My Poor Secretary

My Poor Secretary
Part 85


__ADS_3

Danzel mengajak Gwen untuk ke area dewasa, mencari gaun dan setelan untuk mereka berdua. Namun wanita itu menarik tangan Danzel agar berhenti.


“Kita tak menunggu Selena dan Aldrich selesai mencoba pakaian?” tanya Gwen. Dia melihat ke arah gorden panjang yang tertutup rapat di mana anak-anaknya berada.


“Mereka akan dijaga Steve dan Chimera. Tenang saja, lagi pula kita masih berada di dalam gedung yang sama.” Danzel sedikit manarik tubuh Gwen hingga menubruk dada bidangnya, merangkul pinggul yang pas untuk melingkarkan tangannya di sana.


“Aku ingin memiliki waktu berdua denganmu,” bisik Danzel di telinga Gwen. Tentu saja hal itu selalu berhasil membuat sekretarisnya merinding dan akhirnya mengikuti ajakannya.


Danzel mengeluarkan kartu VIP ke karyawan di sana, dan keduanya diantarkan pada sebuah ruangan yang tak sembarangan bisa masuk ke sana.


“Silahkan duduk, Tuan dan Nyonya. Saya akan menunjukkan koleksi khusus member VIP,” ujar karyawan itu saat berada di dekat sofa berwarna emas berpadu dengan silver yang memperlihatkan kesan glamour.


Danzel dan Gwen duduk berdampingan, tanpa jarak sedikit pun karena pria itu terus merengkuh pinggang sang wanita seolah tak ingin terpisah.


“Bagaimana, kau suka?” tanya Danzel saat dua karyawan membawa gaun berwarna pink salem seperti milik Selena dan juga setelan tuxedo berwarna biru dongker seperti Aldrich.

__ADS_1


“Indah,” puji Gwen.


“Silahkan dicoba terlebih dahulu, Tuan dan Nyonya.” Dua karyawan itu memberikan gaun dan setelan tuxedo kepada pelanggannya.


Danzel mengibaskan tangan memberikan kode kepada karyawan butik untuk meninggalkannya di ruangan itu dan tak lupa juga untuk menutup pintu.


“Gaun yang indah untuk wanita secantik dirimu.” Danzel mempersembahkan mahakarya dari desainer ternama di Kota Helsinki itu pada Gwen. Tangannya terulur untuk membantu sekretarisnya berdiri.


Gwen melempar senyumannya. “Jangan terlalu manis, aku takut tak bisa berpaling darimu,” selorohnya. Dan memberanikan diri mengecup pipi Danzel.


Gwen buru-buru masuk ke dalam ruangan yang lebih kecil untuk mencoba gaun itu. Pipinya sudah merona.


Sedangkan Danzel, dia tertegun dengan kecupan sekilas yang diberikan padanya. Tangannya menyentuh pipinya sendiri. “Apakah ini artinya dia mulai mencintaiku?” gumamnya. Hatinya mulai berbunga-bunga mendapatkan lampu hijau dari wanita pujaan hatinya.


Danzel pun masuk ke dalam ruangan yang ada di samping Gwen berada. Memakai setelan tuxedo secepat mungkin.

__ADS_1


“Danzel,” panggil Gwen yang mendengar ada suara dari ruangan di sampingnya.


“Ya, Sayang?” sahut Danzel begitu lembut. Suara seraknya terdengar sangat seksi.


“Em ... aku tak bisa menarik ritsletingnya. Bisa kau membantuku?” tanya Gwen yang tengah kesulitan membenarkan gaunnya yang indah.


“Pahlawanmu segera datang, Sayang.” Danzel pun langsung keluar dari ruangannya dan menerobos masuk ke dalam tempat Gwen berada.


Mata Danzel bukan berhenti pada Gwen yang sedang kesulitan menaikkan ritsleting. Tapi fokus pada punggung mulus yang membuat otak sucinya kembali kotor banyak debu-debu kemesuman duniawi.


“Danzel,” panggil Gwen karena pria itu tak kunjung membantunya.


“Oh, ya, Sayang. Aku datang.” Danzel membuyarkan fantasi liarnya. Berangsur mengikis jarak dengan Gwen.


Danzel meletakkan tangan kirinya di pinggul Gwen. Tak memberikan jarak antara geoducknya dengan bumper belakang wanitanya.

__ADS_1


__ADS_2