My Poor Secretary

My Poor Secretary
Part 155


__ADS_3

Gwen menggelengkan kepala, menatap ke arah mertuanya dengan sorot penuh kesedihan dan rasa khawatir. “Aku tadi mendengarkan obrolanmu dengan Steve. Danzel bukan pergi bekerja tapi memang berniat menghindariku. Maafkan aku karena lancang menguping pembicaraanmu,” ungkapnya.


Mommy Megan menarik tangan Gwen dan memeluk wanita itu. Tangannya menepuk pundak yang terbalut pakaian hangat, mencoba menyalurkan ketenangan. “Jadi karena itu kau stres?”


Kepala Gwen mengangguk pelan. “Aku takut ditinggalkan oleh Danzel. Bagaimana nasib anak-anakku jika dia tak mau bertanggung jawab? Ditambah setiap hari aku selalu merindukan sentuhannya.”


Mommy Megan menghembuskan napasnya. Sepertinya dia harus turun tangan lagi untuk menyelesaikan masalah anaknya yang justru memilih kabur untuk menenangkan diri dibandingkan menghadapi secara langsung. “Danzel tak mungkin meninggalkanmu jika tahu kau sedang hamil. Aku sangat tahu karakternya seperti apa.”


“Bagaimana caranya agar dia mengetahui kehamilanku jika nomornya sudah tak aktif dan dia seperti hilang di telan bumi lagi,” keluh Gwen. “Aku ingin memberi tahu dia secara langsung supaya tau bagaimana reaksinya, tapi apa hal itu mungkin terjadi? Mengingat Danzel sengaja menghindari aku,” imbuhnya.


“Mungkin, kau ingat berapa kode negara nomor yang semalam menghubungimu?” tanya Mommy Megan. Jika mempertemukan Gwen dengan Danzel bisa mengurangi stres menantunya, maka dia akan mengusahakan hal itu.


“Aku cek sebentar.” Gwen mengambil ponselnya dan membuka riwayat panggilan. “Plus tiga lima tiga,” tuturnya seraya menunjukkan layar berukuran enam koma satu inch ke hadapan Mommy Megan.


“Irlandia, pasti sekarang dia di sana,” terang Mommy Megan. Dia mengambil ponsel Gwen dan diletakkan ke atas kasur. “Bersiaplah, kau ingin menemui Danzel, kan?”

__ADS_1


Gwen mengangguk yakin. “Apa kau tau keberadaannya?”


“Ya, saat putus dengan mantan kekasihnya dia juga menenangkan diri di sana. Kenapa aku tak kepikiran kalau dia akan kembali ke rumah kami yang ada di Irlandia,” jelas Mommy Megan.


“Tolong antarkan aku ke sana,” pinta Gwen. Dia tak sabar ingin menyalurkan kerindungannya dan memberitahukan kehamilannya. Tentu saja dengan segudang harapan agar Danzel tak meninggalkan seperti ini lagi. Tapi jika yang terjadi sebaliknya, entahlah, dia juga tak tahu bagaimana nasibnya ke depan.


“Aku akan membawamu ke sana. Tapi kau harus berjanji denganku agar tak stres lagi, oke?” Mommy Megan membuat kesepakatan terlebih dahulu walaupun memang dia memiliki niatan untuk mempertemukan keduanya.


“Aku berjanji.” Gwen perlahan beranjak dari tempat tidur untuk menyiapkan baju gantinya.


Mommy Megan terkekeh karena menantunya seperti orang yang tak sabaran. “Mandi dulu, Gwen. Hilangkan jejak air matamu itu agar tak dilihat oleh orang lain,” tegurnya.


Mommy Megan dan Gwen pun bersiap masing-masing. Keduanya bertemu di ruang keluarga dengan membawa koper setelah berpakaian rapi.


“Kalian mau ke mana?” tanya Daddy Marlin yang tak diajak.

__ADS_1


“Pergi sebentar jalan-jalan agar menantuku tak stres di mansion terus.” Mommy Megan asal memberikan alasan.


“Kau itu bagaimana, dokter menyuruhnya untuk istirahat malah diajak pergi,” omel Daddy Marlin meninggalkan jeweran di telinga sang istri.


“Kami akan ke Irlandia, Dad. Ingin menemui Danzel di sana,” sela Gwen agar mertuanya tak menjewer Mommy Megan lagi.


“Oh, ternyata calon cucuku merindukan papanya.” Daddy Marlin melepaskan jewerannya. “Pergilah dan tetap jaga kondisimu dan cucuku.”


“Aku titip Selena dan Aldrich sebentar,” pinta Gwen. Meskipun sedikit sungkan tapi mau bagaimana lagi, dia ingin menyelesaikan masalahnya dengan Danzel.


“Hm ... mereka aman denganku.” Daddy Marlin mengibaskan tangannya agar menantu dan istrinya cepat pergi.


...*****...


...Selamat untuk pemenang giveaway poin My Poor Secretary...

__ADS_1



...Untuk tiga nama di atas harap dm ke instagram aku @heynukha ya, ditunggu sampe besok....


__ADS_2