My Poor Secretary

My Poor Secretary
Part 28


__ADS_3

Danzel memegang lengan mommynya. Menatap wajah sedikit keriput itu yang terlihat masam. “Mommy, dengarkan aku. Tolong jangan mudah percaya dengan ucapan wanita itu. Dia seperti siluman berwujud manusia,” pintanya.


“Lagi-lagi menghina wanita secantik Alcie, matamu itu buta atau bagaimana?” Mommy Megan mencubiti lengan putranya dengan gemas.


Danzel meraih tangan mommynya dan digenggam erat agar tak bisa melukainya lagi. “Percaya padaku, mom. Instingku itu hampir selalu benar.”


“Halah, pasti kau hanya ingin menghindarinya saja, kan?” tanya Mommy Megan.


Danzel pun menyengir kuda. “Tahu saja, mommy. Aku tak suka dengannya, tolong jangan paksa aku untuk bertemu dengan wanita itu lagi.”


Mommy Megan melipat tangannya di dada. Menatap putranya dengan sorot tegas. “Tidak bisa. Dia wanita terakhir yang ada di daftar mommy. Kau sudah menolak empat ratus sembilan puluh sembilan orang. Kau harus menikah dengan Alcie Glee sebagai konsekuensi jika tak segera memperkenalkan wanita pilihanmu sendiri ke hadapan mommy!” serunya.

__ADS_1


“Oke, tapi beri aku waktu hingga wanita yang aku suka mau menerimaku,” mohon Danzel.


“Fine, satu minggu waktumu. Jika lebih dari itu, maka kau harus mau menerima Alcie Glee.”


Danzel membulatkan matanya terkejut. “Satu minggu? Mendekati wanita tak semudah memakai pemuas hasrat di tempat prostitusi yang tinggal bayar langsung mau membuka kedua pahanya, mommy. Kau itu ada-ada saja,” keluhnya.


“Kau mau terima tantanganku atau tidak?” Mommy Megan tak mau dibodohi oleh anaknya lagi. Bukan sekali atau dua kali Danzel mencoba menghindari wanita yang dia kenalkan. Sehingga sudah hapal betul tabiat putranya itu.


“Oke, satu minggu lagi aku akan membawanya ke hadapan mommy.” Danzel nekat menyetujui tantangan orang tuanya. Daripada harus bersama Alcie, wanita yang seperti siluman itu. Lebih baik dia merencanakan cara agar Gwen mulai memiliki rasa untuknya.


“Good. Aku tunggu janjimu itu.” Mommy Megan sudah puas berbicara dengan Danzel. Dia mengayunkan kaki menuju kamarnya untuk beristirahat.

__ADS_1


Setelah kepergian mommynya, Danzel memijat pelipisnya yang berdenyut. “Derita anak tunggal, jika orang tua sudah menginginkan cucu, tak ada yang bisa ku jadikan tumbal,” gumamnya. Merutuki nasibnya seorang diri.


Danzel menaiki anak tangga yang melingkar menuju kamarnya di lantai dua. “Jika aku menikah dengan Gwen, sudah dipastikan tak akan memiliki anak tunggal. Dia saja sudah memiliki dua anak, tinggal menambah satu saja dari benihku, maka anak-anakku tak akan menjadi korban sepertiku suatu saat nanti.” Ia berceloteh disepanjang langkah.


Pria itu menghempaskan tubuhnya di ranjang hingga memantul karena terlalu empuk. “Alcie Glee, ku pastikan kau akan menjadi wanita ke lima ratus yang ku tolak,” tekadnya.


Kesan pertama pada wanita sangat penting bagi Danzel. Dia tak akan mudah memiliki rasa jika orang tersebut sudah memberikan kesan yang kurang bagus.


Dan pria berparas tampan itu mulai mengistirahatkan badan setelah mandi agar kulitnya tak terasa lengket lagi.


Danzel bangun pagi-pagi sekali. Tak seperti biasanya. Pria itu sudah tak sabar ingin menjemput Gwen untuk berangkat bersama ke kantor. Dan kini tubuhnya sudah berdiri tepat di depan unit apartemen Gwen.

__ADS_1


__ADS_2