My Poor Secretary

My Poor Secretary
Part 164


__ADS_3

Danzel menatap punggung Gwen yang semakin menjauh meninggalkan kamarnya. Dia setia menanti kedatangan wanitanya kembali. Dan wajah berseri pun muncul menghampirinya dengan satu tangan disembunyikan di balik tubuh Gwen.


“Apa yang kau bawa?” tanya Danzel penasaran.


Gwen tak menjawab pertanyaan tersebut, tapi duduk dengan menekuk kaki kirinya di atas ranjang dan yang sebelah dia biarkan menyentuh lantai. Dia menghadap ke arah Danzel. Tetap menyembunyikan benda di balik tubuhnya.


“Aku sudah mengajukan gugatan cerai ke pengadilan.” Gwen justru mengungkapkan sebuah informasi.


“Lalu, apa hubungannya gugatan itu dengan benda yang ada di balik tubuhmu?”


“Ini adalah bukti yang aku berikan kepada pengadilan sebagai bahan pertimbangan agar pengajuan gugatanku diterima. Tentu saja semuanya tak lepas dari bantuan mommymu,” terang Gwen. “Jadi kau tak perlu bingung memikirkan bagaimana caranya agar aku bisa bercerai dengan Sanchez,” imbuhnya.

__ADS_1


Danzel menaikkan sebelah alisnya. “Memangnya apa isinya?” Dia sudah tak sabar ingin melihat barang bukti tersebut.


Gwen menarik kedua sudut bibirnya membentuk senyum yang sempurna. Tangannya mengeluarkan sebuah box hadiah yang pada saat itu gagal untuk kejutan Danzel. “Bukalah.” Dia memberikan kotak tersebut di hadapan CEO Patt Group.


Danzel menerima benda tersebut. Kotak yang tak terlalu besar dihiasi pita. Entah apa isinya dia juga belum bisa menebak. Perlahan tangannya menarik ujung pita hingga tali tersebut terurai.


Gwen tak sedetik pun memalingkan pandangannya dari Danzel. Dia ingin tahu bagaimana reaksi ayah dari anak yang sedang dikandungnya itu ketika mengetahui kehamilannya.


Gwen mengangguk dan matanya berkaca-kaca terharu saat melihat raut Danzel yang sudah meneteskan air mata bahagia. Didetik itu juga tubuhnya dipeluk oleh Danzel.


“Gwen, maafkan aku, aku sungguh menyesal sudah meninggalkanmu selama satu minggu lebih.” Danzel terus saja merasa bersalah tak bisa berada di samping sang wanita ketika pertama kali mengetahui kehamilan tersebut.

__ADS_1


Danzel melabuhkan kecupan di kening, kedua pipi, hidung, dagu, dan berakhir mencium bibir Gwen dengan bahagia. “Aku mencintaimu, Gwen. Maukah kau memaafkan kesalahanku?”


Gwen mengusap rambut Danzel dengan penuh kasih. “Kita sama-sama salah, aku tak mengungkap jati diri asliku dan kau yang senang berasumsi sendiri.”


“Apa pun kesalahan kita, aku sudah melupakan dan memaafkannya.” Danzel sudah tak peduli lagi dengan permasalahaan cintanya. Kini hanya rasa bahagia yang sedang memenuhi hatinya.


Danzel mendekatkan kepala di perut Gwen, menaikkan jaket dan baju wanita itu hingga kulit putih terekspose. “Anak papa tumbuh di sini dengan baik, oke? Papa janji tak akan meninggalkan kalian lagi,” ujarnya seolah berbicara dengan sang anak. Dan kecupan cukup lama pun mendarat di kulit tersebut.


Gwen membiarkan Danzel terus berceloteh dengan perutnya. Keduanya terlihat baik-baik saja seolah tak pernah terjadi sebuah masalah apa pun, padahal baru saja berselisih paham tapi langsung terlupakan dengan adanya sang buah hati pembawa kebahagiaan.


“Berapa usia kandunganmu?” tanya Danzel. Matanya menatap lekat wajah Gwen tapi tanggannya terus mengelus perut sang wanita. Rasanya tak bisa didefinisikan lagi saat bibit kehidupan yang setiap hari dia tebar di dalam rahim Gwen akhirnya tumbuh juga.

__ADS_1


__ADS_2