
“Danzel, ini mamaku, Leoni.” Gwen memperkenalkan nama orang tuanya pada calon suaminya. “Dan ini Danzel, ma. Calon suamiku.” Dia juga mengenalkan pasangannya pada sang mama.
Mama Leoni menatap bingung bercampur tak percaya dengan anaknya. “Apa maksudmu?” tanyanya masih belum paham. Lama di dalam tahanan membuatnya tak tahu dunia luar.
“Begini, jadi perkenalkan terlebih dahulu. Aku Danzel Pattinson, dan maksud kedatanganku ke sini adalah ingin memberi tahu padamu sebagai orang tua Gwen bahwa aku berniat menikahi putrimu,” jelas Danzel sangat sopan. Dia menghargai bagaimanapun kondisi calon mertuanya itu.
Mama Megan menatap Danzel lalu bergantian ke arah Gwen. Dia meminta penjelasan lebih. “Bagaimana bisa kalian menikah, memangnya kau su—” Ucapannya yang hendak mengajukan pertanyaan tentang status pernikahan putrinya pun terpotong karena Danzel sudah menjelaskan terlebih dahulu.
“Satu bulan yang lalu, putrimu sudah bercerai dengan suaminya,” terang Danzel.
Mama Leoni menganggukkan kepalanya seolah paham dengan situasi yang ada di hadapannya. “Kau CEO Patt Group, benar?” tanyanya.
__ADS_1
Danzel cukup mengangguk sebagai jawaban tanpa mengeluarkan suara.
Mama Leoni menarik sebelah sudut bibirnya. “Bantu aku keluar dari sini, maka akan ku restui hubungan kalian,” pintanya seraya mengajukan syarat.
“Ma!” tegur Gwen dengan suaranya yang lirih namun penuh penekanan.
Mama Leoni tak mendengarkan suara Gwen. Dia memasang telinga tuli dan hanya ingin fokus pada Danzel saja. “Bagaimana, kau bersedia tidak? Kau datang ke sini untuk meminta restuku, kan?”
“Cih! Sombong sekali,” ejek Mama Leoni. Matanya beralih ke putrinya. “Gwen, aku tak mau memiliki menantu seperti dia!”
“Maaf, Ma. Walaupun kau tak memberikan izin, aku tetap akan menikah karena yang menjalani hubungan ini adalah aku, bukan mama.” Gwen langsung menolak saat paham dengan arah pembicaraan orang tuanya.
__ADS_1
Mama Leoni membulatkan mata, sejak kapan anaknya berani membantah dirinya seperti itu. “Kau mulai membangkang, Gwen!” serunya dengan nada penuh penekanan.
“Aku sudah lelah hidup dikendalikan terus, Ma. Maka biarkan kali ini aku yang menentukan jalan hidupku sendiri,” pinta Gwen.
“Kau!” Mama Leoni menunjuk wajah Danzel dengan amarah. “Memiliki calon menantu kaya untuk apa jika tak menguntungkan bagiku? Lebih baik kau urungkan niatmu!” titahnya.
Danzel tetap tenang menghadapi kemarahan calon mertuanya. “Aku memang memiliki banyak uang, tapi tidak dipergunakan untuk membeli sebuah hukum. Dan sepertinya urusanku denganmu sudah selesai karena tujuanku hanya bersifat informatif saja.” Tangannya meraih lengan Gwen dan mengajak sang wanita untuk ikut berdiri. “Terima kasih atas waktunya.”
Danzel pun pamit undur diri, sudah tak ada lagi kepentingan di sana. Membiarkan Mama Leoni berteriak mengumpati dirinya tapi kakinya tetap mengayun keluar ruangan tersebut.
Danzel menghembuskan napasnya saat sudah masuk ke dalam mobil. “Aku baru tahu kalau kehidupanmu ternyata sangat malang sekali, Gwen. Orang-orang di sekelilingmu tak ada yang benar semua.”
__ADS_1