
“Bercanda, Danzel. Aku mana mungkin mengatur perasaan orang lain. Tak ada hak untuk melarangmu jatuh cinta dengan siapa saja, termasuk aku.” Gwen mencoba meredam amarah Danzel dengan memberikan usapan di rahang tegas yang ditumbuhi bulu-bulu kasar.
“Ku kira kau sungguh tak mengizinkanku untuk mencintaimu,” balas Danzel. Dia ikut menumpuk di atas permukaan kulit tangan Gwen yang memberinya ketenangan.
Gwen terkekeh gemas dengan tingkah pria itu. Benar-benar tak mencerminkan seorang CEO ketika bersamanya. Hanya seorang lelaki yang sedang berjuang mendapatkan cinta dengan seribu macam cara untuk meluluhkan hatinya.
“Aku hanya takut jika perasaanmu padaku akan membuat anak-anakku dalam bahaya.” Namanya juga seorang ibu, pasti yang dikhawatirkan pertama kali adalah buah hatinya.
“Tenang, aku akan menjagamu dan anak-anakmu layaknya berlian. Tak akan ku biarkan satu orang pun menyentuhmu, sekali pun itu orang tuaku,” tutur Danzel. “Itulah sebabnya aku menempatkan bodyguard untuk menjaga kalian.”
Gwen mengulas senyumnya. “Terima kasih karena sudah peduli denganku dan anak-anakku.” Ia merasa bersyukur dicintai oleh seorang pria yang terlihat bertanggung jawab seperti Danzel.
“Sudah sewajarnya aku melakukan itu.” Danzel meninggalkan kecupan di kening wanitanya. Namun suara ketukan dari luar membuatnya harus berhenti bermesraan lagi. Ternyata karyawannya datang mengantarkan makanan Selena dan Aldrich.
Danzel langsung meminta karyawan itu menaruh nampan di atas meja dekat sofa dan segera keluar setelah menyelesaikan tugas.
__ADS_1
“Aku panggil anak-anak dulu,” pamit Danzel hendak meninggalkan Gwen.
Gwen meraih tangan Danzel seolah mencegah pria itu agar tak beranjak. Tentu saja membuat CEO muda tersebut berhenti dan menengok padanya.
“Ada apa?” tanya Danzel dengan sorot matanya yang penuh cinta.
“Jangan pernah berubah,” pinta Gwen.
Entah apa maksud dari ucapan wanita itu, tapi Danzel menganggukkan kepalanya. “Aku tetap akan mencintaimu walaupun kau belum juga membalas perasaanku,” tuturnya.
Gwen pun bergeleng kepala dengan hatinya yang merasakan bahagia. Tapi bibirnya tetap terbungkam tak meloloskan sebuah jawaban akan ajakan pria yang sangat lembut dan perhatian padanya.
Danzel dan Gwen pun beriringan menemui dua bocah kecil yang masih asyik menonton televisi sembari menanti makanan.
“Makanan kalian sudah sampai,” ujar Danzel saat pintu telah mengayun ke dalam.
__ADS_1
“Hore ....” Selena dan Aldrich langsung bahagia, turun dari ranjang dan berlari ke arah dua orang dewasa yang berdiri di ambang pintu.
Kedua anak Gwen sudah merasa seperti di rumah sendiri. Mereka tak canggung berada di kantor Danzel. Mungkin karena pemilik perusahaan itu juga memperlakukan Selena dan Aldrich layaknya anak sendiri sehingga membuat nyaman.
Danzel dan Gwen hanya menyaksikan dua bocah berbeda umur itu melahap makanan. Tapi lagi-lagi kegiatan keluarga kecil bahagia itu terganggu karena suara Steve menyusup masuk ke gendang telinga mereka.
“Asistenmu memanggil.” Gwen memegang lengan Danzel begitu lembut saat mengingatkan atasannya itu jika ada orang yang izin masuk ke dalam.
“Biarkan saja.” Danzel tak berniat menjawab asistennya yang hendak masuk ke dalam.
Tapi namanya juga asisten CEO Patt Group, Steve pikir atasannya sudah benar-benar tuli sehingga dia langsung masuk ke dalam.
“Steve ...!” tegur Danzel dengan matanya melotot ke arah asistennya karena masuk tanpa seizinnya dan mengganggu kegiatan modusnya.
“Tuan, jika satu kali lagi Anda tak menjawab ketika ku ketuk pintunya, maka jangan salahkan aku jika besok ruangan ini ada bel rumahnya.” Asisten lebih garang daripada atasannya. Salah siapa CEO muda itu diam saja tak menjawab boleh atau tidak masuk ke dalam. Kalau pun tak diperbolehkan juga dirinya bisa menunggu sembari duduk santai, bukan berdiri selama setengah jam di luar.
__ADS_1