My Poor Secretary

My Poor Secretary
Part 57


__ADS_3

Danzel memang sengaja merekayasa agar dirinya kalah. Ketika Gwen, Selena, dan Aldrich sudah menunjukkan kepalan tangan yang artinya batu, dia baru membuka tangannya menunjukkan kertas. Cara modus yang lumayan curang.


“Yah ... baiklah, ayo cium uncle.” Danzel berpura-pura mendesah kecewa, padahal dalam hatinya bersorak gembira.


Selena dan Aldrich bergantian memberikan kecupan di pipi serta kening. Mereka lalu melirik ke arah Gwen yang masih diam mematung.


“Mama, ayo cium uncle Danzel,” perintah Selena seraya menarik ujung baju mamanya.


“Mama tidak boleh curang,” tambah Aldrich yang berpikir Gwen tak mau memberikan hukuman karena terlalu lama berdiam diri.


“Iya, Sayang.” Gwen mengelus rambut kedua anaknya.


Gwen menatap wajah Danzel yang menyeringai seperti tak sabar ingin mendapatkan ciuman darinya. Ia menelan saliva saat melihat bibir pria itu yang tadi menyentuh miliknya. ‘Haruskan aku membalasnya di bibir juga?’ gumamnya dalam hati.


“Cium dimanapun yang kau inginkan.” Danzel yang tak sabar pun berbisik di telinga Gwen dengan suaranya yang sangat sensual.

__ADS_1


Cup!


Gwen hanya berani memberikan kecupan di pipi. Itu pun cukup tiga detik saja.


Bahkan tangan Danzel yang hendak meraih tengkuk Gwen pun kalah cepat dengan gerakan wanita itu yang menjauhkan wajah.


“Lumayan, dapat asupan di malam hari,” seloroh Danzel seraya tangannya menyentuh pipi yang masih terasa sekali bekas bibir Gwen di sana.


“Kita sudahi permainannya, ya? Semua sudah kalah, kan?” bujuk Gwen dengan gugup.


“Adrij lapar,” rengek Aldrich seraya memegangi perutnya yang sudah keroncongan.


“Kita pulang, yuk. Mama buatkan makan malam di rumah,” ajak Gwen. Tak enak juga jika seharian penuh berada di apartemen Danzel. Lebih tepatnya bisa gawat jantungnya tak akan berhenti berdebar jika di sana.


“Uncle, kami pulang dulu,” pamit Selena yang menurut dengan mamanya. Ia sudah berdiri mendahului yang lain.

__ADS_1


Padahal Gwen saja sepertinya masih lengket pantatnya di sana.


Tapi lain hal dengan Aldrich. “Mau makan di sini,” rengeknya. Dia nyaman berada di sana, ruangannya dingin karena ada AC. Lain dengan tempat tinggal Gwen yang menggunakan kipas angin saja.


“Aldrich, uncle Danzel mau istirahat juga. Kita sudah seharian penuh bermain di sini,” bujuk Gwen agar anak tirinya mau pulang.


Danzel justru tersenyum dengan serangkaian rencananya. Ia mendekati Aldrich dan menggendong bocah itu. “Kau mau makan apa, boy? Uncle pesankan online. Mau pizza? Spaghetti? Burger? Atau apa? Katakan saja.”


“Danzel, tidak perlu,” tolak Gwen. “Aku bisa memasak untuknya,” imbuhnya menjelaskan. Dia sejujurnya sungkan pada Danzel, pria itu terlalu baik.


“Tak apa, lagi pula aku bekerja juga uangnya biasa dihabiskan untuk diriku sendiri. Sekarang aku tak akan bingung mengurangi hasil kerja kerasku yang semakin menumpuk, karena ada anak-anakmu dan kau yang ingin aku hidupi dengan jerih payahku,” jelas Danzel. Dia yang berdiri pun mengelus rambut Gwen yang masih duduk di karpet halusnya.


Seribu macam cara untuk modus sepertinya tak akan habis sampai Danzel mendapatkan hati Gwen. Seolah tak kehabisan ide untuk terus bersama dengan keluarga kecil wanita yang dia cintai itu.


“Ayo, boy, kita cari ponsel uncle untuk memesan makanan.” Danzel memilih untuk meninggalkan Gwen dan Selena di ruang tamunya.

__ADS_1


Danzel membawa masuk Aldrich ke dalam kamar. Membuka aplikasi untuk memesan makanan dan memilih semua menu yang tersedia di sana daripada harus bingung ingin makan apa.


__ADS_2