My Poor Secretary

My Poor Secretary
Part 116


__ADS_3

Danzel tadinya ingin marah pada Chimera karena memukulnya, tapi dia urungkan. Sebab, wanita itu benar-benar siaga saat menjaga Gwen bahkan ketika tidur lelap pun masih bisa tahu ada orang yang diam-diam mengendap.


CEO Patt Group itu memilih untuk masuk ke dalam kamar Gwen dan langsung memeluk tubuh wanitanya. Mengganggu tidur nyaman sekretarisnya.


“Danzel, aku sedang haid,” ujar Gwen sebelum sang pria bermain nakal. Dia mengatakan sebuah kejujuran bukan kebohongan.


Danzel mendesah kecewa. “Berarti bibit kehidupanku belum berkembang,” keluhnya.


“Tak ada yang instan, semua butuh proses.” Gwen membalikkan tubuhnya untuk mengelus rahang tegas Danzel yang terlihat penuh harapan. “Tidurlah saja, masih pukul dua pagi,” ajaknya.


Gwen pun memeluk Danzel dan mendaratkan kepalanya di dada bidang yang sangat nyaman itu. “Danzel, bagaimana jika saat tua nanti aku sudah tak memiliki hasrat bercinta sedangkan kau masih menggebu-gebu?” tanyanya. Dia sangat penasaran apa yang akan dilakukan prianya jika berada dalam kondisi seperti Mommy Megan dan Daddy Marlin.


“Aku akan melakukan tindakan medis agar meredupkan hasratku,” jawab Danzel seraya jemarinya membuat bulatan di punggung Gwen.

__ADS_1


“Maksudmu kau akan melakukan semacam suntik kebiri?” Gwen mendongakkan kepalanya agar bisa melihat wajah tampan Danzel.


Danzel terlihat mengangguk sebagai jawaban. “Ketika kau sudah tak berhasrat, maka aku juga akan membuat seperti itu.” Kecupan sekilas dia daratkan pada kening wanitanya yang sepertinya sedang banyak memikirkan sesuatu.


“Tindakan itu pasti ada efek sampingnya, apa kau tak takut?” tanya Gwen sangat penasaran. “Kenapa kau tak memilih untuk membayar seorang wanita muda?”


Tangan Danzel mengarahkan kepala Gwen agar kembali terbenam di dada bidangnya. Mengelus lembut rambut yang panjang dan tatapannya berhenti pada langit-langit kamar. “Semua yang kita lakukan pasti memiliki risiko, Gwen. Dari pada hasratku tak tersalurkan atau membayar wanita lain yang pasti akan menyakiti hati pasanganku, lebih baik aku yang mencoba menurunkan gairahku sendiri,” jelasnya.


Rasanya menunggu musim dingin datang sangatlah lama. Dia ingin segera menemui Sanchez untuk menggugat cerai suaminya itu.


Gwen dan Danzel pun sama-sama tidur saling memeluk. Tak ada pergumulan panas di sana karena pewaris satu-satunya kerajaan bisnis Pattinson bisa menahan hasrat bercinta ketika wanitanya tak bisa dijamah.


Matahari menyapa dua orang dewasa itu. Danzel memberikan kecupan selamat pagi di bibir Gwen. “Hari ini aku ingin mengajakmu dan anak-anak jalan-jalan ke mall. Aku sudah janji pada Selena akan mengajaknya bermain,” ujarnya saat wanitanya sudah membuka mata. Sejujurnya dia juga ingin membelikan pakaian sekretarisnya itu agar mommynya tak mengomel terus kalau Gwen tak modis.

__ADS_1


“Aku bersiap dulu.”


“Aku juga akan pulang ke sebelah, nanti aku jemput lagi.”


Gwen dan Danzel pun berpisah untuk bersiap. Setelah satu jam, CEO Patt Group itu kembali datang saat waktu mulai siang, mereka langsung berangkat ke mall.


“Mama, aku ingin poop,” ujar Aldrich. Baru juga menginjakkan kaki keluar dari lift, sudah ingin buang air besar saja.


“Biar aku saja, Gwen. Dia laki-laki dan harus mulai diajarkan untuk menggunakan toilet pria,” tutur Danzel segera menggendong calon anak tirinya. “Kau tunggu di restoran italia itu saja,” pintanya seraya menunjuk sebuah tempat yang lumayan ramai.


“Oke.” Gwen, Selena, dan Chimera pun mengayunkan kaki ke restoran italia.


“Gwen?” panggil seseorang yang tak sengaja berpapasan dengan sekretaris Patt Group itu.

__ADS_1


__ADS_2