My Poor Secretary

My Poor Secretary
Part 84


__ADS_3

Gwen pun menyetujui permintaan Danzel yang mengajak makan malam bersama keluarga Pattinson. Dia akan mempercayakan keselamatannya kepada pria itu yang pasti bisa menjaga dirinya dan anaknya.


Hanya bisa berharap semoga akhir kisah cintanya tak seperti drama di televisi yang berakhir diberikan sejumlah uang yang banyak untuk meninggalkan sang pria karena dirinya hanya seorang wanita biasa ditambah memiliki dua orang anak.


Gwen sampai tak bisa membayangkan apa yang akan dilakukan jika hal itu terjadi. Karena uang dengan Danzel tak bisa disamakan. Danzel melebihi uang, bukan hartanya. Tapi kasih sayang dan perhatian pria itu tak akan bisa dia dapatkan walaupun memiliki uang.


Setelah jam pulang kantor, Danzel mengajak Gwen, Selena, dan Aldrich ke butik untuk mencari pakaian yang bagus untuk mereka. Tak lupa dia membawa Steve dan Chimera untuk mengikutinya juga agar tak makan gaji buta.


Danzel menggendong Aldrich saat sampai di depan sebuah gedung mewah dihiasi berbagai pajangan gaun di balik kaca. Tangan yang satu dia gunakan untuk menggandeng Selena.


“Uncle, aku sudah lama tak pernah jalan-jalan seperti ini,” celetuk Selena seraya mengayunkan tangannya. Ia terlihat sangat gembira walaupun hanya diajak ke sebuah butik saja.


“Lain kali aku ajak jalan-jalan ke tempat yang lebih indah, tapi tunggu uncle tak sibuk, ya?” ajak Danzel.


“Benarkah? Uncle tak bohong?” Selena terlihat sangat antusias akan diajak jalan-jalan walaupun belum tahu kapan. Terlihat jelas jika selama ini dia kurang merasakan kehidupan yang seharusnya didapatkan anak seumurannya. Bersenang-senang.

__ADS_1


“Tentu saja, cantik.” Danzel mengelus rambut halus Selena dengan segenap rasa sayangnya.


Gwen sedari tadi hanya mendengarkan interaksi anak dan atasannya. “Sangat disayangkan jika orang sepertimu aku sia-siakan,” gumamnya sangat lirih dan tak terdengar hingga ke telinga Danzel.


Mereka pun sampai juga di dalam butik, langsung disambut ramah oleh karyawan di sana.


“Tolong carikan pakaian dan gaun yang cocok untuk dua anakku,” pinta Danzel. Padahal belum resmi menikah dengan Gwen, tapi dia sudah menganggap Selena dan Aldrich seperti anak sendiri.


“Budak cinta,” lirih Steve dengan bibirnya mengulum senyum. Melihat tingkah tuannya yang sekarang sangatlah berbeda, jauh lebih bahagia dan memancarkan aura bapak-bapak.


“Mana keluaran terbaru yang paling bagus di sini?” tanya Danzel. Dia ingin memberikan yang terbaik pada dua calon anak sambungnya.


“Ini, Tuan.” Karyawan itu menyeret dua manekin ke hadapan Danzel.


Setelan tuxedo berwarna biru dongker, dan gaun mungil berwarna pink salem yang terlihat lembut dan elegan.

__ADS_1


“Kalian suka?” Danzel mencoba bertanya pendapat Selena dan Aldrich yang akan memakai pakaian tersebut.


“Suka, uncle.” Selena dan Aldrich mengangguk bersamaan. Mereka melihat manekin itu dengan jarak dekat.


“Steve, Chimera,” panggil Danzel dengan suara tegasnya agar telihat berwibawa.


“Ya, Tuan?”


“Temani anak-anakku untuk mencoba pakaian itu!” titah Danzel.


“Baik.” Steve dan Chimera hendak mendekati dua bocah itu.


Tapi Gwen justru mencegah. “Tidak perlu repot-repot, mereka bisa sendiri.” Dia justru tak enak hati menambah pekerjaan orang lain.


“Gwen, biarkan mereka menjalankan tugas. Mereka ku bayar mahal, jadi sudah sepantasnya menuruti perintahku.” Danzel memegang pundak wanitanya agar membiarkan dua karyawannya itu menjaga Selena dan Aldrich.

__ADS_1


Danzel mengecup pelipis Gwen agar wanita itu berhenti merisaukan pekerjaan orang lain. Sejujurnya, dia memang sengaja meminta Steve dan Chimera untuk menjaga anak-anak Gwen. Karena tentu saja ada sebuah rencana yang ingin dia lakukan.


__ADS_2