
“Natural saja, wajahnya sudah sangat cantik. Tak perlu membuatnya menor.” Danzel yang menjawab pertanyaan perias tersebut.
“Baik.” Perias itu menyiapkan semua alat tempurnya di atas meja.
Sementara itu, Aldrich yang berada tak jauh dari Gwen pun sedang meronta dari pangkuan Chimera. “Turunkan aku, aunty,” pintanya.
“Mau ke mana? Kita di Sini saja,” tolak Chimera terus memegangi tubuh bocah itu.
“Mau ke mama,” rengek Aldrich.
“Mamamu sedang dirias, jangan mengganggunya,” cegah Chimera.
“Mama ... aunty Chimera nakal.” Tak segera dilepaskan, membuat Aldrich menangis dan berteriak mengadu pada Gwen.
Bukan hanya Gwen yang menengok ke anaknya, tapi Danzel juga demikian. CEO muda itu langsung melotot ke arah Chimera.
“Dia ingin mengganggu kalian, maka dari itu tak aku lepaskan.” Chimera langsung mengutarakan alasannya ketika sang atasan seperti hendak memotong gajinya.
__ADS_1
“Lepaskan saja dia,” titah Danzel.
“Baiklah.” Chimera pun menurunkan Aldrich dan membiarkan bocah kecil itu berpindah di pangkuan Gwen.
Dalam hati Chimera mengerutu. “Jika tahu ujung-ujungnya diperbolehkan untuk mengganggu, sedari tadi tak akan aku kerangkeng dia di dalam pangkuanku,” gumamnya sangat lirih. Dia melihat tangannya yang sudah banyak cakaran Aldrich. “Gaji besar, ternyata pekerjaanku bukan hanya menjadi boyguard. Tapi asisten rumah tangga dan babysitter juga. Oh, nasibku malang sekali demi uang,” imbuhnya seperti komat-kamit.
Steve yang mendengar rekan barunya menggerutu pun terkekeh. “Kau baru merasakan sebentar menjadi pengikut CEO Patt Group, aku yang sudah bekerja lima tahun pun sama saja sering merangkap menjadi apa pun yang diinginkan oleh Tuan Danzel,” jelasnya.
Chimera hanya bisa menghela napasnya. Masih harus menyesuaikan diri bekerja bersama orang lain.
Sementara itu, Danzel terus memandangi Gwen yang sangat sabar menjawab pertanyaan Aldrich seputar make up. Apa pun yang sedang dipoleskan pada wajah Gwen, bocah dua tahun itu pasti bertanya tentang nama dan kegunaan untuk apa.
Sorot mata Danzel beralih melihat Selena yang sudah selesai diberi bedak tipis khusus anak-anak. “Chimera!” panggilnya.
“Ya, Tuan?”
“Temani Selena untuk berganti baju!” titah Danzel.
__ADS_1
“Baik.” Chimera menuntun anak Gwen menuju ruang ganti dan menyiapkan gaun yang tadi sudah dibeli.
Selepas kepergian Chimera dan Selena, Danzel beranjak dari tempat duduk yang nyaman itu. Menghampiri Gwen untuk berjongkok di samping wanitanya.
“Aldrich, ikut uncle, yuk? Kita ganti baju sambil menunggu mamamu selesai berdandan,” ajak Danzel sangat lembut.
“Oke, uncle.” Kedua tangan Aldrich terulur ke depan meminta gendong.
Dengan senang hati Danzel membawa anak tiri Gwen menuju ruang ganti dan memakaikan setelan tuxedo yang sama persis dengannya.
Danzel, Aldrich, dan Selena sudah memakai pakaian mereka masing-masing. Ketiganya duduk berjejer menunggu Gwen yang sedang memakai gaun.
Gorden yang tinggi itu perlahan terbuka, menampakkan Gwen yang terlihat sangat berkilau. Bahkan Danzel sampai membuka mulut saat korneanya menangkap jelas sosok sang pujaan hati.
“Tuan, air liurmu menetes,” bisik Steve mengingatkan atasannya agar menyeka mulut. Ia menyerahkan sebuah sapu tangan pada CEO muda tersebut.
Tangan Danzel menerima kain yang tak seberapa tebal itu. Menyusut bibirnya yang memang mengeluarkan sebuah cairan. “Terima kasih,” ujarnya mengembalikan barang milik Steve.
__ADS_1
...*****...
...Nunggu disogok lagi baru besok aku up wkwkwk. Aku mau malak kopi sama bunga tiap hari pokoknya....