Gwen.


“Memang cantik.” Steve membenarkan pujiannya dan tak berkedip menatap Gwen.


“Hei.” Danzel menyenggol lengan asistennya menggunakan siku. “Hanya aku yang boleh memujinya, kau jangan berani menjadi sainganku,” protesnya agar Steve tak melirik Gwen.


“Saya sudah memiliki istri, Tuan. Untuk apa melirik Nona Gwen,” balas Steve dengan kepalanya yang bergeleng. Belum jadi pasangan saja sudah seposesif itu tak membiarkan orang lain mendekati wanita tersebut. Mungkin efek pernah kena tikung orang. Membuat atasannya menjadi lebih waspada.


“Siapa tahu kau mau menambah koleksi wanita.”


“Satu saja tak habis, untuk apa dua.”


Obrolan asisten dan atasannya itu berhenti saat Gwen sampai di hadapan mereka. Kedua pria itu tersenyum bersamaan menyapa Gwen.


“Maaf lama.” Gwen menundukkan kepalanya dengan perasaan yang tak enak. Baru sehari bekerja sudah membuat atasannya harus menunggunya membersihkan kotoran anak tirinya.

__ADS_1


“Tak apa,” balas Danzel dan Steve bersamaan. Keduanya sama-sama mengangkat dua sudut bibir.


Danzel yang mendengar dan melihat Steve juga ikut ramah terhadap Gwen pun menginjak kaki asistennya untuk memberikan peringatan.


“Aw ...,” pekik Steve yang merasakan kakinya mendapatkan tekanan dari ujung bagian tumit pantofel atasannya.


“Apa kau baik-baik saja?” Gwen bertanya pada Steve yang terlihat meringis.


“Ah, dia memang suka berakting kesakitan seperti itu, tak perlu diperhatikan.” Steve yang ditanya, justru Danzel yang menjawab. Benar-benar pria itu tak memberikan celah untuk Gwen berkomunikasi dengan pria lain.


“Ti—” Ucapan Steve terhenti karena diserobot oleh Danzel lagi.


“Dia itu tukang drama disetiap hidupnya,” kelakar Danzel membuat Steve melongo sedangkan Gwen terkekeh lucu.


“Tuan ....” Steve hendak menegur atasannya yang membuatnya malu di depan seorang wanita. Tapi diabaikan oleh Danzel.

__ADS_1


“Gwen, ayo ku tunjukkan tempat kerjamu,” ajak Danzel. “Biar aku yang menggendong Aldrich,” pintanya merentangkan tangan ke arah bocah kecil itu. Untung saja anak tiri Gwen langsung mau berpindah tangan. Kalau tidak, bisa mati kutu akibat malu.


Danzel mengayunkan kakinya menuju pintu ruang CEO.


“Tuan, sekretarismu tempat kerjanya tak di dalam sana,” tegur Steve saat Danzel sudah membuka pintu dan mempersilahkan Gwen masuk. “Tapi ada di sini, di sampingku,” imbuhnya menunjuk meja dan kursi di dekatnya.


Danzel menatap tajam asistennya. “Tolong pindahkan meja dan kursi mantan sekretarisku ke dalam ruanganku. Mulai detik ini, sekretaris tugasnya di dalam bersamaku untuk memudahkan berkomunikasi denganku,” pintanya. Sungguh Steve yang tak pengertian. Dia kan memang sengaja membawa Gwen masuk agar bisa lebih dekat dan puas memandangi wajah cantik pujaan hatinya setiap detik.


“Loh, bukankah Anda tak suka berbagi ruang kerja dengan siapapun? Bahkan aku yang asistenmu saja ditempatkan di luar,” protes Steve. Dia ingin mengerjai atasannya selagi ada pawang.


“Steve ...!” tegur Danzel dengan lirih namun penuh penekanan. “Lakukan saja sesuai perintahku,” tegasnya agar tak dibantah.


“Maaf, aku tak tahu jika meja kerja sekretaris ada di luar. Aku akan ke sana.” Gwen yang melihat interaksi antara Danzel dan Steve itu ikut menimbrung. Ia hendak mengambil alih anak tirinya.


Tapi Danzel sudah menggerakkan tangannya agar Aldrich tak dapat digapai oleh Gwen. “Tidak, mulai detik ini, sekretarisku tempat kerjanya ada di dalam bersamaku.”

__ADS_1


__ADS_2