My Poor Secretary

My Poor Secretary
Part 102


__ADS_3

“Danzel, kau melepaskan di dalam?” tanya Gwen. Atasannya itu masih berada di atasnya dan belum mengeluarkan geoduck dari sarang kelembutannya.


Danzel mengulas senyumnya. “Iya,” jawabnya. Dia pun menarik alat tempur dari Gwen setelah memastikan bibit kehidupannya masuk dengan sempurna.


CEO muda itu membaringkan tubuhnya di samping Gwen dan memeluk seerat mungkin wanita yang sangat dia cintai itu. “Kenapa? Apakah ada yang salah?” tanyanya. Melihat raut sang sekretaris yang nampak terkejut membuatnya penasaran dengan apa yang tengah dirasakan oleh wanita itu.


“Bagaimana jika aku hamil?” tanya Gwen.


“Bagus, memang itu yang aku inginkan,” jelas Danzel seraya mengerlingkan sebelah matanya.


Danzel merubah posisi kepalanya menjadi di atas perut Gwen. Menciumi tubuh wanita itu dengan suka cita. “Tumbuhlah di sini, calon anakku,” harapnya. Tangannya mengelus lembut perut yang mulus itu.


Gwen masih belum bisa berkata apa-apa lagi. Secepat itu Danzel mempercayainya, tapi hatinya justru risau karena sudah pasti atasannya itu akan kecewa jika mengetahui kenyataan yang sebenarnya.


“Mommyku ingin melihatmu hamil keturunanku, Gwen. Itu persyaratannya agar mau memberikan restu pada hubungan kita,” terang Danzel. Setelah puas menciumi perut Gwen, dia kembali memeluk wanitanya.


“Apa kita tak bisa hidup seperti ini saja?” Bukannya Gwen tak mau menikah dengan Danzel. Sangat mau, tapi dia belum bercerai dan jika dilihat dari jawaban CEO muda itu tentang perceraian, ternyata tak membenarkan seorang istri meninggalkan suami yang seorang narapidana.

__ADS_1


“Kenapa? Apa kau tak ingin menikah denganku?” Danzel membelai pipi wanitanya dengan sorot mata terus terfokus pada wajah yang cantik berjarak satu jengkal.


Gwen menggeleng. Dia bingung harus bagaimana menjelaskan situasi ini. Untuk sesaat dia menyesal karena terlalu lemah dan tak berhasil cerai dengan Sanchez sejak dahulu. “Aku mau, sangat mau. Tapi tidak untuk waktu dekat ini,” balasnya.


Danzel menciumi seluruh wajah Gwen tanpa kecuali. “Tidak sekarang juga, Gwen. Setelah kau mengandung anakku, maka aku akan menikahimu,” tuturnya.


“Aku mengantuk, ingin tidur.” Gwen mencoba menghindari pembicaraan yang sensitif itu. Ia takut salah menjawab dan berakhir akan membuatnya kehilangan Danzel untuk selamanya.


Gwen membalas pelukan Danzel dan memejamkan matanya.


“Istirahatlah, Sayang. Aku akan rajin menebarkan bibit kehidupanku di tempatmu.” Danzel mengecup kening Gwen sangat lama dan ia ikut memejamkan mata.


Danzel sangat bersyukur bisa merasakan kebahagiaan setelah sekian lama mencoba mengubur hatinya dari cinta.


“Engh ....” Gwen melenguh saat merasakan ada bibir yang menyerangnya. Matanya seketika terbelalak karena Danzel sedang menciumnya.


Gwen reflek mendorong atasannya itu. “Masih pagi, Danzel. Bahkan kita belum sikat gigi,” protesnya.

__ADS_1


Danzel terkekeh. “Apakah mulutku bau?” Dia menyemburkan napas dari mulutnya ke wajah Gwen tanpa malu.


Gwen menahan napasnya. “Aku tak tahu, aku tak mau mencium baunya,” selorohnya.


Danzel pun menggelitiki Gwen hingga wanita itu menggeliat. “Kau harus menghirupnya, mulutku sangat wangi.” CEO Patt Group itu terus menyemburkan napas dari mulut ke hidung Gwen sampai menyerah.


Gwen mau tak mau menghirup aroma mulut Danzel, tubuhnya sudah lemas karena digelitiki.


“Bagaimana? Apakah bau?”


“Iya.”


Danzel melongo. “Serius?” Padahal dia sudah membeli pewangi mulut seharga tiga ribu euro agar tak bau sedikit pun bahkan saat bangun tidur.


Cup!


Gwen mengecup bibir atasannya. “Tapi bau wangi.”

__ADS_1


...*****...


...Semoga Danzel ga jadi sadboy lagi....


__ADS_2