My Poor Secretary

My Poor Secretary
Part 64


__ADS_3

Tak ada suara apa pun di ruang tamu itu. Hanya degupan jantung Gwen dan Danzel yang saling bersahutan. Keduanya sedang merasakan debaran dan gelora asmara yang begitu hebat.


Gwen yang masih berada dalam dekapan hangat dan bersandar di dada bidang Danzel bahkan bisa merasakan jika jantung pria itu sedang memompa darah begitu cepat.


Danzel juga demikian, ia bisa merasakan Gwen seperti dirinya. “Apakah kau menginginkan sesuatu dariku?” tanyanya.


Sejujurnya, Danzel yang menginginkan sesuatu dari Gwen. Ingin kepuasan yang lama tak pernah dia dapatkan. Tapi ya namanya juga basa-basi, lebih tepatnya sedikit menahan agar tak terlalu agresif. Walaupun sebetulnya dia mau sekali langsung menerkam Gwen saat ini juga.


Gwen menarik napasnya dalam-dalam dan menghembuskan perlahan. “Tidak,” elaknya. Ia menggigit bibir bawahnya merutuki mulutnya yang sudah berbohong.


Gwen ingin, ingin ditelanjangi. Sial! sudah lama sekali dia tak pernah terpuaskan. Tapi ia merasa masih terlalu dini dengan hubungan yang baru satu minggu kenal itu.


Danzel mendesah kecewa, ternyata wanitanya tak menegang seperti miliknya yang sedang mengeras di balik dalaman mahalnya.


Jari-jari Danzel bermain curang, dia memberikan rangsangan berupa sentuhan lembut di lengan, lalu berpindah ke punggung, dan leher. Secara bergantian dia lakukan di tiga titik itu hingga tubuh Gwen sangat kaku.

__ADS_1


“Kenapa kau tegang sekali?” bisik Danzel di telinga Gwen. Suaranya terdengar sangat serak dan napasnya hangat.


“Ah—tidak,” jawab Gwen sangat gugup.


“Gwen, suara erotis singkatmu itu membuatku ingin melakukan hubungan intim denganmu,” balas Danzel seraya tangannya memegang pinggul sang wanita, kian mendekatkan bagian inti Gwen dengan miliknya walaupun sama-sama tertutup kain.


Gwen memejamkan matanya, tangannya mencengkram kaus hitam milik Danzel. Sial, gejolak hasrat yang dia coba hindari justru mengelabuhi pikirannya. Ujung buah dadanya bahkan sudah menegang, dan oh ... tidak, bagian bawahnya berkedut saat merasakan sesuatu di sela-sela pangkal pahanya bergesekan dengan geoduck Danzel.


Gwen ingin melepas tangannya yang memeluk Danzel, tapi justru kian erat. Hati, akal pikiran, dan hasratnya tak bisa berjalan lurus untuk saat ini.


“Ya, Sayang?” Lagi-lagi Danzel sengaja membalas dengan suara sensual di telinga wanitanya.


“Bisa kau membiarkan aku pergi?” Pertanyaan yang salah, mana mungkin Danzel mau melepaskan Gwen disaat situasi yang menguntungkan bagi pria itu.


“Tidak,” tolak Danzel. Suhu tubuhnya sudah mendidih saat ini. Permukaan kulitnya saja panas, AC yang tadinya begitu dingin menusuk kulitnya sudah tak dia rasakan lagi.

__ADS_1


Sebenarnya bisa saja Gwen mendorong tubuh Danzel agar terjatuh ke lantai, posisi pria itu ada di ujung. Tapi ya memang dia saja yang tak berniat untuk menjauhkan diri dari Danzel.


“Aku tegang sekali, Danzel. Tapi aku belum ingin melakukannya denganmu, perkenalan kita terlalu singkat.” Akhirnya, Gwen pun menjelaskan situasi yang dia hadapi saat ini agar prianya mau mengerti perasaannya.


Kejujuran Gwen membuat Danzel menyeringai puas. “Aku akan melepaskanmu, asalkan kau mau mengatakan jika mencintaiku.” Selalu saja menggunakan kesempatan dalam setiap situasi.


“Apakah harus?”


“Ya, jika tidak, maka tak akan aku lepaskan kau seharian ini.” Jemari Danzel mulai nakal menysup ke dalam kaus dan membuat sebuah lingkaran di kulit punggung wanitanya.


...*****...


...Itu kalo AC, sofa, lantai, karpet, gorden, meja, semuanya bisa ngomong, kayanya bakalan bilang modus terus ......


...Oke, yang gatau geoduck, silahkan cari di google ya. Jangan liat yg masih kecil-kecil. Yang gedong dan panjang ya shay wkwkwk itu sejenis kerang tapi liat aja deh bentuknya di google biar kalian tau sendiri....

__ADS_1


__ADS_2