
“Apa kau sudah makan, Chimera?” tanya Gwen setelah mempersilahkan bodyguard barunya itu duduk di sofanya. Dia nampak sedikit canggung dengan wanita yang terlihat dingin dan tak ramah sedikit pun itu. Tapi sebisa mungkin ia tak terlihat tegang berada di sana. Bahkan atmosfernya begitu dingin tak sehangat ketika ada Danzel di sampingnya.
“Belum, Nona,” jawab Chimera sebutuhnya.
“Jangan panggil aku nona. Namaku Gwen.” Dia mengulurkan tangan mengajak Chimera berkenalan. Dua wanita itu nampak berbeda sekali kepribadiannya. Yang satu lembut dan ramah, satunya nampak judes, dingin, dan cuek.
Chimera menjabat tangan Gwen. “Chimera. Tapi maaf, aku tetap akan memanggilmu nona karena kau adalah majikanku.” Kaku sekali dirinya, bahkan ketika berbicara pun terlihat datar.
Gwen menghela napasnya, tak mau berdebat dengan orang seperti Chimera yang tentunya dia akan kalah jika melihat dari sedikit kepribadian wanita itu yang nampak keras kepala. “Baiklah, aku masak sebentar. Aku titip anak-anakku,” pamitnya. Dijawab anggukan kepala oleh Chimera.
Jika Gwen tengah memasak, lain hal dengan Danzel yang baru saja menghentikan mobilnya di depan sebuah bangunan besar berlantai empat. Mansion keluarga Pattionson nampak sepi karena memang penghuni di sana hanya sedikit.
__ADS_1
Kaki terbalut pantofel itu menghentak perlahan agar tak cepat sampai ke dalam mansion. Sembari kepalanya menengok ke kanan dan ke kiri melihat situasi di sana. Lebih tepatnya mencari keberadaan daddynya yang bisa menjadi penyelamat ketika Mommy Megan mendesak dirinya.
“Ehem!”
Deheman dari seorang wanita membuat Danzel berhenti melangkah dan berbalik badan. Ternyata Mommy Megan sudah berada di belakangnya.
Danzel langsung tersenyum dan menghambur memeluk wanita yang sudah melahirkannya. “Katanya daddy sudah pulang, kenapa mommy sendiri?” tanyanya, lebih tepatnya dia ingin mencari seseorang yang bisa membelanya disaat terpojok di rumah besar itu.
Danzel mengecup pipi mommynya. “Sengaja tak aku bawa.”
Astaga ... CEO muda satu itu ternyata masih seperti anak mommy ketika di dalam rumahnya sendiri. Bergelayut di tubuh tua yang melahirkannya, merayu seperti anak kecil.
__ADS_1
Mommy Megan mencubit perut putra satu-satunya. “Bocah nakal! Sudah ku katakan bawa wanita pilihanmu sendiri dalam waktu satu minggu, dan hari ini tepat tujuh hari setelah kau berjanji,” omelnya.
Danzel memegangi tangan mommynya agar berhenti membuatnya geli. “Memangnya aku pernah berjanji seperti itu dengan mommy?” tanyanya berpura-pura lupa.
Mommy Megan berdiri tegak dan melipat tangannya di dada. Terlintas sebuah ide agar membuat anaknya segera memperkenalkan wanita yang dicintai kepadanya. “Baiklah, karena kau tak segera mengenalkan wanitamu sendiri, maka bersiaplah untuk besok fitting baju pengantin dengan Alcie Glee!” ancamnya.
Danzel langsung melotot, matanya bahkan sampai ingin keluar dari tempat yang semestinya. Kedua tangannya mengatup memohon pada mommynya. “Jangan, wanita itu jauh sekali dari kriteriaku.”
‘Mommy juga tahu,’ gumam Mommy Megan dalam hati. “Pilihanmu hanya dua, kenalkan segera wanitamu atau menikah dengan Alcie Glee!” ujarnya dengan tegas.
“Oke, tapi mommy harus berjanji padaku, tak boleh berbicara sembarangan kepada wanitaku dan jangan pernah membuatnya sakit hati,” pinta Danzel.
__ADS_1