
...Emang harus dipalak dulu ternyata wkwkwk. Oke, aku lanjutin karena udah pada kasih kopi sama bunga lagi. Terima kasih atas hadiahnya. Muah ......
...*****...
Danzel merasa tak enak dengan Gwen karena sudan membangkitkan hasrat wanita itu tapi tak jadi memuaskan. Keduanya sama-sama kehilangan napsu ingin bercinta di ruangan VIP itu setelah terganggu oleh Steve. Benar-benar asisten yang tak tahu situasi atasan. Gagal bercinta membuat kepala mereka saat ini sedang berdenyut pusing akibat gairah yang memuncak tapi tak jadi tersalurkan.
Danzel memasukkan lagi geoducknya ke dalam sarang dan memungut dalaman Gwen. “Pakailah.” Tangannya memberikan kain kecil berwarna hitam penutup daerah sensitif wanitanya.
Gwen menerima itu, segera menutupi bagian atas dan bawahnya. Dia sedikit kecewa tak jadi terbang ke atas nirwana, tapi terlanjur malu juga dipergoki oleh Steve. “Aku ganti baju dulu,” pamit Gwen menunjuk ruangan untuk ganti di mana pakaian awalnya masih ada di sana.
Tapi Danzel meraih tangan Gwen, mencegah wanitanya menjauh. Membuat mata keduanya saling bertemu pandang.
“Ada apa?” tanya Gwen.
“Lain kali kita lakukan di tempat yang benar-benar jauh dari para pengganggu agar bisa lancar,” ajak Danzel memberikan sebuah ide mesum. “Maafkan aku karena mengajakmu di tempat seperti ini,” imbuhnya terlihat sangat bersalah.
Gwen tersenyum seraya melepaskan tangan Danzel. “Tak apa, artinya saat ini belum waktunya kita melakukan hal itu,” balasnya agar sang atasan tak lagi mengucapkan kata maaf yang sudah dia dengar lebih dari satu kali.
__ADS_1
Sekretaris CEO Patt Group itu berangsur meninggalkan Danzel. Masuk ke dalam ruang ganti dan tak lupa menutup pintu agar atasannya tak bisa masuk ke dalam.
Danzel pun demikian, dia mengganti tuxedonya dengan setelan kerja yang tadi dia kenakan saat berangkat ke butik.
Danzel dan Gwen pun keluar dari ruang VIP, langsung disambut ramah oleh karyawan yang memang sengaja tak masuk ke dalam karena sebelumnya sudah diperingatkan oleh Danzel. Tapi justru Steve yang menyelonong.
“Bagaimana, Tuan. Apakah gaun dan setelan tuxedonya cocok?” tanya karyawan itu.
“Ya, tolong bungkus semuanya termasuk dua pakaian anakku!” titah Danzel.
Danzel dan Gwen pun menghampiri dua bocah yang duduk di ruang tunggu lobby. Keduanya kembali memasang wajah seolah tak pernah terjadi apa pun.
“Bagaimana pakaiannya, kalian suka?” tanya Danzel seraya merendahkan tubuhnya agar sejajar dengan calon anak sambungnya.
“Yes, uncle. Sangat bagus,” jawab Selena dan Aldrich dengan antusias.
“Nanti kalian bisa langsung memakai itu,” ucap Danzel. Tangannya mengelus lembut rambut halus kedua anak Gwen.
__ADS_1
“Uncle, kenapa tadi aku tak boleh masuk ke ruangan itu?” tanya Aldrich menunjuk tempat di mana Gwen dan Danzel hampir melakukan ritual mengenakkan.
Steve cekikikan menahan tawanya agar tak terbahak-bahak. Melihat tuannya yang nampak kebingungan untuk menjawab pertanyaan bocah dua tahun itu.
Danzel pun melotot ke arah asistennya. “Steve ...!” tegurnya dengan suara lirih namun penuh penekanan.
“Ya, Tuan?” Steve mencoba berhenti cekikikan, tapi sulit sekali. Wajah tuannya ketika malu bercampur bingung sangat lucu.
“Bayar pakaianku sekarang!” titah Danzel agar Steve pergi dari hadapannya.
Steve tak langsung beranjak dari sana, tangannya menengadah. “Kartu kredit Anda mana, Tuan. Saya tak memiliki banyak uang untuk mentraktir CEOku yang sedang dimabuk cinta.”
Danzel langsung mengeluarkan dompetnya dan memberikan sebuah kartu berwarna hitam. “Nih!”
Setelah mendapatkan apa yang dia minta, Steve pergi ke kasir membayar semua tagihan termasuk biaya menggunakan ruangan VIP.
Steve melongo melihat nominal empat pakaian tersebut. Seratus lima puluh ribu euro, bahkan gajinya saja lebih kecil dari itu. Kepalanya menggeleng. “Orang kaya kalau jatuh cinta modalnya banyak juga,” gumamnya.
__ADS_1