
Gwen mencoba memanggil Danzel terus, tapi tetap tak ada sahutan. Dan akhirnya hanya dengkuran yang dia dengar. “Ternyata kau tertidur, apa yang terjadi denganmu di sana? Kenapa suaramu terdengar sedih?” gumamnya.
Gwen tak mematikan telepon tersebut. Mendengar suara Danzel walaupun hanya sebatas dengkuran bisa sedikit mengobati rasa rindu. Tangannya mengelus perut. “Papa kalian sepertinya sangat lelah,” cicitnya pada calon anak-anaknya.
Gwen sampai berbaring menunggu panggilan itu terputus sendiri. Dan tak terasa dia juga ikut terlelap, suara Danzel seperti menenangkan dirinya.
Di negara tempat Danzel berada, CEO Patt Group itu tidur di lantai. Hanya mengandalkan baju hangat tanpa menggunakan selimut untuk mengurangi suhu yang rendah. Alkohol membuatnya pusing dan seperti ingin terlelap.
Cahaya alami dari luar jendela pun mulai menyusup masuk ke dalam rumah sederhana milik Danzel. Dia menutup mata menggunakan tangan agar tak silau. “Lagi-lagi aku tidur di lantai,” gumamnya. Selama satu minggu ini dia selalu mabuk di malam hari dan paginya sudah terbangun di atas lantai.
__ADS_1
Danzel merubah posisinya menjadi duduk. Mengecek ponselnya yang ternyata sudah mati karena kehabisan daya baterai. “Apa saja yang aku lakukan dengan ponsel ini sampai mati?” Dia pun terkekeh sebentar. “Apa ponselku sudah mulai boros baterainya? Padahal yang aku hubungi saja tak mengangkat teleponku tapi bisa ha—”
Danzel menghentikan ucapannya saat memikirkan kalau hal itu tak mungkin terjadi jika selama semalaman ponselnya tak digunakan. “Kacau!” umpatnya. Dia segera mengisi daya baterai untuk melihat bahwa apa yang dia pikirkan salah.
Danzel langsung mengecek riwayat panggilan. “Tiga jam? Apa yang aku bicarakan dengan Gwen sampai telepon selama ini?” gumamnya merasa bingung. Dia belum mengingat apa pun karena terakhir kali langsung tertidur pulas.
Danzel memijat pelipisnya seraya beralih membuka pesan. Ternyata Gwen sudah mengirimi dia foto setelah mandi dengan isi pesan menanyakan kabar, memberi semangat pada dirinya, dan juga mengatakan untuk segera pulang jika urusan sudah selesai.
Danzel bingung harus membalas apa, tapi jika diabaikan dia merasa tak enak karena sudah terbaca. Setelah mengirim pesan pada Gwen, ponsel kembali dimatikan. Dia mengeluarkan sim card dan membuang ke sampah.
__ADS_1
“Apa yang kau lakukan Danzel? Menggoda istri orang? Bodoh! Masih saja kau memikirkan dia!” Danzel merutuki dirinya sendiri. Meninggalkan ponselnya di atas meja dan memilih masuk ke dalam kamarnya untuk merenungkan diri atas kesalahan yang sudah diperbuatnya.
Danzel tak menyalahkan Gwen atas kejadian yang menimpa dirinya. Semua murni karena dia yang tak hati-hati dalam melabuhkan hati.
Sementara itu, Gwen yang baru saja membaca pesan dari Danzel pun terlihat lebih ceria dan segar dari kemarin. Dia berencana ingin memberi tahu Mommy Megan kalau Danzel sudah menghubungi dirinya. Anak-anaknya sudah diantarkan oleh supir dan Chimera untuk berangkat ke sekolah.
Kaki Gwen mengayun hati-hati agar tak tergelincir saat menuruni anak tangga. “Pasti Mommy Megan akan senang mendengar kabar Danzel yang sudah menghubungiku,” gumamnya.
Gwen mencari keberadaan mertuanya yang biasa sedang duduk santai di ruang keluarga, tapi tak ada. Dia pun bertanya pada pelayan mansion dan ternyata sedang duduk di taman belakang.
__ADS_1
Gwen kembali mengayunkan kaki menuju tempat yang tadi diberitahukan oleh pelayan. Namun, dia tak jadi menemui Mommy Megan, justru bersembunyi di balik pilar saat melihat mertuanya sedang berbincang serius dengan Steve.