
Mommy Megan menjelaskan pada Alcie jika dia ke Paris bukan untuk jalan-jalan, tapi menjemput suaminya yang sangat dirindukan. “Paham?” tanyanya dengan sedikit penekanan.
Alcie menunjukkan rentetan giginya dan mengangguk. “Aku pikir sengaja meninggalkanku menderita di sini, sedangkan kau bersenang-senang di kota mode,” balasnya.
“Memangnya kenapa kalau aku bersenang-senang sendirian? Kan uangku juga.” Mommy Megan menaikkan sebelah alisnya, dia merasa tak memiliki kewajiban juga mengajak Alcie walaupun dirinya memanfaatkan wanita itu demi kepentingan pribadi.
“Tak ada salahnya, sih.” Alcie tersenyum canggung. Sepertinya, topeng bak malaikatnya lupa belum di aktifkan sehingga dia mendapatkan respon sedikit sinis dari calon mertuanya. Ia buru-buru mendempel pada Mommy Megan agar tak marah dengannya yang tadi sempat berpikiran buruk.
“Permisi, Nyonya.” Salah satu polisi menyela pembicaraan dua wanita tersebut. “Mohon tanda tangani dokumen ini terlebih dahulu.” Ia menyodorkan sebuah kertas berisi tulisan surat pernyataan penjamin.
“Oh, oke.” Mommy Megan melepaskan tangan Alcie yang menempel padanya. “Minggir dulu!” titahnya agar wanita medusa itu menggeser tubuh tak menghadangnya lagi.
__ADS_1
Mommy Megan duduk di hadapan polisi yang meminta tanda tangan. Ia membaca dengan seksama terlebih dahulu sebelum menggoreskan tinta hitam di atas kertas itu. Dalam hatinya menggerutu saat memberikan tanda tangannya di atas kertas tersebut. Karena dia akan mendapatkan teguran, denda, ataupun sanksi jika orang yang dijamin membuat ulah lagi.
Setelah menyelesaikan administrasi dengan pihak berwajib, Mommy Megan dan Alcie berjalan keluar. Keduanya sembari berbincang.
“Kenapa kau bisa dilaporkan ke kantor polisi oleh Steve?” tanya Mommy Megan, walaupun dia sudah tahu jika itu adalah salah satu cara anaknya menghindari Alcie. Tapi dia ingin mendengar versi Alcie Glee.
“Aku juga tak tahu, saat itu aku sedang mencari Danzel di kantornya. Di sana aku diusir terus tapi tetap tak mau pergi, akhirnya ada polisi yang membawaku dan asisten Danzel membuat laporan yang sepertinya dilebih-lebihkan sampai aku harus menjadi tahanan sementara dalam waktu yang lumayan lama,” keluh Alcie. Jemarinya mengusap bawah mata, menghilangkan tetesan air mata buayanya.
Alcie berhenti tepat di depan pintu masuk, ia memegang lengan Mommy Megan agar ikut terhenti dengannya hingga keduanya saling berhadapan. “Kenapa kau justru terlihat senang? Apakah kau bahagia karena aku menderita?” Ia memasang wajah sesedih mungkin.
“Tidak, aku hanya merasa lucu saja dengan putraku,” jawab Mommy Megan. Ia mengelus lengan Alcie agar tak berprasangka buruk.
__ADS_1
Wanita yang melahirkan Danzel itu mengajak Alcie untuk berjalan menuju parkiran lagi. Mereka melanjutkan perbincangan yang belum tuntas.
“Aunty, setelah ini kita perawatan ke salon, yuk? Aku ingin menghilangkan jerawat dan kulitku yang menjadi dekil akibat tak terawat di sini. Nanti Danzel tak menyukaiku jika terlihat jelek,” ajak Alcie. Siapa tahu dia bisa mendapatkan traktiran dari calon mertuanya itu.
“Em ... sepertinya tak bisa kalau hari ini,” tolak Mommy Megan dengan halus. “Kapan-kapan saja.”
Alcie cemberut, memanyunkan bibirnya. Jika wanita lain biasanya terlihat imut, tapi dia justru semakin nampak dower seperti baru saja ditonjok orang.
“Oh iya, aku lupa bertanya sesuatu hal penting denganmu,” celetuk Alcie.
“Apa?”
__ADS_1