My Poor Secretary

My Poor Secretary
Part 119


__ADS_3

“Ayo serang mama ...!” seru Danzel mengajak Aldrich dan Selena melemparkan bola salju ke arah Gwen.


Keempat orang yang belum resmi menjadi keluarga itu pun bermain dengan suka cita. Semua terlihat bahagia.


Gwen melempar gumpalan salju dan tak sengaja mengenai kepala Danzel. Dia menjulurkan lidah mengejek sang pria. “Aku menang.”


“Aku balas.” Danzel mengambil salju lebih banyak dan membuat bola yang lebih besar. “Selena, Aldrich. Ayo bantu uncle menyerang mama,” pintanya.


“Oke, uncle.” Selena dan Aldrich pun bersemangat membuat senjata masing-masing.


“Kalian curang, bermainnya keroyokan,” ujar Gwen. Dia mencoba berlari di atas salju untuk menghindari serangan.


“Ayo kita kejar mama, uncle,” ajak Aldrich.


Danzel bersama dua bocah itu pun ikut berlari semakin mendekati Gwen.


Bugh! Bugh! Bugh!


Tiga bola salju mendarat sempurna di tubuh Gwen. Ada yang terkena kaki, lengan, dan perut. Dua tak terlalu keras, namun yang di perut hantamannya terasa lebih kencang.


“Aw ...,” rintih Gwen memegang perutnya. Dia berhenti sebentar dan duduk sembarangan.

__ADS_1


Danzel yang melihat Gwen seperti kesakitan pun buru-buru menghampiri wanita yang dia cintai itu. “Kau baik-baik saja?” Tangannya ikut mengelus bagian luar jaket tebal yang membungkus seonggok daging tersebut.


“Perutku sepertinya kram, mungkin karena cuacanya terlalu dingin,” jawab Gwen.


“Kita masuk saja kalau begitu,” ajak Danzel. Dia tak mau mengambil risiko jika terjadi sesuatu hal yang buruk dengan wanitanya.


Gwen mencegah Danzel yang ingin membawanya ke dalam. “Tidak, perutku sudah baik-baik saja. Bermainlah dengan anak-anak. Aku akan melihat kalian dari sini.”


Gwen tak ingin merusak kebahagiaan Selena dan Aldrich yang sedang riang bermain dengan salju.


“Aku akan menemanimu juga di sini.” Danzel memilih menjaga wanitanya dibandingkan bermain dengan calon anak sambungnya.


Danzel mengajak Gwen untuk duduk di kursi besi yang ada di sana. Merangkul wanitanya sangat posesif dan memposisikan kepala sekretarisnya untuk bersandar di bahunya. Keduanya mengamati Selena dan Aldrich yang saling melempar bola salju.


“Mungkin sebentar lagi,” jawab Gwen. Dia juga tak tahu kenapa rasanya membuat anak dengan Danzel lama sekali berkembangnya, padahal saat bersama Sanchez sangat cepat.


“Aku ingin segera menikah denganmu, sudah tak sabar meresmikan hubungan kita.” Danzel mengutarakan isi hatinya. Ia meninggalkan kecupan di pelipis Gwen sangat lama. Jika belum resmi menjadi pasangan suami istri, rasanya ada yang kurang baginya. “Aku menyayangimu dan juga anak-anakmu,” gumamnya.


“Uncle ...,” panggil Aldrich seraya berlari menuju ke arah Danzel.


Danzel langsung menangkap tubuh mungil itu dan didudukkan di pangkuannya. “Apa, boy?”

__ADS_1


“Aku tadi jatuh terkena lengan kakak Selena, tapi tak menangis,” adu Aldrich.


“Hebat anak uncle,” tutur Danzel. Rasanya aneh ketika mengatakan anak uncle.


Selena menunduk malu karena membuat adik tirinya terjatuh. “Maafkan aku karena tak sengaja menyenggol Aldirch,” sesalnya.


Danzel terkekeh dan mengulurkan tangan agar Selena mendekat ke arahnya. “Tak apa, Selena. Namanya juga bermain. Kalau ada yang jatuh wajar saja,” ujarnya seraya mengelus puncak kepala bocah sepuluh tahun itu.


Semakin hari Danzel sangat dekat dengan Aldrich dan Selena. Mereka sudah seperti pasangan ayah dan anak pada umumnya. Bahkan dua bocah itu merasa memiliki sosok papa yang sudah lama sekali tak mereka dapatkan.


“Uncle,” panggil Selena ragu-ragu.


“Ya?” Danzel menatap bocah yang memanggilnya itu dengan sorot mata penuh kasih sayang.


“Boleh aku memanggilmu papa?” pinta Selena.


“Aku juga mau papa.” Aldrich pun ikut-ikutan.


Danzel menarik dua sudut bibirnya. Ini namanya mendapatkan lampu hijau dari anak-anak Gwen. “Tentu saja boleh, bahkan sebentar lagi uncle memang akan menjadi papa kalian.” Peluk layaknya seorang ayah pun dia berikan pada Aldrich dan Selena. Tak lupa menciumi puncak kepala dua bocah itu sebagai ungkapan rasa sayangnya.


...*****...

__ADS_1


...Kalian bahagia sekali hidupnya, aku jadi pengen kasih kerikil biar kesandung dikit wkwkwk....


__ADS_2