
Alcie merasa sudah tak mendapatkan dukungan lagi dari Mommy Megan. Tapi hatinya yang sudah diselimuti oleh kabut gelap mendorongnya untuk bertekad memiliki Danzel agar bisa membuat semua orang yang tak sejalan dengannya menyesal. Instingnya mendorong dia untuk datang ke apartemen Gwen. Memberikan peringatan pada wanita itu agar tak merusak rencananya.
Alcie memencet bel apartemen Gwen dengan tak sabaran. Menggedor-gedor pintu kayu itu dengan sangat kencang agar segera dibukakan.
“Sebentar!” teriak Chimera yang sedang membuang kotoran di toilet. “Aku sedang sembelit! Kau datang lagi setelah aku menyelesaikan urusan pentingku ini!” usirnya dengan suara yang keras. Dia sedang bersusah payah memperjuangkan kelegaan perutnya yang sangat melilit tapi susah dikeluarkan.
“Biar aku saja,” timpal Gwen. Dia pun beranjak dari tempat tidur, melewati kedua anaknya yang sedang menonton televisi di ruang tengah. Tangannya menarik handle pintu ke dalam dan langsung menatap wanita di hadapannya dengan sorot mata bingung. “Ada apa kau ke sini?”
Alcie tak menjawab pertanyaan Gwen. Dia mendorong dada wanita itu hingga menyingkir dari hadapannya. Tanpa sopan santun kakinya masuk ke dalam hunian sederhana milik Gwen. “Pergi dari kehidupan Danzel!” titahnya dengan ketus. Dia berdiri dengan melipat kedua tangannya di dada.
__ADS_1
“Apa maksudmu datang ke sini langsung memintaku seperti itu?”
“Danzel hanya milikku dan selamanya akan menjadi milikku! Kau tiba-tiba datang mengacaukan semua rencanaku!”
“Kau itu bicara apa? Aku tak paham.” Gwen mendekati kedua anaknya dan meminta Selena membawa Aldrich masuk ke dalam kamar karena melihat mereka yang menunduk takut saat ada Alcie datang.
“Danzel adalah pria yang ingin aku nikahi, dan semuanya rusak karena kau mendekatinya!” jelas Alcie. “Maka aku memintamu untuk meninggalkannya. Lagi pula kau sudah memiliki suami, untuk apa kau mendekati pria muda kaya raya? Ingin mengambil hartanya? Dasar wanita matre!” bentaknya.
Alcie mengurai tangannya yang terlipat di depan dada. Menaikkan sebelah alisnya dan tersenyum sinis. “Jika kau tak mau, maka aku akan mengambil anakku kembali!” ancamnya. Dia tahu kalau Gwen memiliki hati yang lembut dan tak tega jika melihat anak kecil yang sudah disayangi mendapatkan perilaku buruk dari orang lain.
__ADS_1
Gwen menggelengkan kepala bukan menolak atau takut, tapi dia tak habis pikir dengan Alcie yang semakin tak memiliki urat malu. “Aldrich sudah resmi menjadi milikku, kau jangan menjilat ludahmu sendiri!” tegurnya mengingatkan.
“Masa bodo. Waktumu hanya tiga detik untuk berpikir.” Alcie mengangkat tangannya untuk menghitung menggunakan jari. “Satu, dua, tiga. Waktumu habis.”
Tanpa permisi, Alcie masuk ke dalam kamar yang tadi dimasuki oleh Selena dan Aldrich. “He, anak narapidana! Ikut aku!” Dia menggendong paksa anak kandungnya.
“Tidak mau, turunkan aku, mama ... tolong ....” Aldrich menangis dan meronta. Memukuli punggung Alcie yang perlahan membawanya keluar.
“Alcie ...!” seru Gwen. “Lepaskan Aldirch dan jaga bicaramu,” pintanya seraya memberikan peringatan agar Alcie tak kembali menghina dengan mengatakan anak narapidana.
__ADS_1
“Waktumu habis, Gwen. Dan tunggu saja Danzel membencimu karena tak becus mengurus anak.” Alcie mengayunkan kaki hendak keluar dari kamar. Namun langkahnya terhenti ketika ada seseorang yang menghalangi jalannya.