
Gwen meminta izin pada Danzel untuk mengangkat telepon sebentar. Ia juga menitipkan Aldrich selama dia keluar berbicara dengan mertuanya di luar ruangan CEO Patt Group. Ia memilih untuk ke toilet karyawan agar percakapannya tak didengar oleh siapapun.
“Ya, Ma? Ada apa?” tanya Gwen setelah ia memencet tombol hijau dan mendekatkan ponselnya ke telinga.
“Jangan lupa, besok jatuh tempo pembayaran uang sewa apartemenku!” Mama Esme mengingatkan pada menantunya.
“Iya, Ma. Aku sedang mengusahakan untuk mencari uangnya,” balas Gwen masih sopan walaupun mertuanya lumayan parasit dalam hidupnya sekarang. Namun dia sadar diri jika sudah pernah hidup dibiayai oleh suaminya sebelum menjadi narapidana. Hitung-hitung membalas semua uang yang sudah dikeluarkan Sanchez untuknya.
“Awas, jangan sampai kau kelewat tanggalnya!”
__ADS_1
“Iya, Ma. Sudah dulu, ya. Aku sedang bekerja.” Gwen hendak mematikan panggilan tersebut tapi Mama Esme berseru memanggil namanya begitu lantang, membuatnya mengurungkan niat. “Apa lagi, Ma?”
“Kau jangan memberiku uang pas dua ribu euro. Lebihkan untuk biaya bulananku, aku juga membutuhkan makan untuk menyambung hidup!” pinta Mama Esme dengan memaksa.
Gwen menghela napasnya kasar, memijat pelipisnya yang berdenyut memikirkan cara mencari kekurangan uang untuk mertuanya. “Aku usahakan.”
“Beri aku lima ribu euro untuk uang bulanan,” tambah Mama Esme meminta nominal yang lumayan besar bagi seorang Gwen.
“Ma, apa tak bisa kurang? Aku tak ada jika sebanyak itu.” Gwen mencoba menawar. Mencari dua ribu euro saja susah, apa lagi lima ribu.
__ADS_1
“Eh! Salahmu sendiri hidup susah, dulu anakku sudah memberimu hidup yang enak dengan uang tak pernah kekurangan. Sekarang giliranmu menggantinya! Bahkan lima ribu euro tak seberapa besar dibandingkan uang yang dikeluarkan oleh Sanchez untukmu dan anakmu!” omel Mama Esme begitu angkuh di telinga Gwen. “Jangan jadi mentantu yang tak berguna!” hinanya.
“Tapi suamiku mendapatkan uang dengan cara yang tidak benar, Ma. Wajar saja jika dia memiliki banyak uang. Memangnya Mama mau jika aku melakukan kesalahan yang sama seperti Sanchez dan berakhir dipenjara? Siapa yang akan memenuhi kebutuhanmu dan anakku lagi jika tak ada yang menjadi tulang punggung keluarga?” Gwen yang tak biasanya tersulut emosi pun kini sedikit kesal karena mertuanya sungguh tak bisa sabar bahkan sampai menghinanya. Padahal selama menjadi orang susah juga dia sudah membantu banyak.
“I don’t care. That’s your problem.” Mama Esme sungguh tak peduli, yang dia inginkan hanya uang, uang, dan uang. Entah dicari dengan cara baik atau buruk, yang penting foya-foya. “Bahkan jika perlu, kau jual diri saja ke club. Pasti banyak yang mau membelimu dengan harga mahal. Tubuhmu masih bagus, dua gunungmu besar, pantatmu juga semok,” ujarnya memberikan ide.
Gwen yang mendengar hal tersebut menggelengkan kepalanya. Sudah gila mertuanya itu, menyuruhnya menjual diri. “Sudah dulu, Ma. Nanti atau besok akan aku kabari jika sudah ada uangnya.” Daripada obrolan semakin melantur, lebih baik dia mengakhiri saja.
Tanpa menunggu persetujuan, Gwen mematikan telepon tersebut. Ia mengelus dadanya. “Sabar, ini ujian untuk menaikkan derajatmu.”
__ADS_1
Gwen masuk lagi ke dalam ruang CEO. Ia berhenti di ambang pintu saat melihat Aldrich berada di gendongan Danzel. “Apakah dia menangis?” tanyanya.
Danzel memutar tubuhnya untuk menatap Gwen. “Tidak, tadi dia menguap dan aku gendong. Sepertinya sekarang sudah tertidur,” jelasnya.