My Poor Secretary

My Poor Secretary
Part 103


__ADS_3

Setelah mengecup bibir Danzel, Gwen buru-buru menjauh dari ranjang dan berlari ke kamar mandi. Dia tahu apa yang tadi dilakukan pasti akan membangkitkan hasrat prianya, maka dia melarikan diri sebelum diajak bermain ke atas nirwana lagi. Tubuhnya sudah sangat lelah saat ini. Danzel benar-benar tak melepaskannya walaupun hanya bermain dua kali pada malam ini.


“Gwen ...!” seru Danzel, dia bukan marah tapi bahagia. Wajahnya saat ini berseri gembira mendapatkan ciuman dari wanitanya. “Kau curang, aku belum membalasmu,” imbuhnya.


Danzel pun menurunkan kakinya dan segera menyusul Gwen ke kamar mandi. Saat mencoba membuka pintu, ternyata tak bisa. Tangannya menggedor sepenuh tenaga.


“Gwen, kenapa kau menguncinya? Aku juga ingin mandi bersamamu,” teriak Danzel agar suaranya bisa terdengar sampai ke dalam.


“Sengaja, aku tahu pasti kau bukan ingin mandi bersama saja, tapi menginginkan lebih,” balas Gwen dengan suaranya yang ditinggikan juga.


Danzel menghela napasnya kecewa, padahal ingin mencoba bermain di kamar mandi juga. Tapi niatannya sudah bisa ditebak terlebih dahulu oleh Gwen.


CEO Patt Group itu pun memilih duduk di sofa yang ada di walk in closetnya. Kamar mandinya berada di dalam sana juga. Dia tak berniat memakai baju, membiarkan tubuh polosnya terekspose.

__ADS_1


Klek!


Gwen membuka pintu setelah selesai membersihkan dirinya dari sisa-sisa percintaan semalam. Tubuhnya sudah tak polos, kini ada sehelai kain yang membungkus seonggok daging penuh kenikmatan dunia itu. Rambutnya yang basah dibiarkan terurai hingga air menetes di lantai. “Aku pinjam handukmu,” ujarnya seraya melemparkan senyum termanisnya.


Danzel segera menghampiri wanitanya, memegang pinggul yang indah itu dan menyeret ke arahnya hingga bertubrukan dengan deoducknya. Sedangkan tangan satunya berada di handuk yang membungkus Gwen. “Bayar dengan tubuhmu nanti malam, tak ada yang gratis mulai sekarang,” bisiknya. Sorot matanya terlihat tak main-main dan penuh gairah.


Gwen mencubit perut Danzel. “Mandi! Kita harus berangkat ke kantor untuk bekerja. Jangan mentang-mentang kau CEO di sana dan seenaknya berlibur,” pintanya. Dia ingin menghindari pria itu pagi ini. Entah kalau nanti malam, apakah dia bisa mengelak ajakan Danzel. Sebab, sekali merasakan kenikmatan dengan orang yang dicintai, maka dia menginginkan terus dan menjadi candu bagi mereka.


Cup!


“Sombong sekali,” cibir Gwen. Bibirnya mencebik seolah mengejek Danzel.


“Hentikan bibirmu itu kalau tak ingin ku ajak ke atas ranjang lagi.” Danzel mengecup lagi bagian wajah Gwen yang setiap hari terlihat seperti melambai padanya ingin disesap.

__ADS_1


“Ranjang terus pikiranmu.” Gwen mengusap wajah Danzel seolah membersihkan pikiran mesum prianya.


Ting ... tong ...


“Mama ...!”


Suara bel apartemen milik Danzel menggema hingga ke telinga kedua manusia yang sedang dimabuk asmara. Diiringi Aldrich yang memanggil Gwen juga.


“Mandilah wahai CEOku yang tampan.” Gwen mendorong tubuh Danzel hingga masuk ke dalam kamar mandi dan handuk yang menutupinya lolos karena ditarik oleh satu-satunya keturunan Pattinson. Dia tak peduli, langsung menutup pintu dan segera mencari pakaiannya yang masih ada di lantai dapur.


“Sebentar, Sayang.” Gwen segera membukakan pintu, bahkan dia tak sadar jika pakaiannya sudah lecek.


Gwen menyapa dua anaknya yang sudah berdiri di hadapannya dan terlihat masih seperti orang baru bangun tidur. Di belakang mereka ada Steve dan Chimera.

__ADS_1


“Mama tidur di apartemen uncle Danzel?” tanya Selena dan Aldrich bersamaan.


__ADS_2