My Poor Secretary

My Poor Secretary
Part 22


__ADS_3

Resepsionis langsung menghubungi Steve untuk memberitahukan bahwa ada seorang wanita yang menerobos masuk ke lantai atas di mana ruangan CEO berada.


Steve yang mendapatkan kabar langsung izin masuk ke dalam ruangan atasannya. Terlihat jelas pria berparas tampan dengan bulu-bulu kasar di sekitar rahang tengah berkutat dengan dokumen dihiasi wajah yang berseri karena tengah memikirkan wajah Gwen.


“Ada apa?” tanya Danzel sembari menghentikan aktivitasnya sejenak.


“Aku baru saja mendapatkan laporan jika ada seorang wanita bernama Alcie Glee mengaku menjadi colan istri Anda dan dia memaksa masuk bertemu denganmu,” terang Steve menyampaikan seluruh informasi yang dia dapatkan.


“What? Alcie Glee? Orang yang seharusnya menjadi teman kencanku?” pekik Danzel terkejut. Wajahnya yang berbinar kini berubah masam.


“Sepertinya orang yang sama.”


Danzel mematikan komputernya, memasukkan ponsel ke dalam saku jas dan segera berdiri. “Katakan padanya, aku sedang rapat,” pintanya.


“Memangnya kenapa harus berbohong?” tanya Steve yang belum paham dengan situasi tuannya.


“Aku tak mau menemuinya, wanita itu merepotkan. Lakukan saja sesuai perintahku.” Danzel mengayunkan kakinya menuju sebuah ruangan yang biasa dia jadikan tempat untuk istirahat dikala lelah. Ia bersembunyi di sana.

__ADS_1


Sedangkan Steve kembali ke meja kerjanya yang terletak di depan ruangan CEO.


“Maaf, Nona. Kau mau bertemu siapa?” tegur Steve yang melihat Alcie main menyelonong melewati dirinya begitu saja.


“Calon suamiku!” jawab Alcie dengan ketus.


Steve menaikkan sebelah alisnya seolah mengejek. “Siapa calon suamimu?” Ia berusaha untuk tetap terlihat tenang.


“Danzel Pattinson, CEO Patt Group!”


“Heh! Kenapa kau tertawa?! Sudah bosan bekerja di sini?!” Alcie yang geram karena merasa diejek pun mendekati Steve. Dia meraih kerah kemeja pria itu dengan mata yang mendelik.


“Karena kau sangat lucu, Nona. Tuan kami belum memiliki calon istri. Dan kau datang dengan percaya diri memproklamasikan jika CEO Patt Group adalah calon suamimu,” terang Steve tak berhenti memasang wajahnya yang mengejek. “Mungkin kau salah lokasi. Seharusnya datang ke Rumah Sakit Jiwa, bukan ke sini. Halusinasimu sudah terlalu berlebihan,” kelakarnya semakin membuat Alcie geram.


Plak!


Alcie menampar sekuat tenaga di pipi Steve. “Jangan sembarangan jika berbicara!”

__ADS_1


Steve hanya mengusap kulit wajahnya yang memerah. Menatap sengit wanita di hadapannya. “Apa kau sudah membuat janji dengan Tuan Danzel? Jika belum, tolong keluar!” tegasnya. Sepertinya, wanita medusa itu tak bisa jika dihalusi.


“Sudah!”


Steve mengecek di komputer kerjanya, melihat daftar nama yang membuat janji dengan atasannya. “Siapa namamu?”


“Alcie Glee!”


“Maaf, tak ada daftar tamu bernama itu. Jadi, mohon keluar dan jangan membuat keributan di sini!” usirnya dengan suara yang lantang dan tegas.


“Heh! Namanya calon istri CEO, kalau membuat janji tak perlu terdaftar di sana! Orang sepertimu tak akan tahu kehidupan kelas atas seperti apa!” Alcie mendorong dada Steve. Lalu menyemprotkan hand sanitizer ke tangannya. “Nanti tubuhku banyak kumannya karena menyentuh pakaian murahmu,” hinanya.


Tanpa sopan santun, Alcie Glee menyelonong masuk ke dalam ruangan Danzel. Sepertinya, semasa hidupnya tak pernah diajari adab oleh orang tuanya.


Wanita itu melongo saat tak mendapati siapapun di sana. Ia berbalik menemui Steve lagi untuk bertanya. “Di mana Danzel?”


Steve tertawa terbahak-bahak. “Bukankah tadi kau mengatakan sudah membuat janji dengan Tuan Danzel? Untuk apa kau bertanya denganku? Seharusnya kau tahu di mana pria yang kau sebut calon suamimu itu!”

__ADS_1


__ADS_2