
Petugas kepolisian langsung membawa Alcie keluar dari ruang tahanan sementara. Memapah tubuh yang tak berdaya dan penuh lebam menuju klinik yang ada di dalam area kantor lembaga keamanan negara itu.
“Apa kau hanya mengobati lukaku saja? Wanita yang menghajarku tak kau hukum lebih berat?” protes Alcie seraya memegang tisu untuk menyusut darah yang terus mengucur dari hidungnya. Dan menunggu petugas medis mengobati lukanya.
“Kau mengganggu kenyamanannya?” Polisi itu justru menginterogasi Alcie. Dia sampai hapal dengan wanita bertato yang menghajar wanita medusa itu.
“Tidak,” elak Alcie.
Polisi itu mengangkat sebelah sudut bibirnya. Mana bisa dia percaya dengan ucapan medusa itu. “Mana ada pertengkaran jika tak ada yang menyulut,” timpalnya.
“Kau tak percaya denganku?” Alcie membuang asal tisu yang tadinya berwarna putih kini sudah merah semua.
Polisi itu menghembuskan napasnya. “Tolong adab dan sopan santunnya! Ambil tisu itu!” tegurnya dengan tegas.
Alcie mendengus kesal. Setelah wajahnya selesai diolesi salep untuk luka lebam, dia mengambil sampah yang dia buang asal dan dimasukkan ke dalam tempat yang semestinya. “Sudah! Ayo segera bawa aku menghubungi kerabatku!” pintanya dengan nada bicara yang sombong.
Polisi itu tak menanggapi, tapi tangannya langsung menuntun Alcie untuk kembali ke dalam kantor di mana telepon nirkabel berada.
__ADS_1
Dan kedua orang itu kini duduk berhadapan.
“Silahkan gunakan sebaik mungkin waktumu untuk menghubungi kerabat.” Polisi itu menyodorkan telepon nirkabel ke arah Alcie.
“Mana ponselku? Aku mana hapal dengan nomor kerabatku,” pinta Alcie. Ada saja permintaannya.
“Siapa yang akan kau hubungi? Nomor yang sebelumnya?”
“Ya.”
“Nomornya ada dicatatan.” Polisi itu memberikan sebuah buku kecil berisi nomor kerabat-kerabat para tahanan sementara yang sudah pernah dihubungi.
Jemari dengan kutek yang mulai mengelupas itu memencet tombol angka. Dia ingin menghubungi Mommy Megan.
“Sial! Wanita tua itu sebenarnya pergi ke mana sampai tak bisa ku hubungi selama ini,” gerutu Alcie. Ini adalah percobaan keenamnya untuk menelepon Mommy Megan, tapi tak tersambung terus.
“Waktumu habis, Nona,” tegur polisi tersebut hendak mengambil teleponnya.
__ADS_1
“Nih! Ambil!” Alcie menyodorkan benda tersebut dengan kasar. Dia kesal karena Mommy Megan tak bisa dia hubungi.
Sementara itu, di apartemen Danzel. Pria itu sedang bermain dengan Selena, Aldrich, dan Gwen. Mereka berempat terlihat sangat bahagia saat mencoreti wajah Aldrich yang kalah terus.
“Sudah, Adrij tidak mau mainan ini lagi,” protes Aldrich yang wajahnya penuh dengan bedak tabur.
“Aldrich bosan, ya?” tanya Danzel seraya tangannya menyapu bersih wajah anak tiri Gwen, menghilangkan bedak yang lumayan tebal itu.
Aldrich mengangguk. “Mau main yang lain,” pintanya.
“Bagaimana kalau kita bermain batu, kertas, gunting tapi yang berbeda sendiri mendapatkan hukuman cium?” Selena memberikan ide dengan bersemangat.
“Mau, mau. Adrij mau dicium.” Aldrich menganggukkan kepalanya, wajahnya terlihat imut.
“Pengen dicium ya anak mama. Sini.” Gwen mengangkat tubuh mungil itu untuk dia pangku dan mendaratkan kecupan diseluruh wajah anak tirinya penuh kasih.
Gwen tak membedakan rasa sayangnya dengan Selena walaupun Aldrich adalah anak selingkuhan suaminya.
__ADS_1
Bocah sekecil itu tak memiliki kesalahan, dia juga tak bisa memilih mau lahir dari rahim siapa dan dibuat dengan proses atau hubungan cara baik atau buruk. Sehingga Gwen ingin menyelamatkan masa depan Aldrich yang masih bisa ditolong dari kejamnya dan keegoisan orang tua kandung.