My Poor Secretary

My Poor Secretary
Part 174


__ADS_3

Gwen masih berdiri seraya menatap interaksi calon suami dan kedua anaknya. Dia memakai gaun berwarna putih yang tak ketat karena perutnya sudah terlihat buncit akibat ada lebih dari satu janin yang ada di dalam kandungannya membuat ukuran perutnya lebih besar dibandingkan orang hamil tak kembar. Alas kaki yang dikenakan juga flat untuk menghindari kesleo atau kemungkinan lain yang bisa membahayakan calon penerus kerajaan bisnis keluarga Pattinson.


Wanita yang tak memakai make up tapi tetap terlihat cantik itu tersenyum kala Danzel melabuhkan kecupan di kening Aldrich dan Selena. Dan tangannya kini terasa dipegang oleh anak-anaknya untuk dipersatukan dengan Danzel.


Aldrich dan Selena pun berjalan menghampiri grandma dan grandpanya yang duduk di kursi bagian depan. Ikut menyaksikan bagaimana prosesi pernikahan orang tuanya.


“Apa kau siap menjadi istriku disaat suka dan duka, sehat dan sakit, serta dalam kondisi hidup apa pun?” tanya Danzel. Dia memegang kedua tangan Gwen dengan erat.


“Ya, aku siap,” jawab Gwen seraya menganggukkan kepala.


Petugas dari pengadilan negeri itu pun mulai mengarahkan prosesi selanjutnya hingga tibalah pada pengucapan janji keduanya.

__ADS_1


“I’m Danzel Pattinson, take you, Gwen Kritson, to be my wife—” Dia mengucapkan janji pernikahannya dan menyebutkan nama asli Gwen tanpa marga keluarga Eisten lagi.


“I’m Gwen Kritson, take you, Danzel Pattinson, to be my husband—” Wanita yang akan memiliki anak lagi itu juga mengucapkan janji pernikahannya.


“I do.”


Danzel langsung meraih tangan Gwen, memasangkan sebuah cincin berlian yang sangat indah, dan meninggalkan kecupan di permukaan kulit halus itu. “Selamat sudah resmi menjadi istriku.”


Gwen menarik dua sudut bibirnya bahagia. Dan dirinya memakaikan cincin juga di jari manis Danzel. “Selamat atas tercapainya keinginanmu, memiliki istri dan anak sekaligus,” balasnya.


Setelah prosesi pengucapan janji pernikahan selesai, Danzel mengajak Gwen untuk duduk saja karena tak ingin membuat istrinya lelah.

__ADS_1


“Jika kau sudah tak kuat, maka bilang saja. Kita akhiri acara sampai di sini,” bisik Danzel saat mereka mendengarkan ucapan selamat dari tamu undangan yang berbicara menggunakan microphone.


“Tidak, bagaimana aku bisa lelah kalau hanya kau perbolehkan untuk berdiri sebentar.” Gwen mengelus rahang tegas suaminya agar tak khawatir padanya.


“Ehem!” Suara seorang pria yang sangat macho membuat semua orang yang ada di tempat tersebut memfokuskan pandangan ke panggung.


Davis dan Diora sedang berdiri di depan sana. Dan suara tadi berasal dari mulut seorang pebisnis sukses di Eropa.


“Sebelumnya ku ucapkan terima kasih pada Danzel yang sudah merelakan kekasihnya untuk menjadi istriku,” ucap Davis. Matanya fokus kepada mempelai pria sedangkan tangannya menggenggam erat sang istri.


“Davis, jangan mengatakan yang aneh-aneh,” tegur Diora dengan suara lirih seraya menarik tangan suaminya memberikan kode agar berucap langsung ke inti saja.

__ADS_1


Davis hanya mengerlingkan mata kepada Diora agar tak risau. Dan kembali melanjutkan ucapannya. “Selamat juga atas pernikahanmu, akhirnya kita bertukar pasangan. Kau mendapatkan mantan kekasihku dan istriku adalah mantanmu.” Dia benar-benar tak memiliki malu saat mengutarakan hal tersebut.


Justru Diora yang memerah akibat menghadapi kelakuan suaminya. “Sudah, ayo kita pulang saja.” Dia pun menarik Davis agar turun dari panggung yang tak terlalu tinggi itu.


__ADS_2