
Dokter sudah selesai menjahit sayatan di perut Gwen. “Nona, tolong jangan tidur terlebih dahulu sebelum tekanan darah kembali normal,” peringatnya. Sorot matanya beralih ke Danzel. “Tuan, tolong ajak istri Anda mengobrol agar tak mengantuk,” pintanya.
“Baik, dok.”
Dokter pun keluar memberitahukan pada salah satu perawat untuk menyiapkan ruang rawat VVIP. Dan Gwen dipindahkan ke sana.
“Saya cek tekanan darahnya dulu, Nona.” Salah satu perawat meminta izin pada Gwen. Dia pun mengecek tensi darah pasien tersebut. “Sudah kembali normal, jika mengantuk silahkan untuk istirahat,” imbuhnya memberi tahu.
“Terima kasih.” Danzel mengangguk ramah saat perawat hendak keluar. Kini dia beralih memandang istrinya dan mengelus kening yang tadi sempat mengeluarkan keringat banyak saat persalinan. “Apa kau mengantuk?” tanyanya.
“Tidak, aku ingin melihat anak-anak kita. Apakah belum dibawa ke sini?”
“Belum, nanti aku minta perawat untuk memindahkan anak-anak ke sini saja. Tapi kau tidur dulu, oke? Sudah tiga jam sejak kau melahirkan tapi belum istirahat,” bujuk Danzel. Dia tak tahu bagaimana rasanya melahirkan entah lelah atau tidak. Tapi jika dokter dan perawat sedari tadi memberikan arahan untuk istirahat jika merasa ngantuk, dia berpikir bahwa sudah pasti orang melahirkan itu kelelahan mau dengan cara normal ataupun caesar.
“Baiklah.” Gwen pun memejamkan matanya. Memilih untuk menuruti suaminya.
__ADS_1
“Selamat istirahat, istriku. Terima kasih sudah berjuang selama sembilan bulan untuk mengandung anak-anakku dan melahirkan ketiganya dengan selamat. Aku mencintaimu,” bisik Danzel di telinga Gwen dan mengecup kening istrinya.
Gwen yang ingin tidur akhirnya membuka mata lagi. “Sudah kodratku sebagai seorang wanita, Sayang. Aku juga berterima kasih padamu karena tetap bertanggung jawab dengan apa yang sudah kau lakukan padaku,” balasnya seraya mengelus rahang tegas suaminya.
“Aku ingin mencium bibirmu,” celetuk Danzel yang sedari tadi sudah melihat bagian wajah istrinya yang menggoda.
“Lakukan saja.”
Danzel mendekatkan wajahnya pada Gwen. Mencium dengan penuh cinta. Hanya sebentar keduanya melakukan itu, Danzel meminta istrinya untuk tidur. Dan istri CEO Patt Group beberapa menit kemudian telah terlelap.
“Ada yang bisa dibantu?” sapa dokter Mallory.
“Bisakah memindahkan anak-anakku ke kamar rawat istriku saja?” pinta Danzel.
“Bisa.” Karena kondisi ketiga bayi Gwen lahir dalam kondisi normal, sehingga dokter mengizinkan untuk tak dirawat di ruangan khusus bayi.
__ADS_1
“Baik, aku tunggu.”
Danzel menutup panggilan tersebut. Dan kembali duduk di dekat istrinya. Tak berselang lama, orang tuanya beserta dua anak sambungnya masuk ke dalam setelah mendapatkan kabar.
“Mam—” Aldrich dan Selena tak jadi memanggil mamanya saat Danzel sudah memperingatkan menggunakan isyarat telunjuk yang ditempelkan pada bibir.
“Mama sedang istirahat,” lirih Danzel menasehati anak-anaknya agar tak membuat gaduh.
Aldrich dan Selena mengangguk paham. Keduanya diajak duduk di sofa oleh tuan dan nyonya Pattinson.
Dan beberapa menit berikutnya pintu ruangan itu ada yang mengetuk. Danzel meminta tolong pada mommynya untuk membuka. Ternyata ada tiga perawat yang mendorong box bayi ke dalam.
“Saya letakkan box bayinya di sini, Tuan,” ujar salah satu perawat. Tiga box itu dibuat berjejer dengan jarak dua meter dari ranjang pasien.
Danzel melihat kondisi anak-anaknya terlebih dahulu sebelum mengizinkan perawat untuk keluar. “Kenapa anakku terlihat kecil sekali?” tanyanya. Saat di ruang operasi dia tak terlalu memperhatikan karena fokusnya lebih banyak pada Gwen.
__ADS_1