
Steve melihat layar ponselnya, di sana tertera nomor baru yang belum disimpan. Tapi jika ditelaah dari kode negaranya, dia langsung tahu siapa penelepon tersebut. Tangannya otomatis memencet tombol berwarna hijau dan mendekatkan benda canggih tersebut ke daun telinga.
“Ya?” sapa Steve. Dia diam dan menunggu penelepon mengutarakan maksud menghubunginya.
“Steve?” panggil orang tersebut.
“Ya, Tuan?” Steve langsung bisa mengenali suara atasannya. “Kau mematikan ponselmu, Tuan?” tanyanya.
“Ya, aku sedang tak ingin diganggu untuk saat ini sampai pikiranku benar-benar jernih,” jawab Danzel.
“Nyonya Megan memintamu untuk menghubungi Nona Gwen,” ujar Steve menyampaikan pesan Mommy Megan dan dia bisa mendengarkan suara helaan napas kasar dari tuannya.
__ADS_1
“Bagaimana hasil pemeriksaan anak-anakku, apakah mereka ada yang memiliki trauma?” Danzel mencoba tak menanggapi informasi dari Steve. Dia belum siap untuk berbicara dengan Gwen. Hatinya saat ini sedang terguncang dan tak ingin melakukan suatu perbuatan yang akan merugikan dirinya maupun wanitanya, sehingga dia memilih menunggu pikiran jernih terlebih dahulu baru mengambil keputusan agar tak ada penyesalan di kemudian hari karena mengambil keputusan saat emosi.
“Psikiater belum memberikan aku pesan, dia akan menyampaikan hasilnya jika sudah selesai,” jawab Steve.
“Kabari aku jika anak-anakku ada sesuatu.” Dalam kondisi seperti ini pun Danzel masih memikirkan Aldrich dan Selena yang sudah sangat dia sayangi dan seperti anak sendiri.
“Baik.”
“Tuan, apakah sudah selesai? Aku akan matikan jika Anda sudah puas bertanya.” Steve lelah menunggu hingga sepuluh menit tanpa pembahasan apa pun.
Danzel menghembuskan napasnya seperti orang yang frustasi. “Bagaimana kondisi Gwen?” Sedari tadi dia menimbang-nibang ingin menanyakan hal tersebut tapi akhirnya gengsi pun disingkirkan agar tak penasaran.
__ADS_1
“Pulanglah jika Anda memang sangat ingin tahu keadaannya, Tuan. Kau sedang menjernihkan pikiran dari Nona Gwen tapi dalam lubuk hatimu ingin bertemu dengannya. Maka lebih baik Anda kembali saja karena aku tak akan memberi tahu kondisinya,” jawab Steve. Dia tak ingin atasannya itu setengah-setengah dalam menjernihkan pikiran.
Danzel yang sedang berada di negara yang jauh dari Finlandia itu pun berdecak. Bisa-bisanya dia masih memikirkan istri dan anak orang lain. “Ku tutup teleponnya, tolong jaga keluargaku, Gwen dan anak-anaknya. Aku titip mereka padamu.”
Panggilan pun terputus. Danzel kembali meneguk champagne langsung dari botolnya. Matanya nanar menatap ke luar jendela di mana salju sedang turun begitu lebat hingga udara di dalam rumah yang saat ini dia tempati itu ikut terasa dingin.
“Kenapa sejak awal kau tak berterus terang denganku tentang status aslimu? Kenapa kau justru menerima kehadiranku hingga membuat aku sangat jatuh cinta denganmu dan kenyataan pahit harus ku dapatkan saat rasa ini memenuhi relung hatiku,” gumam Danzel. Wajahnya sudah memerah akibat alkohol yang dia konsumsi terlalu banyak. Kepalanya terasa pusing memikirkan kisah cintanya yang kembali kecewa.
Jika kisah pertamanya patah karena orang lain. Kali ini dihancurkan oleh dirinya sendiri akibat terlalu yakin dengan asumsinya bahwa Gwen adalah seorang janda.
“Argh ....” Danzel berteriak sekuat tenaga. Dia tak bisa melampiaskan emosi pada orang, sehingga hanya disalurkan dengan cara seperti ini.
__ADS_1