
Gwen begitu terkejut dengan alasan Danzel. Bahkan sampai membuatnya tak bisa berkata apa-apa lagi. Lidahnya terasa kelu ingin mengatakan bahwa dirinya masih memiliki suami.
Tubuh wanita berparas cantik itu seperti hendak merosot ke bawah. Tulang-tulangnya berasa lunak tak bisa menopang beban badannya.
Danzel yang melihat Gwen seperti hendak limbung pun sigap menghampiri dan memegang pundak yang lemas milik wanita pujaan hatinya.
“Kau tak apa?” tanya Danzel dengan perasaannya yang khawatir.
Gwen tak bisa berbicara sepatah kata pun. Dia hanya menganggukkan kepala sebagai jawaban dia baik-baik aja.
“Apakah kejujuranku membuatmu pusing sampai ingin pingsan?” Danzel membantu Gwen untuk duduk di kursi kerja sekretaris.
__ADS_1
Gwen masih shock, matanya terus melamun menatap kosong ke arah depan. Ia tak merespon pertanyaan yang diajukan oleh Danzel.
Danzel mengelus punggung Gwen dengan lembut dan penuh kasih. “Aku memang sungguh menyukaimu, tapi jika kau tak memiliki perasaan padaku pun tak masalah. Asalkan jangan menghindariku, itu sudah cukup,” jelasnya agar pikiran Gwen tak terlalu terbebani.
“Aku baik-baik saja.” Gwen melepaskan tangan Danzel yang masih menyentuh bahunya. “Aku mau mulai bekerja dulu.” Dengan lemas, tangannya meraih mouse untuk menghilangkan rasa gugupnya. Ia tak berani menatap Danzel sedikit pun. Memilih untuk menyibukkan dirinya agar atasannya meninggalkan dirinya.
“Oke.” Danzel pun kembali ke meja kerjanya. Mencuri pandang sebentar untuk memastikan jika pikiran sekretarisnya tak terguncang akibat ulah mulutnya yang tak bisa dikontrol saat berbicara. Tapi sayang, Wajah Gwen tertutup oleh komputer. Ia pun memilih untuk menyelesaikan pekerjaannya juga.
Gwen memegang dadanya yang terasa berdebar. “Apa kau gila Gwen! Kau wanita bersuami! Bisa-bisanya jantungmu merespon seperti orang baru saja jatuh cinta!” lirihnya. Ia berusaha mengingatkan diri sendiri untuk menjaga hati.
Ruang CEO Patt Group itu pun menjadi sunyi. Baik Gwen maupun Danzel, keduanya fokus bekerja.
__ADS_1
“Hua ....” Suara tangisan Aldrich yang begitu memekakkan telinga membuat dua orang dewasa itu bersamaan berdiri.
“Biar aku saja yang mengurusnya.” Danzel mencegah Gwen yang hendak menghampiri Aldrich. Ia sudah terlebih dahulu masuk ke dalam kamar khusus untuk dia biasa istirahat.
Tapi tetap Gwen mengekori di belakang Danzel untuk memastikan anak tirinya baik-baik saja.
Danzel menggendong tubuh Aldrich yang sudah duduk dengan linangan air mata. Tangannya yang menopang pantat bocah itu merasakan ada sesuatu yang basah, lalu matanya beralih melihat seprei abu-abu mudanya. Tapi ada yang aneh, terdapat seperti bulat tak sempurna berwarna lebih gelap.
“Apa kau mengompol?” tanya Danzel saat memastikan area basah tersebut dengan tangannya.
Aldrich mengangguk. “Uncle, Adrij maaf.” Ternyata dia menangis karena takut dimarahi oleh Danzel karena sudah kencing sembarangan.
__ADS_1
Danzel bukannya marah, dia justru terkekeh lucu. “Tak apa, Aldrich. Nanti bisa dibersihkan.” Ia menepuk pundak bocah itu untuk memberikan ketenangan.
Tak terasa dua sudut bibir Gwen terangkat sempurna ketika melihat perlakuan lembut Danzel pada anak tirinya. Pria idamannya, hampir ada di dalam diri Danzel. Bahkan Sanchez pun saat tahu anaknya mengompol akan memarahi dan memberikan sumpah serapah yang bisa menyakiti hati anak kecil.