
Petugas itu menyampaikan bahwa Danzel Pattinson dan Gwen Eisten tak bisa mendaftarkan pernikahan karena calon mempelai wanita masih berstatus sebagai istri seseorang.
“Kau yakin? Mungkin datamu salah, coba dicek sekali lagi.” Danzel mencoba memancing petugas itu agar menyampaikan siapa suami dari Gwen Eisten.
“Benar, Tuan. Semua data dirinya sama dengan yang ada di kartu identitas. Dan di sini Nona Gwen Eisten belum bercerai dengan suaminya Sanchez Eisten,” ungkap petugas itu.
“Baiklah, terima kasih. Kalau begitu aku tak jadi mendaftarkan pernikahanku.” Danzel pamit undur diri. Dia berjalan keluar meninggalkan gedung lembaga pemerintahan tersebut.
Lagi-lagi CEO Patt Group itu menutup pintu sekeras mungkin. “Argh ...!” raungnya. Danzel ingin marah tapi dengan siapa? Gwen? Mana bisa dia melakukan hal tersebut pada wanita yang dicintai. Yang bisa dia lakukan adalah merutuki kebodohannya karena jatuh cinta pada orang yang salah.
Steve menutup mulutnya, padahal sejujurnya ingin mengajukan protes karena dahulu saat dirinya mencari informasi tentang Gwen justru diomeli habis-habisan. Tapi tak tega saat melihat wajah atasannya yang terlihat frustasi. “Anda ingin menenangkan diri, Tuan?” tawarnya.
__ADS_1
“Ya, kau turunlah dan kembali ke kantor menggunakan taksi!” titah Danzel.
“Tidak, Tuan. Emosimu sedang tak stabil,” tolak Steve. Orang yang berada dalam kondisi pikiran tak baik, bisa saja membahayakan diri sendiri.
“Steve, turuti perintahku atau kau akan ku pecat!” ancam Danzel. Sorot matanya nampak tak main-main. Dia tak ingin diganggu oleh siapapun. Pikirannya sangat kacau. Ingin kecewa tapi Gwen memang tak pernah membohonginya, hanya saja tak pernah mengatakan bahwa masih memiliki suami sehingga membuatnya memiliki asumsi sendiri kalau wanita itu masih janda. Kini, dia merasa bodoh telah dibutakan dengan rasa kagum pada seseorang dan berakhir jatuh cinta hingga rasanya dadanya begitu sesak menerima kenyataan pahit ini.
“Baik, Tuan.” Steve menuruti perintah atasannya, masih sayang pekerjaan sebab ada keluarga yang harus dia nafkahi.
“Baik.” Steve pun menutup pintu mobil saat atasannya sudah berpindah duduk di kursi kemudi dan langsung melesat membelah jalanan dengan kecepatan yang tinggi.
Steve tentu saja tak tinggal diam. Dia memberhentikan taksi untuk mengikuti Danzel. Tapi tetap tak lupa untuk menghubungi psikiater dan memberikan alamat tempat tinggal Gwen.
__ADS_1
Di dalam mobil, Danzel terus memukuli stir kemudi. Dia menyalahkan dirinya sendiri atas kecerobohannya. “Ku kira dia janda, ternyata suaminya masih ada,” keluhnya.
Danzel berniat ingin menjauh dari Gwen untuk beberapa saat hingga pikirannya mulai jernih untuk mengambil keputusan terbaik demi kehidupannya dimasa depan.
Sementara itu, sebelum ke apartemen calon menantunya, Mommy Megan mampir sebentar ke apotik untuk membeli testpack. Dia ingin memastikan jika Gwen sungguh hamil.
Mommy Megan rasanya sudah tak sabar sampai di apartemen Gwen. Dia dan suaminya akhirnya sampai juga di tempat tujuan.
Keduanya langsung dipersilahkan masuk ke dalam oleh Chimera karena Gwen sedang ke toilet.
“Gwen.” Mommy Megan berdiri melepaskan pantatnya dari sofa saat melihat Gwen datang menghampirinya. Dia mengeluarkan sebuah kotak berisi testpack digital pada calon menantunya. “Coba kau cek urinemu dengan ini.”
__ADS_1