
“Ukurannya normal untuk bayi kembar tiga, Tuan,” jelas perawat tersebut.
Danzel mengangguk mengerti. Dia tak peduli jika dianggap CEO yang bodoh tentang bayi, toh kesehatan bukanlah bidangnya, kecuali berbicara tentang bisnis dia baru paham. Daripada dia diam saja, lebih baik bertanya. “Apakah aku harus mematikan AC agar anak-anakku tak kedinginan?” tanyanya.
“Tidak perlu, Tuan. Box bayi ini sudah ada pengatur suhunya. Cukup jangan mencopot kabel itu.” Perawat menunjuk sebuah sakelar yang ada di bawah.
“Oh.” Danzel pun mempersilahkan perawat untuk keluar.
“Aku ingin melihat adik,” pinta Aldrich pada grandmanya.
“Oke, tapi jangan berisik, ya?” Mommy Megan menggendong cucunya walaupun tak kandung dan juga bukan anak dari menantunya, tapi dia tetap menyayangi Aldrich.
Nyonya Pattinson dan Aldrich mendekati box bayi diikuti Selena dan Daddy Marlin.
“Halo cucu-cucuku, akhirnya kau launching juga ke dunia. Aku sudah menantikan kehadiranmu untuk membuat mansionku semakin ramai.” Mommy Megan menyapa ketiga bayi yang masih memejamkan mata.
__ADS_1
“Adik lucu, grandma,” celoteh Aldrich seraya menunjuk salah satu bayi berjenis kelamin laki-laki.
“Hi little, aku Selena, kakak kalian.” Jika Aldrich heboh sekali melihat tiga bayi itu, lain dengan Selena yang justru memperkenalkan diri. Ingin menyentuh pipi yang masih merah kulitnya tapi box bayi itu tertutup. Sehingga cukup memandang dengan raut yang bahagia memiliki banyak saudara.
Sementara itu, Daddy Marlin menyenggol lengan putranya. “Tokcer juga bibitmu, sekali tanam langsung tiga,” pujinya pada Danzel.
“Tentu saja, namanya juga program hamil kembar. Aku mengeluarkan banyak uang demi mendapatkan anak langsung lebih dari satu,” balas Danzel.
“Kenapa saat muda aku tak kepikiran untuk program hamil kembar juga agar kau memiliki saudara,” timpal Daddy Marlin.
“Daddy saja yang tak gaul sampai tak tahu ada program bayi kembar,” balas Danzel mengejek orang tuanya.
“Belum,” jawab Danzel.
“Boleh aku saja yang memberi nama cucuku?” izin Mommy Megan. Dia sudah mempersiapkan tiga nama untuk penerus keluarga Pattinson selanjutnya.
__ADS_1
“Nanti saja, tunggu Gwen bangun. Aku tak ingin lancang karena anak itu tumbuh di dalam rahimnya sehingga yang paling berhak memberikan nama adalah istriku.” Danzel tak menolak dan juga tak menyetujui. “Kita minta pendapatnya saja,” imbuhnya. Dan Mommy Megan menyetujui hal tersebut.
Lima jam berlalu, di saat Gwen membuka mata, justru yang lainnya sedang terlelap di sofa. Tapi tidak dengan Danzel yang sedang menelepon melalui ponsel.
“Sayang,” panggil Gwen.
“Ya?” Danzel segera mengakhiri panggilan telepon dari Steve tentang pekerjaan dan menghampiri istrinya.
“Aku ingin melihat anak-anakku,” pinta Gwen.
“Sebentar.” Danzel mendorong tiga box bayi agar lebih dekat dengan Gwen.
Wanita yang baru saja melahirkan tiga anak sekaligus itu mengulas senyum bahagianya. “Kenapa wajahnya semua mirip denganmu?” tanyanya saat memastikan tak ada satu pun bagian dalam dirinya yang mirip dengan sang bayi.
“Mungkin saat hamil kau terlalu banyak memikirkan aku,” jawab Danzel seraya mengelus rambut istrinya.
__ADS_1
Gwen pun terkekeh. “Benar juga, apa lagi di awal kehamilan saat kau pergi meninggalkan aku, setiap hari selalu memikirkanmu terus,” jelasnya.
“Gwen, kau sudah bangun.” Tiba-tiba suara Mommy Megan menyahut dari arah sofa saat mendengar bisik-bisik dari anak dan menantunya.