
Danzel memang sengaja mengatakan kalau sudah menanam bibit di ladang milik Gwen. Walaupun sejujurnya belum berhasil karena usahanya tadi dikacaukan oleh Steve. Tapi yasudahlah, dia berbohong sedikit agar orang tuanya tak bisa menolak wanita pilihannya.
Reaksi Mommy Megan dan Gwen sama, mereka melongo dengan mata mendelik menatap Danzel. Keduanya terkejut. Sedangkan Daddy Marlin nampak biasa saja.
“Uncle, menanam bibit kehidupan itu apa artinya?” celetuk Aldrich sangat polos.
“Pft ....” Daddy Marlin menahan tawanya yang ingin meledak karena bocah cilik yang dia belum tahu siapa itu mendadak bertanya pada anaknya.
“Kita lihat bagaimana anakmu menjawab bocah itu,” bisik Daddy Marlin pada istrinya yang duduk di sebelahnya.
“Sial, aku ingin tertawa padahal sedang akting seperti calon mertua jahat yang tak merestui hubungan anaknya,” balas Mommy Megan lirih. Dia dan suaminya tak membiarkan obrolan sampai terdengar orang lain.
Aldrich sungguh mencairkan situasi di sana yang terasa tegang bagi Gwen. Kini semuanya sedang menatap ke arah bocah cilik itu.
“Danzel, kau ditanya, jawablah!” titah Daddy Marlin. Ia mengulum senyumnya seolah mengejek putra satu-satunya.
Danzel melihat kedua orang tuanya, mencebikkan bibirnya ke arah sang daddy yang terlihat jelas sedang menertawakannya walaupun tak secara terang-terangan. Ia menghirup dalam-dalam udara dan mencoba merangkai kata yang bagus untuk menjawab calon anak sambungnya.
“Uncle baru saja bertani dengan mamamu, boy,” jelas Danzel.
__ADS_1
“Bertani di mana uncle?” Aldrich tetap belum puas, bocah itu banyak sekali yang ditanyakan.
“Di ladang.”
“Ladang siapa?”
“Mamamu.”
Aldrich menatap ke arah Gwen. “Mama, kenapa tak mengajak aku,” rengeknya mengajukan protes.
“Pft ... haha ....” Daddy Marlin sudah tak kuat menahan tawanya. Lucu sekali ekspresi anaknya dan wanita pilihan Danzel saat menghadapi anak kecil yang sedang banyak ingin tahu.
“Dad, kita sedang berperan menjadi orang tua yang cool,” tegur Mommy Megan dengan suara lirih. Tangannya mencubit gemas paha suaminya.
Gwen mengelus lembut rambut putranya. “Mama tak punya ladang seperti yang kau pikirkan, Aldrich,” jelasnya.
“Tadi uncle Danzel mengatakan mama punya ladang,” protes Aldrich.
Danzel nampak menghela napasnya, tangannya menggaruk kepala yang mendadak gatal. “Apakah anak-anak selalu banyak ingin tahu seperti ini,” keluhnya mengeluarkan gumaman lirih.
__ADS_1
“Aldrich, Selena,” panggil Danzel.
“Yes, uncle?” sahut keduanya bersamaan.
“Kalian sudah selesai makan?” tanya Danzel.
“Sudah.” Selena dan Aldrich menunjukkan piring yang tadi terisi banyak makanan kini sudah kosong.
Danzel menggeser kursinya, berdiri dan berangsur mendekati anak-anak Gwen. Berjongkok diantara Selena dan Aldrich. “Kalian bermain dulu di luar, ya? Ditemani uncle Steve dan aunty Chimera, oke?” pintanya.
“Oke, uncle.” Selena yang memang penurut langsung menyetujui.
Sedangkan Aldrich, justru mengajukan pertanyaan lagi. “Kenapa harus keluar, uncle?”
“Karena uncle dan mama mau membicarakan urusan orang dewasa. Aldrich masih kecil, jadi bermain di luar dulu, ya?” Danzel mencoba menjelaskan dengan hati-hati agar tak ditimpali dengan pertanyaan lagi.
“Mainannya banyak?”
“Sangat banyak. Kalau kurang, nanti minta ke uncle Steve untuk beli di toko mainan yang ada di seberang hotel, oke?”
__ADS_1
“Siap, uncle.” Aldrich yang dibujuk membeli mainan pun akhirnya menurut juga.
Dua bocah itu meninggalkan ruangan VIP ditemani oleh Steve dan Chimera. Dan suasana di sana kembali sunyi dengan tatapan datar orang tua Danzel membuat semakin mencekam.