
Disaat Danzel asyik memandangi setiap pergerakan Gwen yang lihai saat menyiapkan jus buah untuknya, ponselnya bergetar. Membuatnya berdecak sebal.
“Pasti mommy, wanita tadi jangan-jangan mengadu jika ku takut-takuti,” gumam Danzel. Dia mengeluarkan benda pipih canggihnya untuk mengecek orang yang menghubunginya.
Dan ternyata dugaannya salah. Steve lah yang menelepon. Akhirnya ia menyempatkan untuk mengangkat panggilan tersebut.
“Ada apa?” tanya Danzel.
“Sekretaris Anda baru saja kecelakaan dan meninggal di tempat, Tuan,” jawab Steve. Lima menit lalu dia mendapatkan kabar duka dari keluarga yang bersangkutan.
“Tolong kau wakilkan aku untuk ke rumah duka. Sekarang aku sedang ada urusan penting,” titah Danzel.
“Baik. Lalu, pekerjaannya yang belum selesai bagaimana?” tanya Steve.
“Bagaimana? Suruh dia bangkit dari kubur! Bisa-bisanya bertanya seperti itu disaat jenazahnya bahkan belum dimakamkan,” balas Danzel dengan nada bicara kesalnya.
“Maaf, Tuan. Saya hanya risau dengan proyek yang sedang ditangani olehnya.”
“Kita cari sekretaris baru lagi. Setelah pulang dari rumah duka, tolong kau buka lowongan pekerjaan. Jangan lupa ditambahkan kalimat yang menjelaskan jika perusahaan kita segera membutuhkan sekretaris yang handal,” titah Danzel.
__ADS_1
“Siap, Tuan. Segera dilaksanakan.” Steve menutup panggilan telepon dengan atasannya dan menjalankan semua perintah Tuan Danzel.
Pria muda berkharisma itu menghembuskan napasnya seraya memijat pelipis. “Di mana aku bisa temukan sekretaris yang kompeten seperti dia lagi?” gumamnya.
Kebingungan Danzel musnah seketika dikala Gwen meletakkan sebuah gelas berisi cairan berwarna putih. “Jus buah apel, kau suka?”
“Apa pun yang kau buat, pasti aku menyukainya,” timpal Danzel segera mengambil gelas tersebut untuk meminum jus yang terlihat sangat segar.
Gwen duduk lesehan di dekat meja ruang tamunya. Sebab sofanya hanya ada satu yang seharusnya muat untuk tiga orang dewasa. Tapi dia sungkan untuk mendaratkan pantat di samping Danzel.
“Kenapa kau di bawah, sini.” Danzel menepuk daerah di sampingnya. “Masih luas.”
Danzel pun tak enak jika berada di atas sofa sedangkan tuan rumah lesehan di bawah. Dia memilih untuk mengikuti jejak Gwen. Tak lupa menyempatkan untuk menatap ke seluruh penjuru apartemen kecil itu. Rasanya sangat sunyi. “Di mana anak-anakmu? Kenapa kau hanya sendirian?” tanyanya. Sedari tadi belum melihat batang hidung dua anak kecil yang lucu-lucu penghuni tempat tinggal itu.
“Sedang tidur.”
“Oh ....”
Tak ada percakapan untuk beberapa saat. Baik Gwen dan Danzel, keduanya sama-sama bingung ingin membicarakan apa. Suasana jadi terasa canggung untuk dua insan itu.
__ADS_1
“Em ... Danzel?” panggil Gwen.
“Ya?” Danzel begitu senang karena wanita pujaannya sepertinya memiliki topik pembicaraan.
“Maaf jika aku lancang,” ujar Gwen tiba-tiba.
Membuat Danzel mengernyitkan dahi bingung. “Untuk apa?”
“Tadi aku tak sengaja mendengarkan percakapanmu saat menelepon seseorang.” Gwen tak menunduk ataupun memalingkan pandangannya. Dia cukup sopan, saat mengobrol berani menatap mata lawan bicaranya. Tapi dengan sorot biasa saja, bukan melotot.
“Santai, lagi pula itu bukan percakapan rahasia.” Danzel kembali menenggak jusnya secara perlahan agar tak cepat habis.
“Boleh aku bertanya sesuatu?” tanya Gwen. Ia tak berani lancang mengutarakan maksud arah pembicaraannya sebelum mendapatkan persetujuan.
“Katakan saja.” Danzel melipat kedua tangannya di atas meja, menatap lekat wajah cantik dan dewasa seorang Gwen.
“Apa benar kau sedang membutuhkan sekretaris?”
“Iya.”
__ADS_1
“Boleh aku mendaftar juga? Tapi aku sudah lama tak bekerja.” Sedari tadi, Gwen hanya ingin menanyakan hal tersebut. Dia sangat butuh pekerjaan. Tapi karena indera pendengarannya menangkap jika yang dibutuhkan adalah seseorang yang handal, membuatnya ragu. Mengingat dia tak pernah bekerja kantoran setelah menikah.