My Poor Secretary

My Poor Secretary
Part 105


__ADS_3

Seperti biasa, rutinitas Danzel saat weekdays pasti mengantar Selena ke sekolah lalu bekerja di kantor. Aldrich sudah dia masukkan ke dalam sebuah lembaga khusus taman bermain anak usia dua tahun lebih agar menambah tumbuh kembang otak juga tak akan mengganggunya berduaan bersama Gwen.


Namun untuk hari ini ada sedikit yang berbeda. Selain CEO muda itu terlihat lebih berbinar juga ada suatu hal yang ingin dilakukan Danzel. Tapi bukan sekedar aktivitas ranjang saja.


Keturunan keluarga Pattinson itu belum membicarakan keinginannya ini pada Gwen, dan saat inilah waktunya dia berbicara karena tadi pagi rencana mau memberi tahu wanita pujaan hatinya gagal akibat saat selesai mandi sudah tak ada orang.


Kaki berotot yang terbalut celana kain itu menuntun Danzel mendekat ke meja kerja Gwen. Dia berdiri di belakang kursi. Memijat bahu wanitanya untuk mengendurkan otot-otot yang kaku.


“Ada apa, kau menginginkan sesuatu?” tanya Gwen yang langsung paham kalau Danzel seperti ini pasti bukan tanpa alasan.


Danzel terkekeh, padahal bibirnya belum mengucap apa pun tapi ternyata Gwen sangat mudah menebak isi pikirannya. “Aku ingin mengajakmu ke dokter kandungan,” ungkapnya.

__ADS_1


Gwen melongo sampai mendongak menatap Danzel yang masih berdiri di belakangnya. “Untuk apa?” Wajahnya terlihat sangat bingung. Perasaan dia baik-baik saja, tak hamil atau memiliki keluhan lain dengan kandungannya.


Tangan Danzel menelusuri setiap pahatan wajah yang cantik itu. “Untuk melihat kondisi kandunganmu, Gwen. Aku ingin bibit kehidupanku cepat tumbuh di perutmu,” jelasnya.


“Jika sudah saatnya aku hamil, pasti akan tumbuh juga, Danzel. Tak perlu membawaku sampai ke dokter.” Gwen memijat tengkuknya yang mulai pegal karena mendongak terlalu lama.


Danzel meminta maaf karena kurang pengertian dengan posisinya saat ini. Dia pun mulai merendahkan tubuh agar sejajar dan sebagai ganti, tangannya memijat leher Gwen.


Danzel bahkan sudah memikirkan kehidupannya bersama Gwen dalam jangka waktu yang lama. Dia sangat serius ingin menikah dengan sekretarisnya itu sampai mengusahakan agar cepat hamil juga demi direstui oleh mommynya.


Bingung, hanya itu yang saat ini Gwen rasakan dan pikirkan. Bibirnya ingin menolak tapi hatinya tidak. Untuk sesaat dia tak langsung menjawab karena memilah keputusan yang tepat untuk dilontarkan.

__ADS_1


“Baiklah, kapan akan ke dokter kandungannya?” Akhirnya, setelah berdebat dengan hati dan pikirannya pun memutuskan untuk mengikuti keinginan Danzel.


Rasa cinta dan takut kehilangan yang mendorong Gwen berani memutuskan untuk menurut. Selain itu juga CEO Patt Group itu pasti akan tetap tinggal di sisinya dan tak akan meninggalkannya ketika hamil keturunan keluarga Pattinson. Mereka akan saling merasa terikat saat ada buah hati yang tumbuh di rahim Gwen. Berharap suatu saat peliknya hubungan wanita itu dengan sang suami tak akan merubah perhatian serta cinta Danzel padanya.


Danzel langsung melabuhkan ciuman dan memeluk wanita yang sepenuhnya sudah memenuhi relung hatinya. “Jam istirahat kita berangkat. Aku sudah reservasi jadi tak akan menunggu lama.”


...*****...


Danzel : Thor, awas ye lu sampe bikin Gwen minum pil laknat. Gaada diem-diem minum pil kabe! Pokoknya harus cepetan hamil! Udah mau gue ikutin program hamil, duit gue abis nih buat bayar itu. Jangan bikin usaha gue sia-sia ya! Lu jangan nulis kaya nupel di sebelah pokoknya. Berhenti jadi tokoh di sini juga nih kalo sampe dibikin kek gitu. *mode ngancem*


Author : Ada kembang sama kupi, semua aman wkwkwk. *tersenyum licik*

__ADS_1


Danzel : Dah alih profesi jadi dukun kayanya si author ini.


__ADS_2