My Poor Secretary

My Poor Secretary
Part 40


__ADS_3

“Iya, empuk juga ternyata. Jadi pengen pegang lagi,” kelakar Danzel yang merasa belum puas karena baru memegang dalam waktu sekejap saja.


Steve terkekeh mengejek atasannya. “Anda langsung ketagihan,” selorohnya mengejek Danzel. “Kira-kira berapa ukurannya?” Ia semakin semangat untuk menggoda.


“Mana ku tahu, memangnya aku penjual dalaman wanita,” jawab Danzel. “Tapi kira-kira segini.” Tangannya mengudara seperti sedang memegang sesuatu milik wanita.


“Besar?” Steve memang dasar asisten laknat, menggoda atasannya terus.


Danzel mengangguk. “Sangat. Sepertinya jika menikah dengannya, aku akan puas.”


Tawa Steve pun meledak, atasannya ternyata lebih mesum daripada dirinya yang sudah beristri. Mungkin efek jarang dipuaskan oleh pasangan yang dicintai. “Polos sekali Tuanku ini.”


“Steve ...!” seru Danzel menegur pria yang setiap bulan dia gaji untuk direpotkan setiap hari itu. “Berhenti tertawa! Pergi bekerja sana!” tegurnya dengan tegas.


Lama-lama bisa hilang harga dirinya sebagai CEO perusahaan Patt Group jika Steve terus menggodanya.


Danzel pun kembali ke dalam ruangannya. Ia berdeham untuk menghilangkan rasa canggung. “Aku sudah menegurnya agar tak jahil seperti tadi lagi,” ujarnya sembari mengikis jarak dengan Gwen.

__ADS_1


Gwen mengangguk dan memberikan ulasan senyumnya. “Terima kasih.” Tangannya memasukkan obat-obatan yang tadi sudah dia pakai ke dalam kotak P3K.


“Apa kau mengobati lukamu sendiri?” tanya Danzel saat berhenti di samping Gwen dan melihat telapak wanita itu sudah kembali di plester.


“Iya.”


Danzel menghela napasnya. Gagal sudah modusnya yang ingin merawat luka Gwen. ‘Gara-gara Steve!’ gerutunya dalam hati mengumpati sang asisten.


“Kenapa? Apakah ada yang salah?” Gwen bertanya karena melihat atasannya yang melamun untuk beberapa saat.


“Oke.”


Dengan perlahan Danzel menjelaskan setiap detail susunan kalimat yang menjadi sebuah paragraf dari laporan yang dibuat oleh sekretarisnya sebelum meninggal.


Gwen mendengarkan dan menyimak dengan teliti tanpa melewatkan satu pun. Sesekali dia mengajukan pertanyaan jika dirasa kurang paham. Dan Danzel dengan senang hati akan menjelaskan dengan metode yang lebih mudah dimengerti.


Tiga jam pun berlalu, Danzel yang berjongkok sampai tak merasakan jika dia kesemutan karena terlalu asyik mencari muka di depan Gwen. Agar terlihat pintar. Ada-ada saja memang CEO muda itu untuk terlihat baik di depan pujaan hatinya.

__ADS_1


“Bagaimana, apakah kau mengerti?” Kepala Danzel menengok ke sebelah kiri untuk menatap rakus wajah cantik Gwen.


“Paham.”


“Calon istriku yang pintar,” lirih Danzel memuji Gwen. Tak lupa tangannya mengelus puncak kepala wanita itu.


“Ha? Tadi kau memanggil apa?” Gwen yang tak begitu mendengar jelas pun meminta untuk diulangi.


“Sekretarisku yang pintar.” Kini suara Danzel lebih lantang, tapi panggilannya sudah tak sama dengan yang awal. “Coba kau mulai bekerja sekarang, aku ingin melihat hasilnya. Apakah benar kau sungguh memahami penjelasanku, atau sekedar membuatku puas saja dengan jawabanmu,” perintanya kemudian.


Danzel pun hendak meninggalkan meja kerja Gwen untuk duduk di kursinya sendiri. Tapi tangannya dicekal oleh wanita itu sebelum tubuhnya menjauh.


Tentu saja membuat Danzel membalikkan tubuhnya lagi. “Ada apa?”


“Em ... boleh aku bertanya sesuatu?” izin Gwen. Dalam hatinya dia merasa tak enak jika melakukan hal ini, tapi apa boleh buat. Saat ini sangat butuh.


“Tanyakan saja.” Danzel sudah siap mendengarkan apa yang hendak disampaikan Gwen.

__ADS_1


__ADS_2